Aktivis Parlemen Jalanan 98 Soroti Prilaku Bekas Aktivis Yang Jadi Penjilat Rezim Pesta, Seperti Bang Fajroel

Aktivis 98 Andi Wahyudin Jalil. (Foto: ist_menit)
menitindonesia, MAKASSAR – Mantan Aktivis Mahasiswa Universitas Hasanuddin era tahun 1998, Andi Wahyudin Jalil, menyoroti prilaku para bekas aktivis yang saat ini lebih cenderung menjadi penjilat rezim penguasa.
“Aktivis Reformasi 98, memang sudah lama mati suri. Reformasi yang lahir dari tumbangnya rezim Soeharto adalah biang dari semua kejahatan yang memberangus idealisme kalangan aktivis idealis. Mereka campur aduk di wadah yang abu-abu berlapis materi, jabatan, dan berjibun iming-iming yang sulit terelakkan bagi aktivis bermental lemah,” kata Wahudin Jalil dalam keterangannya, Minggu (27.6/2021), melalui unggahan WhatsApp Group Alumni UKM Pers Unhas.
Wahyudin menilai, sejak rezim Soeharto hingga Rezim Jokowi sekarang, banyak kalangan aktivis yang berpesta pora dan semakin meledak pestanya di era sekarang.
“Mereka benar-benar lupa tujuan menjatuhkan Soeharto dengan rezimnya. Ada sedikit aktivis yang idealis bertahan yang tidak tergiur godaan ‘Rezim Pesta’, tapi mereka sudah dikanalisasi, diblok oleh berbagai aturan produk mereka,” ujarnya.
Rezim demikian, kata dia, memainkan untuk mereka terbungkam atau hilang sekalian. Dia pun bertanya, lalu apa yang seharusnya dilakukan dengan kondisi ini?
“Mahasiswa selalu yang menjadi pemantik, pendobrak kebekuan atau kebuntuan keadaan. Bagaimana mahasiswa sekarang? Begitu jelas dan ‘lucu’ melihat kawan-kawan yang dulu di era sekarang. Walaupun di masa dulu juga bisa ditebak siapa yang nantinya akan jadi pecundang, atau berlidah panjang ke ‘Tuan’. Tapi ternyata banyak yang sulit diduga. Seperti Bang Fajroul itu,” ucap Wahyudin.
Sebelumnya, mantan demonstran Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD), Anwar Ilyas, menyoroti prilaku birokrasi kampus UI yang mengungkung kebebasan berpendapat BEM-UI yang telah menganurahi gelar “King of Lips Service” kepada Presiden RI, Joko Widodo.
“Kehidupan organisasi kemahasiswaan terancam kembali ke zaman Orde Baru. Banyak bekas aktifis yang sekarang menjual idealisme, dan lidah mereka menjadi panjang karena hoby menjilat penguasa. Lihatlah, tidak satupun tindakan dan atau kebijakan penguasa yang tidak mereka jilati rame-rame,” tulis Anwar dalam WAG yang sama. (roma)