Jelang Musda Golkar Maros, Sekretaris AMPI: Siapapun Ketua Kader Pasti Loyal

Kader muda Partai Golkar dan Sekretaris AMPI Kabupaten Maros, Andi Awaluddin. (Foto: indra_menit)
Politik happy ending – Bakal Calon Ketua Golkar Kabupaten Maros mulai mengerucut. Ada tiga figur yang disebut bakal bertarung. Petahana, HA Patarai Amir, Wakil Bupati Maros terpilih Hj. Suhartina Bohari dan mantan Calon Wakil Bupati tidak terpilih Andi Ilham Nadjamuddin. “Dinamika di Musda Golkar selalu berakhir indah, karena Golkar matang berpolitik,” kata Andi Awaluddin.
menitindonesia, MAROS – Ketua DPD I Golkar Sulsel Taupan Pawe, sudah mengancang-ancang jadwal Musda Golkar Kabupaten/Kota bakal digelar bulan Februari atau paling telat April nanti. Nama-nama yang disebut bakal merebut jabatan Ketua Golkar Maros makin alot dibicarakan.
Selain nama Ketua DPRD Maros HA Patara Amir, juga muncul nama kandidat baru yang digadang-gadang memimpin Golkar Maros. Wakil Sekretaris Jenderal DPP PAN yang baru saja terpilih sebagai wakil bupati Maros, Hj Suhartina Bohari, mencuat sebagai salah satu kandidat terkuat untuk menggantikan Patarai Amir.
Selain didukung sebahagian kader beringin Maros, Suhartina yang baru saja memenangkan Pilkada Maros mendapat support lobby dari beberapa tokoh nasional.
Rival Suhartina di Pilkada, Andi Ilham Nadjamuddin yang diusung oleh koalisi PKS-Partai Nasdem di Pilkada, juga santer bergerak menggalang dukungan pimpinan kecamatan untuk merebut Ketua Golkar Maros.
Sebelumnya, Ilham Nadjamuddin adalah birokrat yang mundur dari ASN karena maju di Pilkada Maros sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Ketua Nasdem Maros, Harmil Mattotorang.
Meski santer disebut berpeluang memimpin Golkar Maros, namun keduanya belum memenuhi syarat konstitusi Golkar untuk menjadi kandidat, kecuali jika Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto memberikan surat rekomendasi atau diskresi.

Dinamika Golkar Maros dari masa ke masa

Sekretaris AMPI Kabupaten Maros, Andi Awaluddin, ketika ditemui menitindonesia, tidak menyoal siapa yang bakal memimpin Golkar nanti. Ia hanya berharap, agar eksistensi Golkar Maros sebagai pemenang Pemilu di Kabupaten Maros bisa dipertahankan. Sebab, kata dia, Partai Golkar Maros pernah mengalami masa keterpurukan.
Awaluddin mereviuw kembali dinamika Golkar 10 tahun terakhir. Menurutnya Partai Golkar pernah menduduki separuh kursi DPRD Maros pada periode 2004-2009. Namun, kata dia, setelah Golkar dipimpin oleh H.A. Nadjamuddin Aminullah yang saat itu menjabat Bupati Maros Periode 2004-2009, kursi Golkar tergerus, dari 14 kursi menjadi 7 kursi pada Pemilu 2009.
Dia melanjutkan, pada Pemilu 2014, saat Golkar Maros dipimpin Husain Rasul, Golkar Maros terpuruk dan kehilangan muka, sebab perolehan kursi Golkar turun drastis menjadi 4 kursi, sehingga posisi ketua DPRD yang diduduki kadernya Hj Andi Ermawati Nadjamuddin beralih ke kader Partai Amanah Nasional, dan diduduki oleh Chaidir Syam –saat ini bupati terpilih Kabupaten Maros 2020.
“Dua kali kalah di Pemilu Legislatif itu perih. Nanti pada Pemilu 2019, di masa Golkar Maros dipimpin Patarai Amir, Golkar bangkit dari 4 kursi, naik menjadi 7 kursi sehingga Golkar menjadi pemenang Pemilu dan berhak atas kursi ketua DPRD Maros,” ujar Awaluddin.
Kader muda Golkar Maros tersebut, juga menuturkan bahwa partai Golkar adalah partai yang profesional, yang wajib loyal pada pimpinan partai. “Jadi siapapun ketua yang memimpin, Golkar selalu setia dan loyal pada pimpinan, seperti itu kader Golkar ditempa, harus loyal kepada siapapun ketuanya, baik terhadap Ketum, Ketua DPD I maupun ketua DPD II nanti,” jelasnya.
Sebagai kader muda Golkar, kata Awaluddin, dirinya meyakini, siapapun yang akan menjadi Ketua Golkar Maros nanti, semua kader Golkar pasti loyal. Termasuk akan loyal kepada Hj Suhartina maupun Ilham Nadjamuddin jika salah satunya jadi ketua Golkar Maros..
“Jika Bu Wabup Suhartina terpilih di Musda menjadi Ketua Golkar Maros, meskipun pernah menyingkirkan Golkar, semua kader Golkar akan loyal kepada Ketua terpilih, juga hal yang sama terhadap Ilham Nadjamuddin, meskipun baru di Golkar pasti akan diterima dan semua kader akan loyal. Sebab kami taat asas dan patuh pada fatsum politik,” tutur Awaluddin.
Dia juga menerangkan, bahwa saat Golkar Sulsel dipimpin oleh SYL, semua kader Golkar di Maros menjadi loyalis SYL. Ketika Ketua Golkar Sulsel beralih ke Nurdin Halid, semua loyalis SYL di Golkar Maros menjadi loyalis Nurdin Halid, begitu juga saat Golkar dipimpin oleh Taupan Pawe, kata dia, sekarang semua loyalis Nurdin Halid menjadi loyalis Taupan Pawe.
“Dinamika Golkar itu loyal pada ketua. Boleh kita bertarung di Musda, tapi setelah proses selesai, pertarungan juga selesai, siapapun ketua yang telah ditetapkan, maka kita loyal pada ketetapan politik itu. Kader tidak boleh memelihara dendam, sebab politik itu hanya game, hari ini adalah lawan, bisa jadi besok adalah kawan. Prinsip ini yang membuat Golkar bisa bertahan dan menang di Maros,” kata awal. (Indra Sadli Pratama)