Arena Wati, Malaysia

mantan anggota DPR RI
Oleh Mubha Kahar Muang
MALAYSIA  adalah negara federal yang terdiri dari tiga belas Negara Bagian dan tiga wilayah persekutuan. Bentuk pemerintahannya monarki konstitusional. Kepala Negara seorang raja atau sultan dan Kepala Pemerintahan dipimpin seorang perdana menteri.
Kepala Negara yang digelari Yang Dipertuan Agung, Raja Malaysia, dipilih secara bergiliran setiap lima tahun sekali di antara sembilan Negara Bagian yang diperintah oleh raja atau sultan. Adapun empat pemimpin Negara Bagian yang bergelar gubernur tidak turut dalam pemilihan. Kepala Negara juga sekaligus pemimpin tertinggi angkatan bersenjata.
Perdana Menteri dipilih oleh Yang Dipertuan Agung dari anggota parlemen yang mendapat dukungan mayoritas. Biasanya pemimpin partai politik terkuat dalam parlemen. Kekuasaan eksekutif ditentukan oleh kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri. Sedangkan kabinet merupakan anggota parlemen yang dipilih dari Dewan Rakyat atau Dewan Negara. Perdana Menteri bertanggung jawab dan memberikan laporan kerjanya kepada parlemen.
Parlemen Malaysia menggunakan sistim dua kamar atau bikameral. Majelis Rendah disebut Dewan Perwakilan Rakyat atau Dewan Rakyat, dikenal dengan sebutan anggota parlemen.
Dewan Rakyat terdiri dari 222 anggota, dipilih melalui pemilu dengan masa bakti lima tahun dan dapat dipilih untuk beberapa masa bakti. Majelis Tinggi disebut Dewan Negara, dikenal dengan sebutan anggota senat. Terdiri dari 70 anggota dengan masa bakti tiga tahun. Dari Dewan Negara, hanya 26 anggota yang dipilih langsung melalui legislator Negara Bagian. Sisanya, 44 anggota ditunjuk oleh Yang Dipertuan Agung. Senator bertugas maksimal dua kali masa bakti.
Malaysia terdiri dari kawasan Malaysia Barat dan Malaysia Timur. Jumlah penduduknya pada tahun 2015 diperkirakan 30.697.000 jiwa. Kuala Lumpur adalah ibukota negara dan Putrajaya sebagai pusat pemerintahan. Malaysia memindahkan Pusat Pemerintahannya dari Kuala Lumpur ke Putrajaya tahun 1999.
Alasan memindahkan itu adalah untuk efisiensi dan efektifitas termasuk peningkatan produktivitas aparatur, karena kementerian yang letaknya terpisah-pisah, disatu sisi Kuala Lumpur saat itu sudah tidak dapat menampung kepadatan penduduk, kemacetan dan banjir yang hampir terjadi setiap tahun yang tentu berakibat pada inefisiensi kinerja administrasi pemerintahan, sehingga diputuskan memindahkan pusat pemerintahan. Sekarang ini kementerian hanya memerlukan waktu sekitar lima menit ke kantor perdana menteri.
Alasan memilih Putrajaya, karena tidak jauh dari ibukota Kuala Lumpur, tidak jauh dari pelabuhan utama dan tidak jauh dari bandara Internasional. Putrajaya yang terletak diatas lahan 46 km persegi dibangun tahun 1994-1999, dengan biaya sekitar Rp 85 Trilyun. Adapun biaya pemindahan tersebut hampir seluruhnya biaya dari negara, sangat sedikit melibatkan swasta dalam proyek tersebut. Semua aktivitas pemerintahan termasuk perdana menteri pindah ke Putrajaya kecuali kementerian Perdagangan dan Investasi tetap di Kuala Lumpur karena harus mengawasi area komersial dan perdagangan. Ibukota Kuala Lumpur menjadi tempat Sultan dan parlemen Malaysia. Kuala Lumpur menjadi pusat perdagangan dan keuangan Malaysia.
Bahasa resmi pemerintah menurut undang-undang adalah bahasa Melayu namun dalam kebijakan pemerintah sering menggunakan istilah bahasa Malaysia. Agama Islam menjadi agama resmi negara.
Kerajaan Melayu yang paling awal tercatat dalam sejarah tumbuh dari kota pelabuhan tepi pantai didirikan pada abad ke-10. Kerajaan-kerajaan tersebut adalah Langkasuka dan Lembah Bujang di Kedah, Beruas dan Gangga Negara di Perak dan Pan Pan di Klantan. Diperkirakan, semuanya adalah dibawah pengaruh Kerajaan Chola dari India. Islam tiba di Trengganu pada abad ke-14.
Kesultanan Melaka didirikan pada permulaan abad ke-15 oleh Parameswara, pangeran dari Palembang. Kesultanan Melaka adalah bagian dari Kerajaan Sriwijaya yang terletak ditepian Sungai Musi, Palembang. Kerajaan Sriwijaya didirikan pada abad ke-7 oleh Dapunta Hyang atau dikenal dengan nama Sri Jayanasa. Dalam bahasa Sansekerta, sri artinya cahaya, wijaya artinya kemenangan. Jadi Sriwijaya berarti kemenangan yang gemilang.
Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang bercorak Buddha. Mencapai puncak kejayaan ketika diperintah oleh Raja Balaputradewa atau raja ke-9 Sriwijaya, pada abad ke-9. Sriwijaya mengontrol perdagangan di jalur utama Selat Malaka, hingga Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera dan sebagian Jawa.
Parameswara kemudian berlayar ke Temasek dan berhasil menjadi penguasa Temasek. Ia membangun dan memperbaiki fasilitas Kerajaan Melaka untuk tujuan perdagangan. Parameswara memeluk Islam ketika menikah dengan seorang puteri dari Kerajaan Samudera Pasai yang terletak di Aceh, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Parameswara kemudian menyebut dirinya sebagai Iskandar Syah. Ketika Parameswara wafat, ia digantikan putranya. Raja Parameswara dari Temasek dan Melaka dikenal sebagai tokoh Muslim dan bergelar Sultan Sri Iskandar Zulkarnain Syah atau Sultan Megat Iskandar Syah yang menguasai Melaka hingga 1424.
Ketika Melaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511 berakhirlah Kesultanan Melaka. Tetapi putra Sultan Melaka kemudian mendirikan Kesultanan Perak di utara dan Kesultanan Johor yang merupakan Kesultanan Melaka Kuno. Setelah jatuhnya Melaka, Selat Melaka diperebutkan oleh tiga pihak, yaitu Portugis, Kesultanan Johor dan Kesultanan Aceh. Konflik berlangsung hingga tahun 1641, melibatkan Belanda yang bersekutu dengan Kesultanan Johor untuk merebut Melaka.
Pada tahun 1786 Britania Raya (Inggris, Skotlandia dan Wales) mendirikan koloni pertamanya di Semenanjung Malaya ketika Sultan Kedah menyewakan Pulau Penang kepada Perusahaan Hindia Timur Britania Raya. Tahun 1824 Britania Raya akhirnya menguasai Melaka dengan ditandatanganinya Traktat London atau dikenal juga dengan Perjanjian Britania-Belanda. Perjanjian ini membagi kepemilikan Nusantara, Malaya untuk Britania Raya dan Indonesia untuk Belanda.
Tukar guling Inggris dan Belanda terkait dengan Indonesia, jauh sebelum itu sudah terjadi, yang diawali dengan perebutan daerah penghasil buah pala terbesar di dunia yaitu Pulau Run salah satu dari sebelas pulau di Kepulauan Banda.
Untuk mengatasi persaingan antar sesama pedagang Belanda dalam memperebutkan rempah – rempah yaitu pala dan cengkeh di Kepulauan Banda, Belanda mendirikan Persekutuan Perusahaan Hindia Timur atau Verenigde Oost- Indishe Compagnie atau VOC tanggal 20 Maret 1602. Kegiatan dagang VOC inilah cikal bakal Belanda menduduki Indonesia sekitar 350 tahun. Belanda mulai melakukan perdagangan buah pala di Pulau Run tahun 1603. Kehadiran Belanda di Pulau Run, memangkas keuntungan pedagang Arab dan Asia lainnya. Inggris kemudian datang tahun 1616, dan menguasai Pulau Run sehingga terjadi pertarungan sengit dan berdarah antara VOC dan sekelompok tentara Inggris. Akhirnya melalui perjanjian Breda, 31 Juli 1677 konflik tersebut diakhiri. Keputusannya, Inggris menyerahkan Pulau Run kepada Belanda, kemudian Inggris mendapat imbalan Pulau Manhattan, New York.
Tukar guling berikutnya, terkait juga dengan rempah – rempah. Ketika itu British East India Company ( EIC ) yang membangun pusat perdagangan lada dan garnisun di Bengkulu sejak tahun 1685, diakuisisi oleh Belanda melalui Traktat Inggris – Belanda, Maret 1824. Belanda mendapatkan Bengkulu, Inggris mendapatkan Singapura.
Britania Raya melakukan upaya menghimpun kembali wilayah jajahan yang didirikan pada akhir abad ke-18. Seperti beberapa kerajaan yang terpisah di kawasan Malaysia Barat dengan membentuk Malaya Britania yang kemudian dibubarkan pada tahun 1946. Lalu dibentuk lagi perhimpunan baru yang diberi nama Uni Malaya. Pada tahun 1948, Perhimpunan tersebut disusun kembali dan diberi nama Federasi Malaya atau dikenal dengan sebutan Persekutuan Tanah Melayu yang terdiri dari dua pemukiman Britania yakni Pulau Penang dan Melaka, ditambah dengan sembilan negeri melayu yang diperintah oleh para sultan. Kemudian diberi kemerdekaan 31 Agustus 1957.
Pada 16 September 1963, sesuai dengan Resolusi PBB 1514 tahun 1960 tentang Pemberian Kemerdekaan kepada Masyarakat dan Negara Kolonial, mendorong Britania Raya membuat federasi bentukan baru yang bernama Malaysia. Ini terdiri dari Federasi Malaya, Singapura, Sarawak dan Borneo Utara atau Sabah. Namun, pada 9 Agustus 1965 Singapura dikeluarkan dari Malaysia dan menjadi negara merdeka dengan nama Republik Singapura.
Pertumbuhan ekonomi yang pesat pada dasawarsa 1980-an dan 1990-an telah mengubah Malaysia menjadi negara industri baru. Industri manufaktur yang maju pesat memberi pengaruh berarti bagi ekonomi negeri ini. Peran Selat Malaka juga memberi arti penting dalam pertumbuhan ekonomi tersebut. Mengantarkan Malaysia mencapai PDB Perkapita sebesar USD 9.817.79 tahun 2016. Atau, urutan ketiga di Asean setelah Singapore dan Brunei.
Indeks kualitas hidup Malaysia berada di urutan ke-36, Indeks kualitas hidup adalah sebuah indeks sosial, yang menilai kualitas yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, terkait kesejahteraan dan ketiadaannya, kesehatan dan termasuk aspek emosi sosial dan fisik dalam kehidupan individu.
Perhatian pemerintah Malaysia bukan hanya terkait aspek fisik seperti perawatan kesehatan yang saat ini sudah begitu maju, tetapi juga terhadap kepuasan batin masyarakat. Salah satunya tercermin dari perhatian pemerintah atas karya-karya sastra dan sastrawan. Pemberian Anugerah Sastra Negara yang merupakan gagasan Perdana Menteri Tun Hussein Onn yang menginginkan pemberian penghargaan sastra kepada warga yang berprestasi dan dimaksudkan untuk mengangkat martabat sastra di Malaysia adalah bukti kepedulian tersebut.
Sastrawan Negara berjumlah sembilan orang dan merupakan gelar seumur hidup. Setelah meninggal baru pemerintah mengangkat penggantinya. Penerima penghargaan, selain mendapat hadiah yang lumayan besar, juga diberi jaminan hidup dan berkarya, termasuk untuk menerbitkan karya-karyanya.
Sastrawan Negara pertama kali dianugerahkan oleh pemerintah tahun 1981 kepada DR Kamaluddin Muhammad atau Keris Mas. Yang menarik adalah penerima gelar Sastrawan Negara kelima, Arena Wati, yang dianugerahi gelar tahun 1988. Arena Wati adalah lelaki kelahiran Kalumpang, Jeneponto, Sulawesi Selatan 30 Juli 1925. Ia menamatkan SMA di Makassar dan hingga akhir hayat masih sangat kental hubungan emosionalnya dengan daerah kelahirannya. Mungkin sebagian besar orang Indonesia tidak mengenal Arena Wati yang bernama lengkap DR Muhammad Dahlan Abdul Biang, termasuk karya-karyanya yang dalam hitungan Universitas Kebangsaan Malaysia berjumlah tidak kurang dari 18.000 halaman.
Kisah Arena Wati ini kemudian memberi kita isyarat bahwa sastra dan kesenian adalah salah satu capaian manusia yang tidak mengenal batas negara karena sumber utama penciptaannya adalah manusia. Ini juga sekaligus tanda bahwa bakat bagus mampu melakukan perlintasan antar bangsa. Bayangkan, dari Kalumpang, Jeneponto, Sulawesi Selatan, Arena Wati kemudian memperoleh tempat amat terhormat di Semenanjung Malaysia.
Penghargaan dan penghormatan atasnya juga patut menjadi pelajaran berharga, betapa perlunya apresiasi terhadap karya-karya yang dilahirkan oleh para sastrawan dan seniman, terhadap dunia sastra dan kesenian,seperti halnya di negeri serumpun.
Nampaknya pemerintah Malaysia tahu persis bahwa salah satu sarana mengasah kepekaan kemanusiaan kita yang amat penting adalah sastra dan kesenian. Sepanjang sejarah, manusia akan belajar dari kisah-kisah manusia yang dituliskan, tragedi dan komedi yang diekspresikan dan dituturkan.
Jakarta, 16 Juni 2017


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini