Dipasangilah Nusantara Putra Alfa…Tanggo pada Ibu Kota Negara

Mantan Anggota Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD)
Oleh: Ostaf al Mustafa
PADA metaverse kali ini, seorang saksi bernama Akui yang pernah berada di Neegaaraa Koouomiintang Reepuubliik Ciinaa (NKRC) menceritakan pengalamannya. Di negara ini—yang dahulu dikuasai oleh Partai Koumintang yang didirikan Sun Yat-sen (1866–1925)—pernah memberi ruang berbicara yang sangat luas pada rakyatnya. Namun membiarkan rakyat menjadi vokal, tidak serta-merta menyelamatkan negara itu dari kungkungan Komunis, terutama ketika itu masih hidup Mao Zedong/Mao Tse-tung (1893–1976). Meski masih bernama Koumintang—dengan menggandakan setiap huruf vokal—ternyata sepenuhnya negeri itu dikuasai komunis.
Mengapa negara itu menggunakan huruf vokal yang dobel? Penerus Mao Zedong hendak menunjukkan bahwa dalam negara komunis, setiap orang dibebaskan untuk vokal, tapi hanya boleh menggunakan masing-masing huruf hidup itu dua kali saja. Bila berlebihan atau mencapai tiga, maka pasti dipenjara. Bahkan Presiden NKRC juga membolehkan unjuk rasa, bahkan rindu didemo oleh masyarakat. Contoh bila ada warga yang mengatakan, “Presiden kita yang tercinta sering kali berbohong”, maka niscaya langsung ditangkap. Bukan karena membocorkan rahasia negara, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah buku legendaris dari Negeri Beruang Merah (Zhanna Dolgopolova, Mati Ketawa Cara Rusia,  PT Pustaka Gratifipers, 1986). Namun dalam kalimat jujur itu, terdapat huruf ‘I’ sebanyak lima kali, huruf ‘e’ berulang sebanyak empat kali, ditambah perulangan yang lainnya.
Namun bukan itu yang hendak disampaikan Akui. Menurutnya, di masa Mao Zedong, pernah seorang ketua partai komunis berkunjung ke sana untuk melaporkan agenda kudeta final. Saat itu, Sang Pemimpin Agung Revolusi atau presiden di era Orde Lawas dikabarkan sedang sekarat, sehingga pengambilalihan kekuasaan dengan cara berdarah dan pembunuhan harus segera dilaksanakan. Apalagi Angkatan Kelima sudah dipersiapkan dan dipersenjatai.
“Ini sejarah yang sudah kalian tahu, tetapi pernyataan ini harus sedikit kukaburkan.” Demikian intro pengakuannya. Akui kemudian menambahkan informasi, sebagaimana selanjutnya terbaca pada isi tulisan ini, hingga selesai. Nama ayah sang ketua partai itu, dimulai dengan huruf alfa dan diakhiri dengan tango, sebagaimana dalam dua puluh enam kode dalam alfabet fonetik internasional. Bila masih membingungkan tentang siapa dirinya, maka terdapat tiga huruf di antara alfa dan tango itu.
Pemimpin partai itu ke NKRC menjelang sebuah gerakan besar, yang hasilnya berupa pembunuhan sejumlah jenderal angkatan darat. Pada kisah yang luput dari sejarah yang tidak lagi dipelajari di negeri kalian dan hanya diketahui sejumlah orang di NKRC, dikatakan ia menemui Mao Zedong. Saat pertemuan itu dilaksanakan, Presiden Orde Lawas sedang menderita cerebral vasospasm, sejenis masalah yang berkaitan dengan pembuluh darah di otak. Ia mengatakan tentang perlunya ibu kota negara baru (IKNB) setelah gerakan kudeta itu sukses.
Pada masa Orde Lawas, IKNB telah tiga kali terlaksana yakni Yogyakarta (1946), Bukittinggi, Sumatra Barat (1948), dan Yogyakarta (1949). Kemudian  direncanakan juga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (1957).  Pada 1947 dibentuk Panitya Agung untuk merancang IKNB, namun belum ditemukan wilayah yang tepat. Kepada Mao Zedong ia membuat Rencana Kelima yakni pemindahkan ulang IKNB yang tak bisa terlaksana di masa Orde Lawas. Rencana itu bagian dari Angkatan Kelima yang ia bentuk untuk memperkuat kekuasaan, usai Dewan Berbintang meregang nyawa di Liang Aligator.
“Apakah yang Anda katakan bisa dipastikan kebenarannya?”
Akui mengangguk dan menambahkan keterangan penguat, “Di NKRC terdapat tiga tingkatan kebenaran yakni yang paling rendah dianggap ‘terpercaya’, tingkat menengah diduga keras ‘teerpeercaayaa’ dan yang paling tinggi dipastikan ‘teerpeeercaaayaaa’.”
“Yang Anda katakan berada di level keberapa?”
“Yang lebih dari dua huruf hidup itu! Namun bila itu disampaikan secara terbuka di NKRC, maka aku tak akan pernah ada di sini untuk diwawancarai.”
Demikian hingga pada suatu hari, dipasangilah Nusantara, nama tengah sang pemimpin partai itu, pada IKNB di Pulau Kalibekas untuk mengenang putra Alfa…tango.
Jakarta, 22 Jaanuuaarii 2022