Pakar Komunikasi Politik Unhas Nilai DP Ambisius, Hasrullah: Demi Keuntungan Politik, Kawan Setiapun Dikhianati

Kontoversi Sikap Inkonsistensi Danny Pomanto dalam berpolitik, dinilai oleh DR. Hasrullah sebagai sikap yang tak berkepribadian. Bahkan, terkesan sangat ambisius.

menitindonesia.com, MAKASSAR – Gonjang-ganjing politik jelang Pilkada Kota Makassar, 9 Desember 2020, nanti, makin panas. Mohammad Ramadhan “Danny” Pomanto, tak kunjung usai menerima kritikan dan sorotan.

Berawal dari kontroversi politik Danny Pomanto yang dinilai melecehkan sejumlah tokoh di Sulsel. Tak aling-aling, Politikus senior Partai Nasdem, Akbar Faisal, pun bicara. Ia mengunggah ketersinggungannya, karena Partai Nasdem yang membesarkan dirinya, telah dilecehkan.

Baca : https://menitindonesia.com/2020/07/10/catatan-untuk-dani-dan-mereka-yang-bernama-politisi/

Pakar Komunikasi Politik Universitas Hasanuddin, DR. Hasrullah, menilai DP termasuk sosok yang sangat ambisius menghadapi Pilkada Kota Makassar. “Terkesan DP ini sangat ambisius meraih kursi walikota. Sebagai incumbent tidak perlu kesan itu muncul apalagi Danny sudah mempunyai pengalaman di periode pertama,” ujar Dosen Komunikasi Politik Universitas Hasanuddin itu.

Hasrullah menambahkan, bahwa selama ini DP (akronim panggilan nama Danny Pomanto) sangat piawai meninggalkan komitmen politik yg telah disepakati. “Olehnya integritas politik DP selalu mencari keuntungan politik jika tidak terpenuhi ekspektasinya. Kawan sejatipun dia khianati,” ujar peraih gelar Doktor bidang komunikasi Universitas Indonesia itu.

Mantan Staf Dewan Pertimbangan Presiden 2007-2010 ini, mengkritik model komunikasi politik DP yang dianggapnya bermuka banyak. “DP piawai membingungkan kawan maupun lawan. Dampaknya muncullah penilaian negatif, semisal melecehkan partai, mempaketkan kepalsuan, dan jati dirinya inkonsisten (hipokrit). Dampak negatif tentu ke DP, akibat kekecewaan politik itu menimbulkan persepsi di publik kurang simpatik,’ ujar Hasrullah menilai.

Hasrullah yang juga mantan Anggota Dewan Pakar Komunikasi Politik Indonesia Tahun 2009-2014, mengatakan bahwa dalam setiap Perebutan Kekuasaan, jati diri dan konsistensi politik menjadi branding personal yg utama. “Kalau cara DP selalu bermanuver tajam dan sikapnya selalu pindah partai dan pasangan, akan menimbulkan antipati dan tidak simpatik, malah akan menurunkan reputasi dirinya,” kata penulis buku Pertarungan Elit dalam Bingkai Media, itu. (tim-nabila)



TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini