Mayor Jenderal TNI (Purn) Marga Taufiq berdiri di bawah naungan trembesi di kawasan Stadion Mattoanging, Makassar. Pohon-pohon itu menjadi jejak sunyi pengabdian—ditanam dengan disiplin, tumbuh menjadi keteduhan yang dinikmati banyak orang.
Ratusan pohon trembesi di sekitar Stadion Mattoanging bukan sekadar peneduh Kota Makassar. Di baliknya, ada jejak sunyi Mayjen TNI (Purn) Dr Marga Taufiq yang memilih menanam warisan, bukan meninggalkan monumen.
menitindonesia, JAKARTA — Pohon-pohon itu berdiri diam, tetapi bekerja tanpa henti. Daunnya menyaring panas, akarnya mengikat tanah, dan kanopinya menghadiahkan keteduhan bagi siapa pun yang melintas. Di sekitar Stadion Mattoanging, Makassar, ratusan trembesi tumbuh menjadi saksi perubahan kota—dan penanda jejak sunyi seorang jenderal.
Stadion Mattoanging dibangun menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) IV tahun 1957. Kala itu, perkebunan eks-Belanda dibabat demi pembangunan stadion di kawasan pesisir. Stadion ini kemudian menjadi rumah PSM Makassar, klub kebanggaan Sulawesi Selatan, dengan pendukung fanatik yang setia mengikuti “Juku Eja” ke mana pun berlaga.
Nama Mattoanging berasal dari bahasa Makassar: matoa (melirik) dan anging (angin). Dahulu, kawasan ini menjadi tempat awak kapal pinisi “bermandi angin” sebelum berlayar. Namun, seiring waktu, Makassar justru dikenal sebagai kota panas. Minim pepohonan dan pembangunan yang masif membuat suhu udara kian meninggi.
Lembaga Climate Central bahkan pernah menempatkan Makassar sebagai salah satu kota terpanas di Asia Tenggara.
“Alhamdulillah, belakangan setiap saya ke Makassar, terasa lebih sejuk dibanding dulu,” ujar Mayjen TNI (Purn) Dr Marga Taufiq.
Jenderal bintang dua kelahiran Makassar, 17 April 1964, itu adalah saksi sekaligus pelaku dari perubahan kecil yang ikut menurunkan panas kota—melalui ratusan pohon trembesi yang ia tanam dan rawat dengan disiplin.
Menanam dengan Disiplin
Karier militernya dimulai di Maros, Sulawesi Selatan, sebagai Letnan Dua Yonif 432/Waspada Setia Jaya. Ia kemudian berputar di berbagai satuan Kostrad di Jawa, sebelum kembali ke Sulawesi selepas pendidikan Seskoad. Titik penting datang ketika ia menjabat Dandim 1408/Bangsamoro Makassar pada 2006–2009.
Di Makassar itulah Marga Taufiq mulai belajar serius tentang menanam pohon. Gurunya adalah Kolonel Inf Doni Monardo, saat itu Komandan Brigif Para Raider 3/Tri Budi Sakti di Kariango. Bersama almarhum Andi Tenry “Onny” Gappa, Doni Monardo mengubah markas brigade yang gersang menjadi kawasan hijau oleh ribuan trembesi. Dari sana, bibit-bibit trembesi dikembangbiakkan dan disebar ke berbagai daerah.
“Bahasanya koordinasi, tapi sebenarnya saya berguru,” kata Marga Taufiq. Ia belajar bukan hanya soal teknis, melainkan juga filosofi: menanam pohon adalah soal kesabaran dan tanggung jawab.
Ilmu itu langsung ia praktikkan. Sasaran pertama adalah kawasan sekitar Stadion Mattoanging. Sebanyak 105 bibit trembesi dari Brigif Kariango ditanam mengelilingi stadion. Setiap pohon “diasuh” satu atau dua prajurit. Jika mati, ada sanksi. “Cari bibit pengganti, rawat lagi,” ujarnya mengenang ketegasan masa itu.
Perawatan dilakukan rutin. Setiap sore tanaman dicek. Dua minggu sekali, olahraga prajurit di sekitar stadion disertai ember dan cangkul. Trembesi-trembesi muda itu harus bertahan dari panas, kekurangan air, hingga gangguan manusia.
Ia pun berkoordinasi dengan panitia pertandingan. Setiap laga kandang PSM, puluhan personel pengamanan ditugaskan—bukan hanya menjaga ketertiban, tetapi juga melindungi pohon-pohon muda dari injakan massa.
Anak-anak Pohon
Hampir tiga tahun perhatiannya tercurah ke Mattoanging. Setelah itu, ketika menjabat Kasbrigif Kariango, gerakan menanam pohon diperluas ke berbagai sudut Makassar, termasuk Jalan Pangayoman dan Cenderawasih. Tak semua langsung setuju. Namun, waktu membuktikan manfaatnya.
Dua dekade berlalu. Pohon-pohon itu tumbuh besar, kanopinya melebar. Saat berkunjung ke Makassar pada 2015, Marga Taufiq menyempatkan diri menengok Mattoanging. Sekitar seratus trembesi masih berdiri kokoh. Akhir 2025, setelah pensiun dan menjabat Wakil Direktur Utama Bulog, ia kembali lagi. Stadion rusak dan menunggu renovasi, tetapi pohon-pohon itu tetap setia meneduhkan.
Suatu sore, ia duduk di warung kecil dekat lapangan bersama istrinya. Seorang ibu penyapu lewat. Ia bertanya, “Bu, siapa yang menanam pohon-pohon ini?”
“Dulu pak tentara,” jawab si ibu. “Orangnya keras. Anak buahnya dimarahi kalau tidak merawat.”
Marga Taufiq tersenyum. “Sekarang, setiap melihat pohon-pohon itu, rasanya seperti menengok anak-anak,” katanya pelan.
Pengalaman tugasnya sebagai observer PBB di Tajikistan kian menguatkan keyakinan itu. Di sana, memangkas ranting pohon tanpa izin adalah tindak pidana. Alam benar-benar dijaga oleh negara.
Kini, di Mattoanging, trembesi-trembesi itu berdiri sebagai saksi. Tentang seorang perwira yang pernah keras pada prajuritnya, tetapi lembut pada pohon. Tentang keyakinan sederhana bahwa jejak paling abadi bukanlah pangkat atau jabatan, melainkan keteduhan yang kelak dinikmati orang lain. (egy massadiah)