Pedagang Pasar Lama Maros, Bersedia Pindah ke Pasar Tramo Setelah Lebaran dan Jika Lapak Tersedia

Rais dan Haji Ali, Pedagang Pasar Lama Maros. (Foto: Ist)
menitindonesia, MAROS – Pedagang pasar lama Maros, meminta kepada Bupati Maros, AS Chaidir Syam, agar menunda rencana pemindahan mereka ke Pasar Tradisional Modern (Tramo), Turikale, dilakukan setelah pelaksanaan lebaran Idul Fitri, nanti.
Rais, pedagang campuran di pasar lama yang berjualan sejak tahun 1970-an, mengatakan, pada prinsipnya pedagang di pasar lama tidak keberatan untuk pindah ke Pasar Tramo, hanya saja, mereka mempertanyakan jumlah lapak yang disediakan di lokasi yang baru hanya 50 lapak, sedangkan jumlah pedagang di pasar lama, sebanyak 160 orang.
Penjual barang campuran ini, juga meminta agar pemindahan mereka tidak dilakukan secara tergesa-gesa, sebab saat ini, kata dia, pedagang di pasar lama harus melakukan persiapan untuk pindah. Kalau pemindahan dilakukan tergesa-gesa tanpa memberi waktu persiapan kepada pedagang, ujar Rais, sama halnya dengan menggusur mereka.
“Kami bersedia pindah, hanya saja, Kepala Pasar yang dulu, namanya Ibu Tia, dulu bilang hanya 50 lapak yang disediakan, padahal jumlah pedagang di pasar lama sebanyak 160 orang,” kata Rais saat ditemui di pasar lama Maros, Minggu (27/3/2022).
Dia juga mengaku heran, kenapa hanya 50 lapak yang disediakan di Pasar Tramo untuk pedagang pasar lama. Menurut Rais, lapak yang semestinya ditempati pedagang lama, justru diberikan ke pedagang yang baru di Pasar Tramo, sehingga pedagang lama tidak terakomodir.
19800101000111 IMG 0177 1
Kondisi Pasar Lama Maros, pedagang sudah merinsek ke sparuh jalan raya. (Foto: Ist)
Senada diungkapkan oleh Haji Ali, penjual daging di Pasar Lama, Maros. Dia juga keberatan jika Pemkab Maros tergesa-gesa memindahkan mereka, sementara lapak untuk pedagang di pasar lama belum cukup ketersediaannya.
Selain itu, Haji Ali juga meminta, agar pemindahan pedagang dilakukan setelah lebaran, sebab kalau dipaksakan pindah saat ini, Haji Ali memastikan, sebanyak 160 pedangang akan terlantar di Pasar Tramo. Alasannya, lapak yang disediakan tidak cukup untuk mengkomodir mereka, karena sebahagian sudah diisi oleh orang baru.
“Jadi jangan memaksakan kami pindah kalau belum ada tempat untuk kami di Pasar Tramo. Apa ini tidak lebih kacau nantinya, dan ini sama dengan memecahkan piring makan kami yang sehari-hari cari nafkah sebagai pedagang di pasar ini,” ujar Haji Ali.
Dia menyampaikan, saat ini sebanyak 160 orang pedagang pasar lama sudah kompak, bahwa mereka tidak akan pindah jika ada salah satu dari mereka yang tidak mendapatkan lapak di Pasar Tramo.
“Data yang benar jumlah pedagang pasar lama 160 orang. Ini semua wajib dapat lapak di Pasar Tramo, kalau ada satu orang saja yang tidak diakomodir, kami sudah kompak dan bersatu, tidak mau pindah,” ucap Ali yang juga mengaku sudah berjualan di Pasar Maros sejak tahun 1990-an.
Dikonfirmasi kepada Kepala Pasar Tramo yang baru, Jufri Hamdan, terkait aspirasi pedagang pasar lama Maros ini, mengatakan, bahwa rencana memindahkan pedagang pasar lama disusun oleh Kepala Dinas Kopumdag dan UMKM, To Wadeng Pananrang. Dia mengaku, tidak tahu menahu soal rencana pemindahan mereka.
“Kami tidak tahu kapan mereka dipindahkan, urusan itu ditangani langsung oleh Kadis Kopumdag, Pak To Wadeng,” kata Jufri.
Soal adanya pedagang baru yang menempati lapak di Pasar Tramo, menurut Jufri, juga kewenangannya ada di Dinas, bukan kewenangannya selaku Kepala Pasar. “Silahkan cari tahu di Dinas (Kopumdag), kami tidak tahu apa-apa soal itu,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Maros, Amril, meminta agar Bupati Maros bersungguh-sungguh memperhatikan aspirasi pedagang pasar lama, sebab masalah pedagang pasar, kata dia, terkait dengan hajat hidup mereka.
Soal rencana Dinas Kopumdag Maros memindahkan mereka dalam waktu dekat, Amril menyarankan agar rencana pemindahan mereka dilakukan secara persuasif dan pindahkan secara gradual. Dia menilai pemindahan saat ini tidak tepat, sebab persiapan pindah bagi pedagang membutuhkan waktu, apalagi mau memasuki bulan Ramadhan.
“Sebaiknya pemindahannya tidak dilakukan tergesa-gesa. Jangan mengganggu ketenangan mereka berpuasa nanti. Harus persuasif dan dilakukan secara gradual. Nanti pemindahannya dipikirkan setelah lebaran saja,” tegas Amril.
Legislator Fraksi PAN ini, mengingatkan, bahwa terkait masalah pedagang pasar tidak boleh dilakukan dengan cara represif dengan membenturkan aparat keamanan dengan rakyat.
“Jangan sampai terjadi benturan dan DPRD yang didemo pedagang pasar di bulan suci Ramadhan nanti,” pungkasnya. (asrul nurdin)