Relawan Asal Sulsel Ditahan Israel, Pemprov Bergerak Koordinasi dengan Pemerintah Pusat

Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman (ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mulai bergerak merespons penahanan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) oleh militer Israel dalam misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza. Salah satu relawan yang dilaporkan ikut ditahan merupakan warga asal Sulsel, Andi Angga Prasadewa.
Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, memastikan pihaknya segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat sekaligus membangun komunikasi dengan keluarga relawan tersebut.
Menurut Andi Sudirman, pola penanganan yang ditempuh akan serupa dengan kasus warga Sulsel yang sebelumnya sempat disekap perompak Somalia.
“Ya, kita seperti yang dulu, yang kemarin ada juga ditawan sama perompak Somalia, kita juga sudah berkomunikasi dengan kementerian. Bapak Wamen waktu itu menelepon langsung dan bicara langsung dengan keluarga korban. Ini juga kita akan seperti itu,” ujar Andi Sudirman, Kamis (21/5/2026).

BACA JUGA:
Dihadiri Ketua Kwarda Sulsel, Pelantikan Gerakan Pramuka Maros Berlangsung Meriah

Ia menegaskan pemerintah daerah tidak akan bergerak sendiri dalam menangani persoalan tersebut. Koordinasi lintas lembaga, kata dia, menjadi langkah penting agar upaya penanganan terhadap WNI yang ditahan berjalan terarah.
“Kita akan tempuh jalur-jalur kepada yang berwenang, tapi tetap dikoordinasikan dengan keluarga korban. Harus ada aksi yang terkoordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” katanya.
Selain koordinasi dengan pemerintah pusat, Pemprov Sulsel juga menyiapkan langkah pendampingan terhadap keluarga relawan asal Sulsel tersebut.
Andi Sudirman mengaku akan menugaskan kepala dinas terkait untuk membuka komunikasi langsung dengan pihak keluarga sambil menunggu data dan laporan resmi yang masuk.
“Saya akan menugaskan kepala dinas dan biasanya kita akan telepon. Kemarin saya bicara langsung dengan keluarga korban. Ini karena kita masih menunggu dulu data-data semua pelaporannya,” tambahnya.
Sebelumnya, berdasarkan kronologi yang dirilis Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, terdapat sembilan WNI yang tergabung dalam aliansi kemanusiaan internasional Freedom Flotilla Coalition dalam misi pengiriman bantuan medis menuju Jalur Gaza melalui jalur laut.
Dari sembilan relawan tersebut, lima WNI dilaporkan diamankan militer Israel, sementara empat lainnya masih melanjutkan pelayaran menggunakan dua kapal berbeda dalam rombongan misi kemanusiaan itu.
Kasus ini menjadi perhatian internasional setelah pelayaran bantuan menuju Gaza dilaporkan dihentikan oleh militer Israel. Misi tersebut diketahui membawa bantuan logistik dan perlengkapan medis untuk warga sipil di wilayah konflik.