Selat Hormuz Segera Dibuka? Kesepakatan Awal AS-Iran Masih Menunggu Lampu Hijau

Selat Hormuz (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Amerika Serikat dan Iran dilaporkan selangkah lebih dekat menuju kesepakatan besar yang berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah. Kedua negara disebut telah mencapai kesepakatan prinsip untuk membuka kembali Selat Hormuz, sebagai bagian dari komitmen Iran memusnahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi.
Informasi tersebut diungkapkan harian ternama AS, The New York Times, yang mengutip seorang pejabat Amerika Serikat yang enggan disebutkan namanya.
Meski demikian, kesepakatan tersebut belum resmi berlaku. Dokumen itu masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS, Donald Trump, dan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Menurut pejabat tersebut, proses finalisasi diperkirakan membutuhkan waktu beberapa hari ke depan.
Dalam skema yang sedang dibahas, Iran disebut bersedia mengambil langkah signifikan terkait uranium yang diperkaya tinggi. Namun, mekanisme dan metode pemusnahan material nuklir tersebut masih menjadi bagian dari negosiasi yang belum tuntas.

BACA JUGA:
Soroti Konflik Iran-Israel-AS, Prabowo Minta ASEAN Jaga Jalur Perdagangan

Pejabat AS itu juga mengungkapkan bahwa kesepakatan awal belum mencakup isu program rudal Iran maupun pembatasan aktivitas pengayaan uranium di masa depan. Kedua persoalan tersebut diperkirakan akan menjadi agenda pembahasan pada putaran negosiasi berikutnya.
AS Siap Longgarkan Sanksi
Sinyal mencairnya hubungan Washington dan Teheran juga terlihat dari pernyataan pejabat AS yang dikutip Fox News. Pemerintah AS disebut membuka peluang memberikan pelonggaran sanksi secara signifikan apabila Iran menunjukkan komitmen nyata terkait pengelolaan uranium yang diperkaya.
“Rencana kami adalah menangani seluruh pasokan material yang diperkaya milik mereka,” kata pejabat tersebut.
Ia menilai Iran saat ini menunjukkan tingkat kompromi yang belum pernah terlihat dalam berbagai perundingan sebelumnya.
Perkembangan itu memunculkan harapan baru bagi stabilitas kawasan, terutama terkait keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu titik paling strategis bagi distribusi energi dunia.
Jalur Pelayaran Dibuka Kembali
Dalam laporan terpisah, CBS News menyebut pemerintah AS memandang rancangan kesepakatan terbaru ini lebih kuat dibanding kesepakatan nuklir tahun 2015 yang dicapai pada era Presiden Barack Obama.
Sebagai bagian dari kesepakatan yang tengah dirumuskan, AS disebut akan mencabut blokade terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran. Selain itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) bersama negara-negara Teluk akan berkoordinasi untuk menjamin keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pejabat AS juga menepis spekulasi mengenai penerapan mekanisme tarif atau “tol” bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Menurutnya, opsi tersebut tidak pernah diajukan dan tidak menjadi bagian dari negosiasi.
Laporan yang sama menyebut Wakil Presiden AS, JD Vance, Utusan Khusus Timur Tengah, Steve Witkoff, serta penasihat Presiden Trump, Jared Kushner, turut terlibat dalam proses perundingan.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun pemerintah Iran terkait laporan kesepakatan awal tersebut. Namun jika benar terealisasi, kesepakatan ini berpotensi menjadi salah satu terobosan diplomatik terbesar antara Washington dan Teheran dalam beberapa tahun terakhir.