Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Republik Indonesia Suwandi menyebut program Makan Bergizi Gratis mendorong perputaran ekonomi desa hingga Rp600 miliar per hari melalui sektor pangan, petani, peternak, dan pembudidaya ikan.
Program Makan Bergizi Gratis disebut bukan hanya agenda pemenuhan gizi, tetapi juga mesin penggerak ekonomi desa yang menyentuh petani, peternak, hingga pembudidaya ikan.
menitindonesia, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan efek berlapis. Selain diarahkan untuk memperkuat gizi masyarakat, program ini juga dinilai mendorong perputaran ekonomi nasional, terutama di sektor pangan dan kawasan pedesaan.
Kementerian Pertanian menyebut, dari total aktivitas ekonomi yang tercipta setiap hari melalui program tersebut, nilai perputaran uang diperkirakan mencapai Rp1 triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp600 miliar mengalir langsung ke sektor pangan yang melibatkan petani, peternak, pembudidaya ikan, dan pelaku usaha turunannya.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Suwandi, mengatakan kebutuhan pangan dalam skala besar telah menciptakan pasar baru yang stabil bagi para produsen di daerah. Menurut dia, kehadiran MBG menjadi momentum penting bagi kebangkitan ekonomi desa.
“Setiap ada aktivitas MBG, terjadi perputaran uang besar setiap hari. Sebagian besar masuk ke sektor pangan, artinya bergerak di petani, peternak, pembudidaya ikan, dan lainnya,” ujar Suwandi dalam diskusi satu tahun perjalanan MBG di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Dari Meja Makan ke Sawah dan Kandang
Kebutuhan beras untuk MBG terus meningkat seiring bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pada 2025, kebutuhan beras tercatat sekitar 360 ribu ton dengan nilai Rp5,16 triliun. Tahun 2026, angka itu melonjak menjadi 1,99 juta ton dengan nilai lebih dari Rp30 triliun.
Tak hanya beras, kebutuhan komoditas lain juga ikut terdongkrak. Telur ayam diproyeksikan mencapai 1,37 juta ton, daging ayam sekitar 990 ribu ton, sayuran 2,48 juta ton, dan buah-buahan 2,5 juta ton sepanjang 2026.
Bagi sektor pertanian, lonjakan permintaan ini menjadi sinyal penting bahwa pasar domestik dapat menjadi penopang utama produksi nasional. Ketika serapan terjaga, harga di tingkat produsen cenderung lebih stabil dan pendapatan petani ikut terdorong.
Pemerintah juga menilai dampak lanjutan program ini terlihat pada indikator kesejahteraan. Nilai Tukar Petani (NTP), yang kerap dipakai sebagai ukuran daya beli petani, menurut data Badan Pusat Statistik mencapai 125,45 pada Februari 2026. Angka itu disebut sebagai salah satu level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Di sisi lain, rasio gini pedesaan pada September 2025 tercatat 0,295, menandakan kesenjangan ekonomi di desa cenderung menurun.
Jika tren ini berlanjut, MBG berpotensi menjadi salah satu program yang tidak hanya mengenyangkan meja makan, tetapi juga menghidupkan sawah, kandang ternak, kolam ikan, dan denyut ekonomi desa Indonesia