Pasca Bocornya Rekaman Danny Pomanto, Mahfud MD: Sejak Awal Pemerintah Dukung KPK Menangkap Koruptor

Menko Polhukam RI, Mahfud MD. (Foto Istimewa).
Pemerintah dukung KPK – Analisa calon walikota Makassar Danny Pomanto terkait penangkapan Edhy Prabowo membuat gaduh. Pernyataan Danny dinilai merendahkan KPK dan memecah belah tokoh nasional. “KPK perlu mengklarifikasi dan membersihkan dirinya dari tuduhan Danny Pomanto,” kata Husain Abdullah.
menitindonesia, MAKASSAR – Beredarnya Video dan rekaman percakapan calon walikota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, yang menyimpulkan penangkapan Eddhy Prabowo didalangi oleh mantan Wapres RI Jusuf Kalla, menimbulkan geger nasional. Informasi berantai tersebut, juga telah sampai ke Menteri Koordinator Polhukam RI, Mahfud MD dan KPK RI.
Bahkan Mahfud MD, ikut bersuara terhadap langkah-langkah pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh KPK. Dia bilang, selama ini, pemerintah justeru mendukung langkah-langkah KPK menangkap dan memburu para koruptor di institusi-institusi Pemerintah, termasuk di KKP, Kemensos, OTT Pemda, dan lain-lain.
“Sejak awal Presiden sudah meminta agar KPK, Kejagung, dan POLRI tidak rikuh memerangi korupsi asalkan benar dan profesional,” kata Mahfud MD.
Pernyataan Mahfud tersebut adalah support moril terhadap KPK. “Bravo KP,” ucap Mahfud.
Sebelumnya, diketahui beredar rekaman suara Danny Pomanto. Dalam percakapan itu, Danny menyebutkan bahwa ada peran Jusuf Kalla di balik penangkapan Edhy Prabowo oleh KPK. Ia menyebut, yang paling diuntungkan dalam penangkapan tersebut adalah JK.
Pernyataan Danny tersebut, memicu reaksi dan polemik di tengah-tengah masyarakat. Juru Bicara JK, Husain Abdullah mengecam pernyataan Danny tersebut. “Danny tentu akan berhadapan dengan hukum. Apalagi melibatkan KPK, sehingga KPK pun perlu mengklarifikasi dan membersihkan dirinya dari tuduhan Danny Pomanto,” kata dia.
Husain menilai, masalah yang dimunculkan Danny dalam rekaman suara tersebut, juga sangat merendahkan KPK yang prestasinya menangkap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.
“Danny telah mencederai kerja keras KPK. Yang tidak kalah bahayanya, Danny telah mengadu domba tokoh-tokoh nasional. Yang bisa berdampak buruk terhadap hubungan antar elite yang selama ini berjalan baik,” kata Husein.
Dihubungi secara terpisah, Danny Pomanto pun mengakui bahwa suara tersebut adalah miliknya. Hanya, Danny menyebut perbincangan tersebut hanyalah sebuah analisa politik dan perbincangan lepas dirinya dengan beberapa orang.
“Jadi itu adalah percakapan di dalam rumah saya. Dalam rumah saya orang rekam. Jadi sebenarnya itu adalah percakapan biasa, analisis politik dan hak setiap orang kan begitu. Sebenarnya saya korban ini. Kenapa ada yang rekam dan sebar. Aneh,” kata Danny.
Berikut transkrip lengkap rekaman yang diduga mirip suara Danny Pomanto yang menyindir JK dan membawa nama Jokowi, Prabowo hingga KPK:

Makanya kalau urusannya Edhy Prabowo ini, kalau Novel (Baswedan) yang tangkap, itu berarti JK (Jusuf Kalla). JK-Anies tuh. Maksudnya kontrolnya di JK. Artinya begini, dia sudah menyerang Prabowo. Yang kedua, nanti seolah-olah Pak Jokowi yang suruh, Prabowo dan Jokowi baku tabrak. Ini kan politik.

Kemudian mengalihkan (isu) Habib Rizieq. Ini mau digeser JK dan Habib Rizieq. JK yang main, karena JK yang paling diuntungkan dengan tertangkapnya Edhy Prabowo. Coba siapa yang paling diuntungkan. JK lagi dihantam, beralih ke Edhy Prabowo kan.

Kedua, Prabowo yang turun karena dianggap bahwa korupsi pale di sini, calon presiden to. Berarti Anies dan JK yang diuntungkan. Apalagi, mengkhianati Jokowi. jadi yang paling untung ini JK. Chaplin yang untung. Jago memang mainnya. Tapi kalau kita hafal apa yang dia mau main ini. #Tim