Pernah Ngajar Wawasan Kebangsaan di Lemhanas dan Sesko AD, Giliran TWK di KPK Giri Dinyatakan Tak Lulus

Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Giri Suprapdiono. (Foto: Ist-edit menit)
menitindonesia, JAKARTA – Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Giri Suprapdiono, merasa tak lagi diinginkan di KPK setelah ia–salah satu dari 75 pegwai KPK–dinyatakan tidak lolos tes wawasan kebangsaan.
Giri sudah mengabdi selama 16 tahun di KPK, dia kerap mengajar Wawasan Kebangsaan di sejumlah lembaga pendidikan bagi para pejabat di negeri ini, seperti Lemhanas, Sesko AD, Sespim Polri, dan Watannas. Tapi dia dinyatakan tak memenuhi syarat wawasan kebangsaan untuk tetap bekerja di KPK.
Rekam jejak pria kelahiran 9 Juli 1974 di Ponorogo, Jawa Timur itu, pun bisa ditelusuri. Alumni S1 Teknik Planologi ITB Angkatan 1993 itu, mendapat gelar S2 dari International Institute of Social Studies (ISS) Den Haag Belanda, pernah menjabat sebagai Direktur Gratifikasi KPK.
Sebelum bergabung di KPK, Giri pernah menjadi manajer National Management Concultant pada BAPPENAS-UNFPA. PaDA Tahun 2001, ia bergabung di KPK dan menjabat Koordinator Kerja Sama Internasional pada Direktorat Pembinaan Jaringan dan Kerja Sama Antar Komisi dan Instansi KPK.
Pada era Abraham Samad memimpin KPK tahun 2012, Giri diangkat sebagai Direktur Gratifikasi KPK. Dia termasuk pejabat struktrual yang handal dan mengungkap banyak kasus, terutama kasus gratifikasi yang melibatkan banyak pejabat negara, menteri dan anggota DPR RI.
Pada tahun 2018-2021, Giri menempati jabatan Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat. Setelah Firli Bahuri menjabat Ketua KPK, Giri dimujtasi dan menempati jabatan Direktur Sosialisasi dan Kampanye Anti Korupsi sampai saat ini.
Dalam kiprahnya di KPK, Giri Suprapdiono juga pernah mendapatkan penghargaan. Tahun 2018 ia menerima Public Relations Indonesia Award, kategori best aplikasi untuk E-Gratifikasi. Ia juga pernah maraih Makarti Bhakti Nagari Award pada Desember 2020.
Sekarang, Giri menyoal hasil test wawasan kebangsaan yang menyatakan dirinya salah satu dari 75 pegawai KPK yang tidak lulus. Menurutnya, hasil TWK sebetulnya tidak terlalu signifikan untuk bisa jadi ukuran layak atau tidaknya seseorang untuk tetap berada di KPK.
“Hasil tes itu sebenarnya tidak signifikan, tapi kemungkinan kami-kami ini tidak diinginkan untuk melanjutkan pemberantasan korupsi di Republik ini,” ujar Giri kepada menitindonesia.com, Sabtu (28/5/2021).
Terkait tudingan radikal dan taliban, ia pun membantahnya. Menurutnya dalam TWK, tak satu pun jawaban yang mengesankan dirinya radikal dari tes yang dialaluinya.
Giri meminta agar indikator hasil tes diungkapkan kepada masyarakat. “Sebaiknya dibuka kepada publik indikator ketidaklolosan tersebut,” pungkasnya. (roma)


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini