Jubir Appi-Rahman Tak Percayai Hasil Survei CRC

Fadli Noor - Juru Bicara Tim Appi-Rahman. (Foto: Istimewa)
Sering meleset – Hasil survei yang direlease Celebes Research Centre (CRC) terkait Pilkada Kota Makassar, ditepis oleh Fadli Noor. Ia mengingatkan, jika CRC sering salah dalam melakukan survei. Fadli menyontohkan kasus Pilkada Wajo dan Takalar. Hasil akhirnya, “Bertolak belakang dengan survei CRC,” kata Fadli.
menitindonesia.com, MAKASSAR – Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Makassar, Munafri Arfuddin-Rahman Bando, menanggapi hasil survei yang dirilis lembaga survei CRC. Juru Bicara Appi-Rahman, Fadli Noor, menyebut hasil survei CRC sering meleset dengan hasil akhir.
Fadli mengambil contoh Pilkada Wajo dan Pilkada Takalar. Tak tanggung-tanggung, survei yang dirilis CRC bahkan meleset jauh dari hasil akhirnya. “CRC setahu saya pernah survei di Pilkada Wajo 2018 menempatkan Pammase hanya 34,3%. Tapi ternyata menjadi pemenang dengan 57,95%. Jauh meleset dari survei CRC,” papar Fadli, Senin (12/10/2020).
“Sebelumnya di Pilkada Takalar 2017, hasil survei CRC juga jauh panggang dari api. Angka CRC menunjukkan pasangan SK-HD hanya memperoleh 29,8%. Namun pleno KPU menunjukkan kemenangan SK-HD dengan 50,58%. Lagi-lagi jauh sekali melesetnya. Ini faktanya begitu,”lanjut politisi PSI Sulsel ini.
Seperti yang diketahui, CRC merilis survei Pilwalkot Makassar 2020 yang menempatkan pasangan Adama di posisi teratas dengan 40,4%. Appi-Rahman di nomor 2 dengan 23,5%. Menyusul pasangan Dilan 14,0% dan terakhir None-Zunnun 6,5%.
Hasil survei CRC ini berbeda dengan dua lembaga survei lainnya. Yakni Indeks Politica Indonesia atau IPI dan Profetik Institue. IPI menempatkan Adama di posisi pertama dan Appi-Rahman di posisi 2. Tapi selisihnya tidak jauh. Bahkan presentase Appi-Rahman cenderung naik, dan Adama tetap di tempat. Sementara survei Profetik Indonesia, Appi-Rahman di posisi pertama dengan presentase 35,8% dan Adama 34,5%.
“Kami tidak terlalu peduli dengan hasil survei yang dikeluarkan lembaga lain. Mengingat kami pun menjalankan survei internal menggunakan beberapa lembaga survei nasional untuk memotret progress dari upaya elektoral yang kami lakukan,”papar Fadli lagi.
“Klaim elektoral itu seringkali keliru dan menyesatkan publik yang tidak paham membaca survei. Bagi kami di Appi-Rahman, rekam jejak lembaga survei menjadi pertimbangan utama dalam menggunakan output surveinya untuk membaca progress capaian elektoral,”demikian Fadli. (aliamin)


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini