Orde Heresi Milad di Seremoni Kematian

Mantan Anggota Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD)
Oleh Ostaf al Mustafa
TERDAPAT keserupaan universal dan generik pada bangsa-bangsa pagan yakni mereka suka merayakan akhir hayat penguasa dan pembesar. Sedemikian membesarnya seremoni ajal tersebut, maka setelah waktu bergulung pada generasi berikutnya, acaranya berubah menjadi hari kelahiran. Bisa juga hari kematian diperingati sebagaimana layaknya hari kelahiran. Setelah menjadi ritual dan tradisi, kedua perayaan tersebut dipagari dengan pemali, larangan, serapah, hingga kutukan terhadap siapapun yang berani tidak ikut merayakannya.
Kisah ulang tahun bisa dilacak dari Namrod atau Namrudz bin Kan’an (2275 SM – 1943 SM) setelah seekor nyamuk memasuki rongga kepalanya. Ketika Raja Mesopotamia tersebut tamat riwayat hidupnya—setelah mengalami rasa sakit yang tak pernah dialami orang-orang semasanya—momen buruk itu kemudian diperingati sebesar-besarnya. Rakyat dipaksa untuk bersedih atau menyakiti tubuh hingga berdarah-darah. Mereka harus ikut merasakan rasa sakit yang pernah dirasakan sang raja selama bertahun-tahun akibat serangga pengisap darah tersebut. Ia tersiksa tiada batas hingga sakaratul maut memotong pita nyawanya. Tak ada istirahat dalam damai dan dengan tenang untuknya di ujung-ujung nafas terakhir.
Untuk mewariskan pengkultusan dirinya, maka kematiannya dirombak menjadi acara kelahiran. Tidak dalam bentuk dirinya sebagai manusia, tapi pada ‘evergreen’, yang kini disematkan pada pohon yang bisa bertahan di empat musim. Dalam naskah yang ditulis pendiri the Worldwide Church of God (WCG), disebutkan tumbuhan tersebut bertunas dari sebatang kayu yang mati, yang kemudian ditafsirkan oleh Semiramis—ibu sekaligus istrinya—sebagai bukti kehidupan baru Namrud. (Herbert W. Amstrong, The Plain Truth About Christmas, Radio Church of God, 1952: 7).
Harus ada penjejalan takhayul dan penyertaan khurafat dalam bentuk cerita-cerita fiktif yang harus dipercaya. Semakin tidak sesuai akal sehat, maka bertambah level maksimumnya untuk diyakini. Tak ada kedunguan yang dirayakan melebihi dua seremoni itu, setinggi apapun peradaban materialistik yang pernah dicapai suatu bangsa.
Bukan hanya bangsa pagan, di era modern pada negara-negara sekuler, komunis, dan yang masih memberi ruang besar pada agama, juga melazimkan peringatan pada hari kematian pembesar-pembesar. Diksi ‘semoga panjang umur’ diucapkan, padahal sosok yang dimaksud sudah berubah menjadi belulang atau sepenuhnya kembali menjadi debu, tanah, dan abu pembakaran. Bahkan pada bangsa-bangsa yang sudah mengenal agama samawi, terjadi pembaruan-pembaruan pula mengikuti istiadat bangsa pagan tersebut.
Ubaid bin Maimun Al Qoddah dari Dinasti Syiah Rafidhoh Ismailiyah (Syiah Al Qaramithah Bathiniyah) merayakan maulid pertama kali, yang kemudian menyebar ke negeri-negeri Islam. Meski ada nama lain sebagai pelaku awal seremoni milad itu, tapi masih berasal dari Dinasti Syiah yang sama. Selanjutnya terabaikan telaah historis tentang kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang masih diperselisihkan pada 12 Rabiul Awal.
Namun dipastikan Beliau wafat pada tanggal tersebut. Hal ini terjadi selagi waktu dhuha sudah terasa panas, pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H, dalam usia 63 tahun lebih empat hari (Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, Kathur Suhardi (penerj.), Pustaka Al Kautsar, 2012: 574). Datum mangkatnya Sang Nabi Terakhir Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi penanda defenitif bahwa tak ada lagi hukum syariat tambahan atau bentuk syariat baru dalam Islam setelahnya, termasuk perhelatan tentang dirinya. Semua sudah selesai dan sempurna, hingga Ubaid dan yang semisalnya membuat orde heresi milad dalam ritus tersebut.
Jakarta, 23 Oktober 2021


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini