Petugas Damkar Maros mengevakuasi seekor ular king kobra dari permukiman warga. (ist)
MAROS — Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Maros mencatat sebanyak 120 ekor ular berhasil dievakuasi dari permukiman warga sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Dari jumlah tersebut, enam ekor di antaranya merupakan ular kobra yang dikenal memiliki bisa berbahaya.
Tingginya angka penemuan ular itu membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di sekitar kebun, semak belukar, maupun area yang berpotensi menjadi tempat persembunyian reptil tersebut.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Informasi serta Pengolahan Data Damkar Maros, Muhammad Ilham Halimsyah, mengatakan laporan kemunculan ular paling banyak berasal dari Kecamatan Tanralili.
Selain Tanralili, sejumlah kasus penemuan ular juga tercatat di Kecamatan Bantimurung dan Mandai.
“Kalau data yang kami terima, paling banyak itu di Tanralili. Kemudian kemarin juga ada beberapa yang kita amankan di Bantimurung dan Mandai,” kata Ilham, Selasa (9/6/2026).
Menurut dia, meningkatnya kemunculan ular di kawasan permukiman diduga dipengaruhi kondisi cuaca panas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Perubahan suhu lingkungan tersebut membuat habitat alami ular terganggu sehingga hewan melata itu keluar mencari tempat yang lebih sejuk.
“Barangkali juga ada kaitannya dengan kondisi cuaca panas. Bisa jadi karena habitatnya terganggu atau kondisi tanah yang lebih panas dari biasanya sehingga ular keluar mencari tempat yang lebih sejuk,” ujarnya.
Selain faktor cuaca, ular juga diduga keluar dari habitatnya karena mencari sumber makanan. Berkurangnya mangsa di alam liar dan perubahan lingkungan menjadi faktor lain yang mendorong ular mendekati kawasan permukiman.
“Selain itu, ular juga keluar karena mencari mangsa. Jadi memang ada beberapa faktor yang mempengaruhi,” tambahnya.
Ilham menegaskan setiap laporan masyarakat terkait kemunculan ular langsung ditindaklanjuti oleh petugas Damkar. Tim evakuasi diterjunkan untuk mengamankan ular agar tidak membahayakan warga.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Maros, Jufri, mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi kemunculan ular, khususnya pada musim panas.
Ia meminta warga yang tinggal di sekitar kebun, lahan kosong, semak belukar, maupun lingkungan dengan vegetasi lebat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas.
“Kami mengimbau masyarakat agar selalu waspada, terutama saat beraktivitas di area yang rawan menjadi tempat persembunyian ular seperti kebun, semak, atau tumpukan barang di sekitar rumah,” kata Jufri.
Ia juga mengingatkan warga agar tidak mencoba menangkap ular sendiri jika menemukannya di rumah atau lingkungan sekitar. Masyarakat diminta segera menghubungi petugas Damkar agar proses evakuasi dapat dilakukan secara aman.
Dengan jumlah penangkapan yang mencapai 120 ekor hanya dalam enam bulan, Damkar Maros menilai kewaspadaan masyarakat menjadi faktor penting untuk mencegah terjadinya kasus gigitan ular yang dapat mengancam keselamatan warga.