Mengenang Tsunami Aceh, Manajemen Krisis SBY dari Bencana Membawa Damai

Oleh: Andi Esse Nabila Saskia
Chief Editor Menit Indonesia

Baca dengan hati – 16 Tahun yang lalu, 26 Desember 2004. Samudra Hindia dilanda gempa dahsyat berkekuatan M 9,3. Laut terbelah dan air meluap. Pesisir ‘Serambi Mekah’ Aceh disapu gelombang tsunami dahsyat pasca gempa.

WhatsApp Image 2020 12 26 at 13.21.34
Andi Esse Nabila Saskia (Foto: Doc_menit)
Kejadian itu, terjadi pada hari Minggu, di saat masyarakat sedang istirahat atau berkumpul dengan keluarga dan menikmati libur akhir pekan bersama jelang tahun baru. Tak ada yang menyangka bencana datang: gempa terbesar ke-5 di dunia yang pernah terjadi dalam catatan sejarah.
Mau tahu bagaimana dahsyatnya tsunami Aceh?
Berawal dari gempa yang terjadi pada pukul 08.00 WIB. Setelah gempa redah, muncul gelombang tsunami. Gelombang ombak laut mengalir ke daratan dengan ketinggian 30 meter, kecepatannya 100 meter per detik atau 360 kilometer per jam. Gelombang nan dahsyat ini tak hanya menenggelamkan warga, kerbau bertanduk pun hanyut. Pemukiman dan infrastruktur sekejap hancur diterpa gelombang ombak. Manusia menjerit memanggil Tuhannya, Allah Yang Maha Besar.
Bencana terbesar di dunia
Relawan Front Pembela Islam dipimpin Habib Rizieq yang pertama kali datang ke tengah bencana. Mereka mengevakuasi korban. Setelah mengetahui ribuan mayat ditemukan, dunia tercegang. Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) menyatakan bencana Aceh sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah ada di planet dunia. Bantuan internasional mulai berdatangan ke lokasi bencana. Berbaur dengan relawan kemanusiaan FPI yang mengais bongkahan dan mencari mayat-mayat.
Pencaharian dan evakuasi korban terus dilakukan. Hingga 4 Januari 2005, PBB mengumumkan: diperkirakan sekitar 200 ribu lebih korban yang tewas.
Manajemen krisis SBY-JK: dari hati, pikiran dan tindakan
Jaringan listrik dan juga komunikasi terputus akibat rusaknya fasilitas dihantam gelombang ombak yang membawa bencana. Tak ada jaringan internet dan telepon. Handphone hanya bisa dipakai memotret dengan sisah baterei yang ada. Kondisi saat itu, sungguh darurat. Sudah ratusan ribu orang ditemukan meninggal, dan pasti lebih banyak lagi yang hilang tersapu gelombang dan tertimpa reruntuhan.
Najwa Shihab, reporter Metro Tv yang hadir di lokasi bencana melaporkan tragedi bencana dengan air mata yang meleleh. Ia tak tahan menahan isak tangis. Tak ada waktu untuk berdebat dan saling menyalahkan.
Warga yang selamat, pun kehilangan tempat tinggalnya. Tak hanya itu, mereka juga kehilangan keluarga dan harapannya. Jumlah yang senasib tak sedikit. Ratusan ribu manusia Aceh yang mengalaminya. Hidup di lokasi pengungsian dengan duka yang mendalam. Tak punya lagi apa-apa.
Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), menetapkan hari berkabung nasional selama 3 hari sebagai bentuk simpati negara dan bangsa Indonesia pada bencana yang melanda Aceh.
SBY dan anggota kabinet datang ke Aceh. Ia menemui para pengungsi. Tak hanya menjabat tangan para korban yang sedang berduka. Presiden bahkan mencium jidat mereka sebagai tanda sayang pemimpin kepada rakyatnya. Ia merasakan duka Aceh. Ia pun bermalam bersama pengungsi dan beberapa anak buahnya.
SBY mengontrol distribusi bantuan kemanusiaan yang datang dari berbagai penjuru. Baik dari tanah air maupun bantuan dari negara-negara di dunia yang berempati dan memberi perhatian pada bencana tsunami Aceh. Tidak hanya secara infrastruktur dan bangunan, namun juga perekonomian, juga psikologis masyarakatnya.
Satu hal yang penting diketahui, SBY tak pernah menyalahkan GAM sebagai penyebab terjadinya bencana. Juga tidak mencaci maki gerakan kemanusiaan FPI yang mengkremasi ratusan ribu jenasah. Presiden datang menolong semua manusia dan membawa solusi agar Aceh yang porak-poranda akibat bencana, segera pulih. Presiden bertekad: Aceh harus dibangun kembali. GAM diajak berdamai.
Sekarang, Aceh sudah bangkit: maju dan bersatu dalam genggaman NKRI. Di balik bencana, lahirlah solidaritas dan nasionalisme yang tinggi. Dunia pun mengagumi duet kepemimpinan SBY-JK yang belum 100 hari memimpin Indonesia saat terjadi bencana tsunami Aceh.
Itulah manajemen krisis yang ditunjukkan pemimpin bangsa ini: tidak menyalahkan, tapi menolong dengan sentuhan kemanusiaan, berempati kepada korban dan keluarga korban. Tak ada yang ditetapkan sebagai tersangka saat proses pemulihan Aceh dan perdamaian.
Tak ada buzer yang diorganisir dan tak ada kebohongan untuk mengklaim kebenaran demi menutupi kejahatan. Pemimpin bekerja dengan hati, pikiran dan tindakan. Feel, think, action. #