Taruna Ikrar: Industri di Bawah Pengawasan BPOM Catat Revenue Rp6.000 Triliun per Tahun

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar memberikan penjelasan kepada media usai sesi Health Summit 2025 tentang peran BPOM dalam menjaga mutu produk dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
  • Prof Taruna Ikrar mendorong BPOM tak hanya menjaga mutu obat, pangan, dan kosmetik. Kontribusi real BPOM terhadap GDP Indonesia setiap tahun mencapai Rp6.000 triliun lebih. 
menitindonesia, JAKARTA — Di balik setiap obat yang menyelamatkan nyawa, setiap kosmetik yang memupuk rasa percaya diri, dan setiap pangan yang mengisi meja makan jutaan keluarga, ada kerja tanpa henti dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
BACA JUGA:
Direktur PPI Abubakar Solissa Menilai Kepemimpinan Bahlil di Golkar Sudah On The Track
Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., saat di temui usai menjadi narasumber CNBC Health Summit, di Jakarta, Rabu (13/8/2025), mengatakan bahwa lembaga negara ini tak hanya menjadi regulator, tapi juga motor penggerak ekonomi, penjaga mutu, dan mitra strategis bagi dunia usaha—mulai dari UMKM desa hingga raksasa industri yang menembus pasar global.

Rp6.000 Triliun Kontribusi untuk Negeri

Data terbaru menunjukkan, komoditas yang diawasi BPOM menghasilkan potensi ekonomi mencapai Rp6.000 triliun. Industri farmasi—termasuk obat bahan alami—diprediksi tumbuh 9,8% per tahun, menyentuh Rp176,3 triliun pada 2025. Industri kosmetik juga merangkak naik 4,73% per tahun menuju Rp110,29 triliun.
IMG 20250814 WA0001 11zon e1755138796663
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, memaparkan strategi kemandirian kesehatan nasional dalam Health Summit 2025, menekankan pentingnya ketahanan obat, alat kesehatan, dan vaksin untuk memperkuat sistem kesehatan Indonesia.
Namun bintang terbesar tetap pangan olahan, dengan proyeksi Rp4.388 triliun pada 2025, melonjak menjadi Rp5.499 triliun di 2029.
Taruna juga mengungkapkan, bahwa pasar global pun jadi ladang ekspansi. Nilai ekspor obat menembus Rp10,9 triliun, kosmetik Rp1,26 triliun, dan pangan olahan bahkan mencapai Rp175 triliun.

UMKM: Jantung Ekonomi yang Dijaga

Bagi Taruna Ikrar, menjaga mutu produk bukan hanya untuk industri besar. 99% pelaku usaha Indonesia adalah UMKM. Saat ini, BPOM mencatat: 1.043 UMKM obat bahan alami dengan 28.233 produk terdaftar, 1.153 UMKM kosmetik dengan 406 ribu lebih produk terdaftar, dan 9.800 UMKM pangan olahan yang telah mengantongi izin edar.
BACA JUGA:
Di Ajang Sulsel Talk BI, Jufri Rahman: Diversifikasi dan Hilirisasi Kunci Hadapi Tantangan Ekonomi Global
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional. Kami ingin mereka naik kelas, berdaya saing global, dan punya produk yang aman, bermanfaat, dan bermutu,” tegas Taruna.

Pengawasan dari Hulu ke Hilir dan Hidupi Jutaan Tenaga Kerja

Tugas BPOM tak berhenti di pabrik. Jutaan sarana distribusi pangan, hampir 75 ribu sarana distribusi obat, 35.816 apotek, 7.503 toko obat, 11.816 klinik, 3.168 rumah sakit, dan 9.428 puskesmas masuk dalam radar pengawasan. Sistem ini memastikan hanya produk lolos uji yang sampai ke tangan masyarakat.
Industri obat dan makanan menyerap tenaga kerja masif, yakni 63.863 orang di industri obat, 50.909 orang di industri obat bahan alami, dan 313.749 orang di industri kosmetik, serta 4,56 juta orang di industri pangan olahan.
“Setiap produk yang beredar tak cukup dengan angka-angka ekonomi saja, tapi ini nafkah bagi jutaan keluarga. Menjaga mutu berarti menjaga masa depan bangsa,” kata Taruna.

Visi 2045: Ekonomi Tumbuh 8%

BPOM menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional 8% pada 2045 melalui penguatan UMKM, peningkatan ekspor, dan harmonisasi standar global. Kolaborasi dengan industri, akademisi, dan pemerintah akan jadi kunci.
“Mulai dari pabrik ke pasar, dari desa hingga ke dunia, kami kawal. Kami ingin Indonesia dikenal bukan hanya sebagai pasar besar, tapi produsen unggul di mata dunia,” ujar Taruna Ikrar. (andi esse)