Mari Menimbang Hari Lahir Tirto Adhi Soerjo sebagai Hari Pers Nasional!

Bapak Pers Nusantara, RM Tirto Adhi Soerjo.
menitindonesia, JAKARTA — Setiap 9 Februari, Indonesia memperingati Hari Pers Nasional (HPN). Namun, tanggal ini terus menuai perdebatan di kalangan jurnalis dan pemerhati pers. Salah satu kritik yang mengemuka adalah: Hari Pers Nasional tidak bertumpu pada tokoh pers Nusantara, melainkan pada sejarah organisasi tertentu.
Dalam konteks ini, nama R.M. Tirto Adhi Soerjo kembali mengemuka sebagai figur yang dinilai paling layak menjadi fondasi simbolik hari pers Indonesia.
Tirto Adhi Soerjo dikenal luas sebagai pelopor pers nasional dan jurnalisme modern pribumi. Ia menjadikan pers bukan sekadar media informasi, melainkan alat perjuangan melawan ketidakadilan kolonial pada awal abad ke-20.
Pelopor Pers Pribumi
Tirto diperkirakan lahir pada 9 Februari 1880 di Blora, Jawa Tengah, meski tanggal pastinya masih menjadi perdebatan sejarawan karena minimnya arsip resmi. Namun, yang tidak diperdebatkan adalah perannya dalam sejarah pers Indonesia.
Pada 1907, Tirto mendirikan surat kabar Medan Prijaji, media yang dikelola oleh orang bumiputra dan secara terbuka membela kepentingan rakyat pribumi. Lewat media ini, Tirto mengkritik kebijakan kolonial, ketidakadilan hukum, serta praktik feodalisme yang menindas rakyat kecil.

BACA JUGA:
Catatan Hari Pers Nasional 2021: Bangkit Bersama di Masa Pandemi Melawan Tirani

Untuk pertama kalinya, pers digunakan secara sistematis sebagai alat advokasi dan pembelaan sosial. Inilah yang membuat banyak sejarawan menyebut Tirto sebagai Bapak Pers Nasional.
Berbeda dengan pers yang tumbuh dalam kedekatan dengan kekuasaan, pers yang diperjuangkan Tirto justru berdiri berhadap-hadapan dengan penguasa. Akibat tulisannya, ia mengalami tekanan, pembredelan media, hingga pembuangan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Model pers seperti inilah yang oleh banyak jurnalis dinilai merepresentasikan roh pers sejati: independen, kritis, dan berpihak pada kepentingan publik.
Karena itu, sebagian kalangan menilai penetapan Hari Pers Nasional seharusnya merujuk pada tokoh dan nilai, bukan pada hari lahir organisasi wartawan tertentu.
Relevansi Hari Lahir Tirto
Usulan menjadikan hari lahir Tirto sebagai Hari Pers Nasional muncul karena beberapa alasan:
  • Tirto adalah tokoh pers Nusantara, bukan representasi satu organisasi
  • Perjuangannya menegaskan pers sebagai pengawas kekuasaan
  • Nilai yang diwariskannya relevan dengan tantangan pers hari ini: independensi, keselamatan jurnalis, dan kebebasan berekspresi
Meski tanggal kelahirannya belum sepenuhnya pasti, para pendukung gagasan ini menilai substansi jauh lebih penting daripada kepastian administratif.
Pemerintah hingga kini tetap mempertahankan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional berdasarkan keputusan negara. Namun, perdebatan tentang makna hari pers terus berlangsung, terutama di tengah meningkatnya kekerasan terhadap jurnalis dan tantangan kebebasan pers.
Dalam konteks itulah, Tirto Adhi Soerjo kembali relevan. Bukan hanya sebagai nama dalam buku sejarah, tetapi sebagai pengingat bahwa pers lahir dari keberanian melawan ketidakadilan.
Jika Hari Pers Nasional dimaknai sebagai perayaan nilai-nilai tersebut, maka hari kelahiran Tirto Adhi Soerjo—sang perintis pers pribumi—dipandang banyak pihak sebagai simbol yang paling mendekati roh pers Indonesia.