Dulu Dibuli, Kini Jadi Sarjana Terbaik se-Indonesia: Kisah Hebat Ja’far

Ja'far Hasibuan, pegiat kesehatan yang kini buktikan berbagai prestasi
  • Kisah inspiratif Ja’far, dari mahasiswa UIN Sumut yang dulu dibuli hingga jadi sarjana terbaik se-Indonesia dan raih beasiswa luar negeri.
menitindonesia, JAKARTA — Awalnya Ja’far Hasibuan hanya anak kampus yang sering dibuli karena dianggap salah jurusan. Tapi siapa sangka, mahasiswa UIN Sumatera Utara itu kini menjelma menjadi sarjana terbaik se-Indonesia, dikenal berprestasi di tingkat nasional dan dunia. Dari kampus sederhana, Ja’far melangkah jauh hingga mendapat tawaran beasiswa penuh S2 dan S3 di Tiongkok, dengan satu tekad: menjadikan ilmunya bermanfaat bagi pengobatan gratis rakyat Indonesia.
“Awalnya saya cuma anak kampus yang sering dibuli,” kenang Ja’far kepada jurnalis media ini, Rabu (22/10/2025). Ia tersenyum mengenang masa kuliahnya.
BACA JUGA:
Ustad Das’ad Latief Puji Prof. Taruna Ikrar, Sebut BPOM Sebagai ‘Pusat Peradaban’
Saat pertama kali masuk ke jurusan kesehatan, ia tak menyangka langkah kecilnya akan menjadi awal dari perjalanan luar biasa.
Ja’far mengaku sering diremehkan. “Banyak yang bilang saya salah jurusan, karena latar belakang saya bukan dari keluarga dokter. Tapi justru dari situ saya belajar membuktikan diri,” ujarnya dalam sambutannya di sebuah acara pendidikan.
Tekanan itu tidak membuatnya mundur. Ja’far justru semakin bersemangat menekuni dunia kesehatan. Ia menyadari, bidang ini bukan sekadar soal gelar atau status sosial, tetapi soal pengabdian dan manfaat bagi sesama.
Setelah menamatkan studi sarjananya di UIN Sumatera Utara, jurusan Bimbingan dan Konseling, pada 2015, Ja’far memutuskan fokus pada kompetisi nasional dan internasional. Ia aktif meneliti, menjadi relawan di pelosok desa, dan mengabdikan diri untuk masyarakat.
“Dari desa ke desa saya belajar tentang arti kemanusiaan. Bahwa kesehatan bukan cuma soal obat, tapi tentang kepedulian,” tuturnya.

Jadi Sarjana Terbaik hingga Beasiswa Penuh

Usahanya membuahkan hasil. Tahun 2016, Ja’far dinobatkan sebagai Sarjana Terbaik 1 se-Indonesia, mengalahkan lulusan dari berbagai universitas, dari Sabang sampai Merauke. Prestasi ini merupakan kerja sama antara Istana Negara, Kementerian Kominfo, LKBN Antara, dan Arsip Nasional RI. Penghargaan itu bahkan disiarkan di berbagai stasiun televisi nasional—momen yang hingga kini masih membekas di hatinya.
BACA JUGA:
Prof Taruna Ikrar: 18.000 Jamu dan 600.000 Kuliner Adalah Kekayaan Budaya yang Tak Ternilai
Namun, langkah Ja’far tidak berhenti di situ. Tiga tahun lalu, ia mendapatkan tawaran beasiswa penuh (full scholarship) dari salah satu universitas ternama di Tiongkok untuk melanjutkan studi S2 dan S3. Meski sempat menolak karena merasa belum siap mental, kini ia memantapkan diri untuk berangkat.
“Saya ingin melanjutkan doktoral, entah di Tiongkok atau universitas luar negeri lain. Tapi tujuan saya tetap sama: supaya penelitian saya bisa jadi dasar pengobatan gratis bagi masyarakat Indonesia,” kata Ja’far dengan mata berbinar.
Bagi Ja’far, pendidikan bukan sekadar jalan pribadi menuju sukses, tetapi tangga untuk menolong orang lain. Dari anak yang dulu dibuli, kini ia menjadi inspirasi banyak mahasiswa muda di seluruh Indonesia—sebuah bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari keberanian kecil untuk tidak menyerah. (*)