Prof Taruna Ikrar saat membawakan sambutan di Seminar Nasional Jamu 2025 di UNJ.
Prof Taruna Ikrar di UNJ ungkap sejarah amputasi 31 ribu tahun silam di Nusantara, dorong hilirisasi jamu bernilai Rp 350 triliun per tahun.
menitindonesia, JAKARTA – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Kamis (25/9/2025).
Penandatanganan MoU berlangsung di sela Seminar Nasional Jamu 2025 yang digelar di Gedung Dewi Sartika UNJ, Jakarta Timur.
Prof Taruna Ikrar mengatakan, MoU ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam kerangka Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—sekaligus mendukung penguatan sistem pengawasan obat dan makanan di Indonesia.
Kolaborasi Strategis dengan Perguruan Tinggi
Dalam sambutannya, Taruna Ikrar juga menegaskan bahwa perguruan tinggi adalah mitra strategis BPOM dalam meningkatkan efektivitas pengawasan dan memperluas jangkauan manfaat bagi masyarakat. Hingga kini, BPOM telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 160 perguruan tinggi di Indonesia, dan UNJ menjadi salah satu mitra terbaru yang secara lokasi paling dekat dengan kantor pusat BPOM.
“Kerja sama ini diarahkan untuk meningkatkan kompetensi SDM, membina pelaku usaha, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keamanan, mutu, dan khasiat obat serta makanan. Lebih dari itu, MoU ini juga membuka jalan bagi riset inovatif dan hilirisasi produk yang berdaya saing global,” ujar Prof Taruna.
Momen Istimewa: Seminar Nasional Jamu 2025
Penandatanganan MoU kali ini terasa istimewa karena dirangkaikan dengan Seminar Nasional Jamu 2025 yang mengangkat tema “Jamu dalam Perspektif Ketahanan dan Kebangkitan Nasional: Spiritualitas, Budaya, Kesehatan, dan Industri Sosial-Kerakyatan Masa Depan.”
Acara tersebut juga dihadiri Mayjen TNI (Purn) Prof. Dr. dr. Daniel Tjen, Sp.S., sahabat lama Taruna Ikrar, yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Jamu Indonesia. Taruna menyebut, kehadiran Prof Daniel Tjen menjadi simbol kuat sinergi antara akademisi, praktisi kesehatan, dan regulator dalam mendorong pelestarian jamu sebagai warisan budaya sekaligus potensi industri kesehatan masa depan.
Prof Taruna Ikrar ungkap sejarah amputasi 31 ribu tahun lalu di Nusantara, teken MoU BPOM–UNJ.
Jamu dalam Perspektif Sejarah Nusantara
Dalam kesempatan itu, Prof Taruna mengutip sebuah penemuan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional terkemuka. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa sekitar 31 ribu tahun silam, praktik amputasi pertama di dunia dilakukan di Borneo, Nusantara. Seorang pasien diamputasi kakinya karena penyakit, dan fakta mengejutkan: pasien itu masih bisa bertahan hidup sembilan tahun setelah operasi.
“Pertanyaannya, obat apa yang dipakai pada masa itu? Jawabannya adalah ramuan-ramuan herbal. Artinya, sejak 31 ribu tahun lalu Nusantara sudah unggul dalam pemanfaatan media kesehatan berbasis alam,” ungkap Taruna Ikrar di hadapan peserta seminar.
Potensi Ekonomi Ratusan Triliun
Kekayaan hayati Nusantara menjadi modal besar bagi Indonesia dalam mengembangkan jamu dan obat tradisional. Data BPOM mencatat, terdapat lebih dari 18 ribu produk jamu yang telah mengantongi izin edar. Jika dikelola dengan baik, potensi industri ramuan obat Indonesia bisa menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp 350 triliun setiap tahun.
“Penetapan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO harus menjadi motivasi bagi kita semua untuk melanjutkan tradisi luhur ini. Dengan sinergi riset, hilirisasi, dan industrialisasi, jamu bisa menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus kebanggaan bangsa,” tegas Taruna.
Taruna menegaskan, kolaborasi BPOM dan UNJ ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam hal penguatan SDM, sains, dan kesehatan (Asta Cita 4), serta hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri (Asta Cita 5).
“BPOM mengemban amanah besar sebagai regulator, bukan hanya melindungi kesehatan masyarakat, tapi juga menggerakkan roda ekonomi. Dengan sertifikat dan izin yang kami keluarkan, industri bisa tumbuh, menghasilkan keuntungan, dan secara total berdampak pada perekonomian hingga Rp 6.000 triliun,” jelasnya.
Di akhir sambutannya, Prof Taruna mengajak seluruh pihak untuk terus meningkatkan sinergi dan kolaborasi. “Hilirisasi menjadi komitmen kolektif untuk mengubah potensi menjadi produk nyata, kekayaan alam menjadi kesejahteraan, dan inovasi menjadi kemajuan. Mari bersama membangun Indonesia sehat, Indonesia maju, menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (andi esse)