Pajak Tembus Rp394,8 Triliun, Ekonomi RI Disebut Makin Bergairah

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Penerimaan pajak pada Triwulan I 2026 mencapai Rp394,8 triliun atau tumbuh 20,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut lonjakan tersebut menjadi sinyal kuat membaiknya aktivitas ekonomi nasional sejak awal tahun.
“Kenaikan penerimaan pajak mengonfirmasi bahwa ekonomi kita sedang mengalami perbaikan,” ujarnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).
Purbaya menjelaskan, pertumbuhan penerimaan pajak terutama ditopang oleh lonjakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang tumbuh signifikan hingga 57,7 persen secara tahunan menjadi Rp155,6 triliun.
“PPN dan PPnBM tumbuh tinggi, ini menandakan aktivitas ekonomi jauh lebih sibuk dibandingkan tahun lalu,” jelasnya.
Selain itu, berbagai jenis Pajak Penghasilan (PPh) juga mencatat peningkatan, mulai dari PPh Badan, PPh Orang Pribadi, hingga PPh 21, PPh Final, PPh 22, dan PPh 26.

BACA JUGA:
Prabowo ke Pengusaha Jepang: Ada Masalah Investasi, Laporkan ke Saya

PPh Orang Pribadi dan PPh 21 bahkan tumbuh 15,8 persen, yang mencerminkan peningkatan pendapatan masyarakat dan aktivitas tenaga kerja.
Menurut Purbaya, peningkatan penerimaan pajak juga tidak lepas dari upaya pemerintah dalam mendorong kepatuhan wajib pajak secara lebih terintegrasi.
“Pemerintah terus memperkuat regulasi perpajakan agar lebih adil dan memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha,” ujarnya.
Secara keseluruhan, pendapatan negara pada Januari hingga Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan.
Di sisi lain, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp815 triliun, sehingga defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Purbaya menegaskan, defisit tersebut masih dalam batas aman dan merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Defisit itu normal, apalagi ini bagian dari percepatan belanja untuk mendorong ekonomi sejak awal tahun,” katanya.
Ia menambahkan, penyerapan anggaran pada Triwulan I 2026 mencapai 21,2 persen, lebih tinggi dari rata-rata periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya yang sekitar 17 persen.
Pemerintah memastikan akan tetap menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan defisit APBN di bawah 3 persen dari PDB.
“Ini by design. Percepatan belanja dilakukan agar memberi kontribusi kuat pada pertumbuhan ekonomi di awal tahun,” pungkasnya.