Prof. Taruna Ikrar, Kepala BPOM RI, 1 tahun kepemimpinannya dalam transformasi pengawasan obat dan makanan di Indonesia, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto.
Tepat setahun lalu, Jenderal TNI (Hor) Purn. Prabowo Subianto memanggil pulang Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., seorang ilmuwan dunia, untuk memimpin BPOM RI. Amanah itu menjadi panggilan sejarah: menjaga kesehatan rakyat dan mengawal kedaulatan bangsa melalui pengawasan obat dan makanan.
menitindonesia, JAKARTA — Setahun sudah Prof. Taruna Ikrar memegang amanah sebagai Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). Setahun yang lalu, Prabowo Subianto–ketika ditetapkan terpilih sebagai Presiden RI–memanggil pulang seorang ilmuwan dunia untuk mengabdi kembali kepada tanah air. Bagi Prof. Taruna, panggilan itu adalah sebuah kehormatan besar sekaligus panggilan sejarah untuk mengabdi kepada tanah air tercinta.
“Tidak ada kehormatan yang lebih besar selain dipanggil pulang untuk mengabdi,” ungkapnya.
Selama 12 bulan, perjalanan kepemimpinannya adalah cermin konsistensi, kerja keras, dan komitmen untuk mewujudkan BPOM yang lebih kuat, modern, dan mendunia.
Transformasi Regulasi dan Wajah Baru BPOM
Di bawah arahannya, BPOM memperkuat fondasi regulasi yang transparan sekaligus ramah bagi iklim usaha. Langkah digitalisasi pengawasan, penegakan hukum terhadap produk berbahaya, hingga operasi besar “zero tolerance” untuk kosmetik ilegal menjadi penanda awal perubahan.
Tak hanya itu, Prof. Taruna juga menjadikan BPOM sebagai mitra masyarakat. Kampanye edukasi publik tentang obat, makanan, dan kosmetik sehat dilakukan lebih masif, dengan pendekatan sederhana agar mudah dipahami semua kalangan.
Jejak kepemimpinan Prof. Taruna, memang tidak berhenti di dalam negeri. Dengan jejaring ilmiah yang luas, BPOM kini semakin aktif dalam forum internasional. Indonesia andil di bidang keamanan pangan dan obat, bahkan mengangkat nama bangsa dalam diskusi kesehatan global.
Undangan dari berbagai lembaga internasional, termasuk Harvard Medical School, menegaskan posisi strategis Indonesia di bidang pengawasan obat dan makanan. Semua capaian ini adalah bukti bahwa kepemimpinan ilmuwan dunia dapat mengangkat martabat bangsa di mata dunia.
Satu Tahun Baru Permulaan
Bagi Prof. Taruna, satu tahun hanyalah langkah awal dari perjalanan panjang pengabdian. Visi ke depan jelas: membangun BPOM yang bukan hanya pengawas, tetapi juga motor inovasi, pilar daya saing industri, dan pelindung kesehatan masyarakat.
“Perjalanan ini akan terus berlanjut demi Indonesia yang sehat, berdaya saing, dan mendunia,” tegasnya. (andi esse)