Anggota DPRD Maros, Alwyldan Mustahir befoto bersama dengan warga pelosok Tompobulu. (ist)
menitindonesia, MAROS – Anggota DPRD Kabupaten Maros, Alwyldan Mustahir, kembali turun langsung menyerap aspirasi warga dalam agenda Reses di wilayah pelosok Kecamatan Tompobulu, Selasa (18/11/2025).
Reses tersebut dipusatkan di salah satu dusun terpencil yang selama ini dikenal memiliki akses infrastruktur dan layanan publik yang masih terbatas.
Dalam dialog bersama masyarakat, Wyldan menerima sejumlah keluhan yang mendominasi kehidupan warga pelosok, mulai dari akses jalan yang rusak, minimnya sarana pertanian, hingga persoalan layanan pendidikan dan kesehatan yang belum merata.
“Aspirasi masyarakat di daerah pelosok seperti Tompobulu ini harus benar-benar kita dengar. Banyak dari mereka yang bertahun-tahun mengalami akses jalan buruk, kesulitan membawa hasil panen, hingga keterbatasan sarana sekolah dan puskesmas pembantu,” ujar Wyldan.
Menurutnya, kondisi jalan penghubung antar-dusun yang rusak parah menjadi masalah utama yang menghambat aktivitas warga. Para petani mengaku kesulitan menjual hasil kebun karena harus melalui jalur berbatu dan berlumpur, terutama saat musim hujan.
“Warga minta agar pemerintah lebih memperhatikan perbaikan jalan. Mereka hanya ingin jalur transportasi yang layak supaya ekonomi mereka bisa bergerak,” kata legislator muda dari Fraksi PAN tersebut.
Selain infrastruktur, warga juga mengeluhkan minimnya tenaga kesehatan dan fasilitas pendidikan. Beberapa dusun bahkan masih mengandalkan guru honorer dengan fasilitas sekolah yang terbatas.
“Bayangkan, ada warga yang harus berjalan kaki sejauh beberapa kilometer hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan dasar. Ini jelas butuh perhatian serius,” tambahnya.
Wyldan menegaskan bahwa aspirasi yang dihimpun tidak akan berhenti pada pencatatan semata. Ia berkomitmen untuk memperjuangkan usulan masyarakat Tompobulu dalam pembahasan anggaran dan program pembangunan daerah.
“Kami akan kawal semua masukan ini. Saya ingin masyarakat di pelosok merasakan pemerataan pembangunan, bukan hanya warga di pusat kecamatan atau kota. Saya percaya pembangunan yang adil harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.
Kegiatan reses juga diwarnai diskusi interaktif antara warga dan legislator. Beberapa warga menyampaikan harapan agar pemerintah memperbaiki jaringan telekomunikasi yang masih belum stabil, serta membuka ruang pelatihan bagi pemuda desa agar tidak tertinggal dalam hal keterampilan kerja.
“Kami bangga karena ada wakil rakyat yang mau datang jauh-jauh ke tempat kami. Semoga aspirasi kami benar-benar diperjuangkan,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Di akhir kegiatan, Wyldan menegaskan bahwa kunjungannya ke pelosok bukan sekadar agenda formal, melainkan tanggung jawab moral sebagai wakil rakyat. “Ini bukan hanya soal reses, tapi tentang memastikan suara warga pelosok tetap didengar,” tuturnya.