Kata-Kata Legendaris dan Selain Daripada Itu Semua

Mantan Anggota Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD)
Oleh: Ostaf al Mustafa
menitindonesiaPENULIS An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations atau yang biasa disingkat The Wealth of Nations (1776), yang selalu dibuatkan makan malam oleh ibunya pernah berkata, “Bukan karena kebaikan tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti, sehingga kita bisa mendapatkan makan malam, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri sendiri-sendiri.” (Katrine Marcal, Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?: Kisah tentang Perempuan dan Ilmu Ekonomi, Marjin Kiri, 2020: 10).
John Adam Smith (51723 – 1790) pada 1776 lebih lanjut menguraikan pendapatnya betapa tukang daging ingin pelanggannya puas, bukan untuk berbuat baik, tapi agar bisa mendapatkan uang. Demikian pula tukang roti dan tukang minuman juga demikian, keduanya melakukannya bukan agar orang lain bahagia dan sungguh-sungguh peduli, tetapi demi laba dan kepentingan diri. Entah kalimat itu hendak ia nyatakan betapa hanya ibunya seorang yang sungguh-sungguh peduli dan semata-mata membuatkan makan malam demi kebahagiaan putranya. Rahasia ini takpernah diungkap oleh filsuf berkebangsaan Skotlandia itu di buku manapun.
Franois-Marie Arouet atau yang lebih dikenal dengan sebutan Voltaire (1694 – 1778) meski tidak bicara tentang spiritualitas dan sikap religiositas, namun kalimatnya perlu diperhatikan berkaitan dengan duit. filsuf Pencerahan Prancis yang juga penulis, sejarawan, dan tokoh pendorong timbulnya Revolusi Prancis 1789 – 1799 tersebut berkata, “Di hadapan uang, semua orang agamanya sama”. Kalimat itu tertulis pada 27 Desember 1760 yang merupakan isi surat korespondensi kepada Mme. d’Épinal, Ferney. Dengan makna serupa diungkapkan Voltaire pada kondisi yang terjadi di Royal Exchange of London. “Di sana orang Yahudi, Mahometan (Muslim) dan Kristen saling bertransaksi seolah -olah mereka semua menyatakan diri sebagai penganut agama yang sama, dan hanya memberikan julukan goyim, kafir, atau domba-domba yang sesat, tidak ke siapapun selain pada ia yang sudah mengalami kebangkrutan.” (E.R. DuMont, The Works of Voltaire, Vol. VI, Philosophical Dictionary Part II, The Saint Hubert Guild, New York, 1901).
Di hadapan uang, bila seseorang itu bangkrut, maka bagi orang Yahudi sosok yang demikian pantas disebut goyim, entah dia Muslim atau Kristen. Seorang muslim menyebut kafir terhadap Yahudi dan Kristen, sedangkan orang Kristen menyebut keduanya, sebagai domba-domba yang hilang/sesat. Jadi sebutan infidel seperti goyim, kafir, dan domba-domba yang sesat, menurut kalimat meme satire Voltaire lebih patut ditujukan kepada mereka yang sudah bangkrut dan selama ini beragama sama dalam hal memandang fulus.
Benjamin Franklin (1706 –1790) yang menulis dalam esai “Advice to a Young Tradesman, “Nasihat untuk Seorang Pedagang Muda,” pada 21 Juli 1748 terdapat kalimat legendaris, “waktu adalah uang” (Alan Houston, “Advice to a Young Tradesman, Written by an Old One (21 July 1748)”, dalam: Benjamin Franklin (Author) & A. Houston (Ed.), Franklin: The Autobiography and Other Writings on Politics, Economics, and Virtue, Cambridge Texts in the History of Political Thought, 2004: 200). Presiden/Gubernur Pennsylvania ke-6 sekaligus penulis Deklarasi Kemerdekaan Amerika tersebut, menulis kepada sahabatnya yang berinisial A. B. yang secara khusus mengatakan, “Ingatlah waktu itu adalah uang, Siapa yang bisa mendapatkan uang sebanyak sepuluh Shilling per hari dari hasil keringatnya, maka bila ia bermalas-malasan selama setengah hari, maka sebenarnya ia sudah membuang dengan sia-sia sebanyak lima Shilling.” Kalimat tersebut cukup panjang, hanya diterjemahkan kalimat inti dari nasehatnya.
Sekarang setelah membaca uraian Adam Smith, Voltaire, dan Franklin, lalu menuju pada suatu negeri yang utangnya sudah mencapai Rp7. 052 triliun pada akhir Maret 2022, pasti akan terpana pada ucapan seseorang berjas hitam yang berkata, “Uang kita banyak sekali di luar negeri … di situ dihitung ada 11 ribu triliun … uang di kantong saya lebih banyak, karena sumbernya berbeda!” (Humas Setkab, 25 November 2016). Tidak diketahui secara pasti apa kelanjutan dari isi kantongnya. Hanya saja kemudian keluar kalimat legendaris tambahan, “Plis inpes in mai kantri … ayem peri hepi.”
Jakarta, 26 Mei 2022

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini