Catatan Hari Pers Nasional 2021: Bangkit Bersama di Masa Pandemi Melawan Tirani

(Chief Editor Menit Indonesia)
Oleh Andi Esse Nabila Saskia
(Pimpinan Redaksi menitindonesia.com/Anggota SMSI Sulsel)
Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2021, diperingati di tengah suasana pandemi Covid-19. Tentu acaranya tak semeriah tahun sebelumnya. Kali ini, HPN di pusatkan di Jakarta dengan tema tepat: “Bangkit dari Pandemi”
Energi dari kata “Bangkit” ini, sangat bertenaga mengangkat imunitas jurnalisme untuk terus bergerak mengawal agenda bangsa di masa pandemi. Suka atau tak suka, fungsi kontrol pers nasional harus menjadi bahan baku “vaksin” pengawasan publik terhadap pengelolaan kebijakan, mengatasi multi krisis akibat dampak pandemi covid yang tak kunjung usai.
Hanya saja, dalam menjalankan fungsi dan peran idealisnya itu, masih banyak pihak yang menyepelekan peran strategis pers nasional. Padahal, tanpa disadarinya, dalam perkembangan teknologi yang melesat pesat, pers bermetamorfosis menjadi kekuatan control yang jangakaunnya tak terbatas.
Pers telah mengalami distruption. Sistim digitalisasi, mengubah secara massif kebiasaan pembaca: dari surat kabar (cetak) beralih ke media siber (online). Sistim informasi digital diadaptasi dengan cepat oleh industri pers. Adaptasi ini dibarengi dengan kemampuan teknologi digital dalam lingkungan kerja para jurnalis.
Di era teknologi informasi ini, pers nasional banyak yang beralih ke media siber. Sistim  cetak ditinggalkan, industri media cetak pun, satu per satu, mulai bangkrut.
Dalam kondisi seperti itu, jurnalis dituntut untuk berkembang mengikuti era informasi digital yang sangat pesat. Jurnalis harus menjadi manusia super digital: cepat dan tepat dalam menyajikan informasi, melampaui kecepatan mesin ketik yang sudah lama usang, tak terpakai.
Kemampuan industri pers yang muncul dengan mengadaptasi perkembangan teknologi digital, menjadi boster (pendorong) pers bangkit dia abad 21. Pers menjelma menjadi kekuatan publik yang tidak bisa lagi dibendung. Karya jurnalistik  masuk menyelusup ke ruang-ruang publik tanpa batas.
Media digital, yang dikenal dengan sebutan media siber (online) mau tak mau berdampak bagi kebebasan pers. Di beberapa negara–yang nasibnya sial karena dipimpin seorang diktator–kebebasan pers yang tumbuh secara alami di era informasi digital, dihadapi dengan kekerasan hingga ancaman pembunuhan terhadap jurnalis.
Ancaman terhadap kebebasan pers, di era informasi digital ini, juga mengalami peningkatan: selalu ada release berita jurnalis dikriminalisasi bahkan ada yang diteror dan dibunuh. Karya (karya) jurnalistik dihadapi dengan kekerasan dan berbagai tindakan kriminalisasi, sehingga indeks demokrasi mengalami penurunan tajam.
Momentum hari pers nasional 9 Februari 2021 dengan tema “Bangkit Dari Pandemi dan Krisis Ekonomi” harus ditambah lagi menjadi: “Bangkit dan Bersatu Melawan Tirani”.
Kebebasan Pers, meskipun merupakan keharusan zaman di era informasi digital, harus dikelolah dengan profesional. Salah satu syarat utamanya: pers menghadirkan jurnalis yang memiliki kemampuan mengolah informasi yang benar dan mencerdaskan masyarakat. Pers nasional harus melawan hoaks, sebab hoaks adalah salah satu virus yang bisa merusak tatanan pers bebas yang sendang tumbuh secara alami.
Selamat merayakan Hari Pers Nasional. Ayo kita bangkit bersama!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini