Tim Pemenangan Hati Kita Keren, Fitriani Syamsuar. (Foto: Istimewa)
Yakin usaha menang – Posisi keterpilihan Chaidir Syam-Suhartina Bohari di Pilkada Maros nyaris tidak bisa lagi dilampaui oleh dua kandidat lainnya. Selisih angka elektabilitasnya berdasarkan survei SSI, terpaut jauh, lebih 20 persen. “Sekalipun money politik dilakukan lawan massif, sulit mengalahkan Chaidir-Suhartina,” kata Yuhardin.
menitindonesia, MAROS – Direktur SSI Yuhardin telah memaparkan hasil surveinya. Angka elektabilitas pasangan calon nomor urut 2, Chaidir Syam-Suhartina Bohari, sulit dilapaui dua Paslon lainnya karena selisihnya terlalu tinggi. Namun Tim Pemenangan Hati Kita Keren (Chaidir-Suhartina) tak mau takabur mendahului keputusan Tuhan.
“Kami serahkan semua usaha kami kepada Allah, semoga bisa diridhoi dengan kemenangan di Pilkada,” kata Tim Pemenangan Chaidir-Suhartina, Fitiani Syamsuar, di Maros, Minggu (6/12/2020).
Meskipun selisih Hati Kita Keren dengan paslon lainnya, terpaut sangat jauh –melbihi angka 20 persen– namun, kata Fitri, Hati kita Keren tetap menunggu hasil akhir real count KPU nanti. “Kami sudah melakukan semua tahapan kampanye dan sosialisasi, kami diminta untuk berdoa agar Hati Kita Keren menang bermartabat,” kata Fitri.
Selama memasuki hari tenang, kata dia, semua tim dan relawan Hati Kita Keren tetap fokus mengawal tahapan pemilihan di TPS dan sekaligus mempersiapkan saksi-saksinya nanti. “Kami bersyukur, karena respon masyarakat terhadap Chaidir Syam-Suhartina Bohari sangat antusias mengantarkan keduanya memimpin Maros ke depan. Ini ditandai dengan tingginya hasil survei pasangan nomor 2,” ujar Fitri.
Menyinggung soal money politik yang dilakukan salah satu Paslon, menurut dia, itu pekerjaan sia-sia dan sama saja menghabiskan uangnya. “Semoga itu dilakukan sebatas sedekah saja biar dapat pahalanya kalau mereka gagal dapat suara pemilih,” ucapnya.
Money politik, kata Fitri, sudah tidak efektif mempengaruhi perolehan suara Hati Kita Keren, karena terlampau jauh selisihnya.
“Seandainya paslonnya berada pada angka elektabilitas di atas 30 persen, mungkin kami bisa merisaukan, sebab bisa naik sampai 40 persen. Kalau angkanya cuman sekitar 10 persen, biar segunung uang dibagi, tetap sulit untuk mendapatkan angka pemilih 40 persen,” kata Fitri.
Penggiat pendidikan anak usia dini di Maros ini, juga mengatakan bahwa masyarakat sekarang sudah cerdas dalam memilih pemimpin di Pilkada. “Jadi ‘jurus mabuk’ sudah tidak mempang, malah menjadi bahan tertawaan. Karena masyarakat sudah tahu mana yang layak jadi pemimpin mana yang tidak layak,” ujarnya.
Bahkan, kata dia, mengurus Maros dengan penduduk yang hampir 400 ribu jiwa ini, tidak bisa diurus dengan model kepemimpinan sok tahu. Menurutnya kalau masyarakat salah memilih pemimpin, maka apa yang sudah dicapai Maros saat ini, akan rusak dan Maros kembali menjadi daerah yang terbelakang.
“Itulah sebabnya kami berjuang sungguh-sungguh agar Pak Chaidir yang jadi bupati Maros, beliau sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk memajukan Maros ke depan. Bukan baru mau coba-coba. Selama jadi Ketua DPRD dan Anggota DPRD, Pak Chaidir dan Ibu Suhartina sudah tahu semua permasalahan di Maros dan mereka tahu solusinya, bukan ngawur dan sok ngerti persoalan,” ujar Fitri. #adezakaria