Taruna Ikrar dan Kampus: Ketika Seorang Pejabat Negara Kembali Menyapa Dunia Mahasiswa

Taruna Ikrar berdialog dengan mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya), menjelaskan visi Indonesia Emas 2045, hilirisasi industri, dan pentingnya inovasi kampus dalam membangun kemandirian nasional. Dialog berlangsung kritis, hangat, dan penuh gagasan.
Oleh Akbar Endra
(Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Medsos dan Humas)
menitindonesia, ESEI — Minggu pagi, 14 Juni 2026, saya mendapat tugas mendampingi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., dalam kunjungan kerja ke Surabaya. Bagi saya, perjalanan ini awalnya tampak seperti agenda rutin seorang pejabat negara yang menghadiri sejumlah kegiatan di daerah. Namun dua hari mendampingi Taruna Ikrar di Surabaya justru menghadirkan pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam tentang hubungan antara kampus, mahasiswa, dan seorang pemimpin yang tidak pernah benar-benar meninggalkan akar intelektualnya.
Perjalanan hari itu tidak berjalan mulus. Pesawat yang kami tumpangi dari Jakarta sempat mengalami gangguan saat hendak lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Seluruh penumpang diminta turun kembali ke terminal. Kami menunggu lebih dari dua jam hingga akhirnya penerbangan dapat dilanjutkan. Dalam situasi seperti itu, agenda sering kali berubah. Waktu menjadi sempit. Energi terkuras. Namun saya tidak melihat perubahan raut wajah ataupun berkurangnya semangat untuk menjalankan seluruh rangkaian kegiatan yang telah disusun sebelumnya.
BACA JUGA:
Prabowo dan Presiden Jerman Sepakat Tingkatkan Perdagangan dan Investasi
Setibanya di Surabaya sekitar pukul 13.00 WIB, rombongan langsung bergerak menuju Universitas Hayam Wuruk Perbanas (UHW). Tidak ada jeda panjang untuk beristirahat. Yang menanti adalah sebuah pertemuan dengan akademisi dan mahasiswa, kelompok yang sejak lama memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan hidup Taruna Ikrar.
Di kampus itu saya menyaksikan sesuatu yang menarik. Hari itu adalah hari Minggu. Sebagian besar mahasiswa biasanya memanfaatkan akhir pekan untuk beristirahat atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman mereka. Namun aula tempat kuliah umum berlangsung dipenuhi peserta. Rektor dan jajaran pimpinan universitas hadir menyambut. Para dosen memenuhi ruangan. Yang paling mencuri perhatian saya adalah antusiasme mahasiswa yang datang bukan karena kewajiban akademik, melainkan karena ingin mendengar, berdiskusi, dan berdialog.
Dalam kuliah umumnya, Taruna Ikrar berbicara tentang masa depan Indonesia. Ia berbicara tentang pentingnya riset, inovasi, hilirisasi, dan perlunya membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha. Menurutnya, bangsa yang besar tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sebuah negara harus mampu menguasai ilmu pengetahuan, mengembangkan teknologi, dan mengubah hasil penelitian menjadi produk yang memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus memiliki daya saing global.
Menariknya, berbagai gagasan besar tersebut tidak disampaikan dengan bahasa birokrasi yang rumit. Taruna Ikrar menerjemahkan visi besar Presiden Prabowo Subianto tentang kemandirian nasional, ketahanan pangan, hilirisasi industri, penguasaan teknologi, dan pembangunan sumber daya manusia unggul ke dalam bahasa yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Ia menjelaskan bagaimana kampus memiliki peran strategis dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Di hadapan mahasiswa, visi pembangunan nasional tidak terdengar sebagai slogan politik, melainkan sebagai tantangan intelektual yang menunggu untuk dijawab oleh generasi muda.
Keesokan harinya, Senin, 15 Juni 2026, setelah mengunjungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), perjalanan berlanjut ke Universitas Surabaya (Ubaya). Kehadiran Kepala BPOM RI kembali mendapat sambutan hangat dari rektor, akademisi, dan ratusan mahasiswa yang memenuhi ruang kuliah umum. Sejak awal acara hingga berakhir, suasana dialog berlangsung hidup. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Sejumlah mahasiswa menyampaikan pandangan kritis mengenai berbagai isu, mulai dari kebijakan publik, pengembangan industri farmasi nasional, keamanan pangan, hingga tantangan Indonesia dalam menghadapi kompetisi global.
Perdebatan pun terjadi. Namun perdebatan itu berlangsung dalam tradisi akademik yang sehat. Argumentasi diuji dengan argumentasi. Gagasan dipertemukan dengan gagasan. Tidak ada upaya saling menjatuhkan. Yang terlihat justru semangat untuk saling memahami dan mencari solusi terbaik atas berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.

Picsart 26 06 17 09 13 09 370 11zon e1781662849892

Aktivis 1998 yang Tak Pernah Pergi dari Kampus

Di tengah forum-forum seperti itulah saya melihat sesuatu yang mungkin tidak selalu tertangkap dalam laporan resmi sebuah kunjungan kerja. Taruna Ikrar memang hadir sebagai Kepala BPOM RI, seorang pejabat negara yang memimpin lembaga strategis dengan tanggung jawab besar dalam melindungi kesehatan masyarakat. Namun ketika berada di hadapan mahasiswa, saya melihat sosok yang berbeda. Saya melihat seorang mantan aktivis yang tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia kampus.
BACA JUGA:
Di UBAYA, Taruna Ikrar Ungkap Strategi BPOM Menembus Valley of Death Inovasi
Pada saat yang hampir bersamaan, saya sempat memikirkan berbagai dinamika yang terjadi di kampus-kampus lain di Indonesia. Kampus memang memiliki karakter yang unik. Ia adalah ruang kebebasan berpikir. Tempat lahirnya kritik. Tempat tumbuhnya idealisme. Karena itu, setiap pertemuan antara pejabat negara dan mahasiswa selalu menghadirkan cerita yang berbeda-beda.
Pengalaman di Surabaya mengingatkan saya pada satu hal sederhana. Mahasiswa tidak selalu dapat disentuh melalui jabatan, kekuasaan, atau otoritas formal. Mereka juga tidak mudah diyakinkan hanya dengan tumpukan data dan argumentasi akademik. Mahasiswa adalah makhluk idealisme. Mereka ingin memahami, tetapi sebelum itu mereka ingin merasa dipahami.
Barangkali di situlah letak kekuatan Taruna Ikrar ketika berhadapan dengan mahasiswa. Ia tidak memulai percakapan dari kursi kekuasaan yang sedang didudukinya sebagai Kepala BPOM RI. Ia memulai dari pengalaman hidup yang pernah ia jalani sendiri sebagai aktivis kampus. Ia membangun kedekatan emosional terlebih dahulu. Ia menyentuh nurani mahasiswa sebelum mengajak mereka memasuki ruang dialog yang penuh dengan gagasan, argumentasi, dan pemikiran kritis.
Saya teringat kisah-kisah tentang perjalanan Taruna Ikrar ketika memimpin Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Makassar. Saya teringat cerita tentang dinamika gerakan mahasiswa era 1998 yang melahirkan banyak pemimpin nasional saat ini. Pengalaman itu tampaknya masih hidup dalam dirinya. Ia memahami bahwa mahasiswa tidak ingin hanya diberi jawaban. Mereka ingin mengetahui alasan di balik sebuah kebijakan. Mereka ingin menguji gagasan. Mereka ingin berdialog secara setara.
Karena itulah Taruna Ikrar tidak berbicara kepada mahasiswa dari posisi kekuasaan. Ia berbicara sebagai sesama insan kampus yang memahami kegelisahan intelektual mereka. Ketika menjelaskan berbagai kebijakan, ia tidak berlindung di balik jabatan. Ia menggunakan logika, pengalaman, data, dan visi yang menurutnya penting untuk dipahami oleh generasi muda. Pendekatan seperti itu membuat mahasiswa merasa dihargai sebagai mitra dialog, bukan sekumpulan audiens yang hanya mendengarkan komunikasi satu arah.
Saya melihat bagaimana perhatian mahasiswa tetap terjaga sepanjang forum berlangsung. Mereka mencatat, bertanya, menyanggah, dan merespons berbagai gagasan yang disampaikan. Dalam beberapa momen, saya menangkap ekspresi yang menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memahami substansi pembicaraan, tetapi juga merasakan semangat yang ingin ditularkan. Ada energi intelektual yang mengalir dalam ruangan. Ada optimisme yang tumbuh ketika pembahasan mengarah pada masa depan Indonesia.
Ketika berbicara tentang industri farmasi dan pangan, Taruna Ikrar tidak hanya menjelaskan fungsi BPOM sebagai regulator. Ia mengajak mahasiswa membayangkan Indonesia yang mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju dalam bidang inovasi. Ia berbicara tentang pentingnya membangun ekosistem yang mempertemukan kampus, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha agar hasil-hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi berkembang menjadi produk yang bernilai ekonomi dan memberi manfaat luas bagi masyarakat. Di balik gagasan itu tersimpan keyakinan bahwa Indonesia tidak boleh terus berada pada posisi sebagai pasar bagi produk bangsa lain. Indonesia harus menjadi pencipta, inovator, dan pemain utama di tingkat global.
Dalam dua hari perjalanan tersebut, saya merasakan bahwa yang terbangun bukan hanya komunikasi antara pejabat negara dan mahasiswa. Yang terbangun adalah koneksi intelektual dan emosional. Taruna Ikrar berbicara kepada akal mahasiswa melalui argumentasi dan data, tetapi pada saat yang sama ia juga menyentuh nurani mereka melalui gagasan besar tentang masa depan bangsa. Di ruang-ruang dialog itu, saya melihat bagaimana idealisme generasi muda bertemu dengan pengalaman seorang pemimpin yang pernah melewati jalan yang sama puluhan tahun lalu.
Di tengah derasnya arus informasi dan semakin lebarnya jarak antara pengambil kebijakan dan generasi muda, kampus tetap menjadi ruang yang jujur. Di ruang itu, jabatan tidak selalu menjadi faktor penentu. Mahasiswa tidak mudah terkesan oleh atribut kekuasaan. Mereka lebih menghargai ketulusan, argumentasi, dan keberanian berdialog. Selama dua hari di Surabaya, saya melihat bagaimana Taruna Ikrar memahami bahasa itu. Ia tidak datang untuk mengajar mahasiswa tentang kehidupan. Ia datang untuk berbagi pengalaman, mendengarkan kegelisahan mereka, dan mengajak mereka bersama-sama memikirkan masa depan Indonesia.
Dari Surabaya, saya pulang dengan keyakinan bahwa hubungan antara negara dan kampus harus terus dirawat. Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang dialog yang mempertemukan pengambil kebijakan dengan generasi muda. Sebab dari ruang-ruang seperti itulah lahir pemahaman, kolaborasi, dan harapan.
Selama dua hari di Surabaya, saya tidak hanya melihat seorang Kepala BPOM RI berbicara di hadapan mahasiswa. Saya melihat seorang mantan aktivis yang tetap percaya bahwa kampus adalah tempat terbaik untuk menyalakan harapan. Sebab dari ruang-ruang dialog seperti itulah lahir gagasan, lahir inovasi, dan lahir generasi yang suatu hari akan membawa Indonesia berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar dunia.