Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Prof. Taruna Ikrar meninjau langsung dapur besar milik Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di Cipinang, Jakarta Timur, memastikan keamanan dan mutu Program Makan Bergizi Gratis sejak tahap produksi.
BPOM hadir sejak subuh. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Prof. Taruna Ikrar turun langsung ke dapur besar milik Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk memastikan makanan yang disantap anak-anak sekolah benar-benar aman. Ia juga menegaskan, ini diawasi dari hulu hingga hilir.
menitindonesia, JAKARTA — Selepas menunaikan shalat subuh, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) Prof. Taruna Ikrar langsung bergerak ke lapangan. Bersama Tim Satgas Pengawas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) BPOM, ia melakukan pemantauan mendadak ke dapur besar milik Polri di Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (21/1/2026).
Inspeksi ke dapur besar milik Polri tersebut merupakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)—salah satu titik paling strategis dalam rantai penyediaan pangan Program Makan Bergizi Gratis, yang setiap hari menyiapkan ribuan porsi makanan untuk anak-anak sekolah.
Didampingi Sekretaris Utama BPOM Jayadi, Deputi III Elin Herlina, Deputi IV Tubagus Ade, Staf Ahli Bidang Medsos dan Humas Akbar Endra, Kepala Balai Besar POM Jakarta, serta Kepala Biro Umum, Taruna menelusuri setiap sudut SPPG Polri tersebut. Ia memperhatikan proses pengolahan, pengemasan, hingga kesiapan distribusi makanan yang akan dikirim ke sekolah-sekolah.
Di hadapan para pengelola dapur Polri, Taruna menegaskan bahwa pengawasan ketat ini adalah mandat langsung Presiden. “Ini perintah Presiden, sesuai Perpres Nomor 115 Tahun 2025 tentang Program Makan Bergizi Gratis. Pengawasan harus dilakukan dari hulu sampai hilir, agar yang dikonsumsi anak-anak benar-benar aman, sehat, dan layak,” tegas Taruna.
Ketua Pelaksana Gugus Tugas MBG Polri, Irjen Nurworo Danang, SIK, yang mendampingi kunjungan tersebut, menegaskan bahwa tidak boleh ada standar ganda dalam penyediaan pangan.
“Standarnya sama. Baik dikelola Polri maupun masyarakat, pangan yang disajikan harus memenuhi standar keamanan dan mutu yang sama,” ujarnya.
Infografis pengawasan BPOM terhadap Program Makan Bergizi Gratis, mulai dari dapur besar Polri, distribusi ke SDN 05 Jati Pulo Gadung, hingga pengujian pangan melalui mobil laboratorium keliling BPOM.
Distribusi dari Dapur Polri hingga SDN 05 Jati Diawasi Ketat
Dari dapur besar Polri di Cipinang, rombongan Kepala BPOM RI bergerak ke hilir: SD Negeri 05 Jati, Pulo Gadung. Sekolah ini memiliki makna simbolik tersendiri. Di tempat inilah sebelumnya Prabowo Subianto pernah hadir langsung meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis—menjadi penegasan bahwa negara mengawal gizi anak hingga ke ruang kelas.
Di sekolah tersebut, Prof Taruna Ikrar dan rombongannya menyaksikan langsung kendaraan pengantar makanan tiba tepat waktu. Ia memantau proses pembagian, lalu melihat para siswa membuka kotak makan mereka di dalam kelas—momen sederhana yang menjadi tujuan akhir seluruh rantai pengawasan.
Menurut Taruna, distribusi adalah titik krusial dalam keberhasilan program.
“Makanan harus tiba tepat waktu, dalam kondisi aman, dan langsung bisa dikonsumsi. Kalau terlambat atau rusak di jalan, manfaatnya berkurang,” ujarnya.
Di salah satu kelas, Taruna berbincang dengan para siswa. Ia menjelaskan manfaat Program Makan Bergizi Gratis bagi kesehatan dan kecerdasan, sembari berbagi kisah masa kecilnya.
“Waktu kecil saya sering dipaksa sarapan dulu baru boleh berangkat sekolah. Sekarang saya paham, itu bekal energi untuk belajar,” ucapnya, disambut senyum anak-anak.
Bagi Taruna, MBG merupakan pesan moral negara kepada generasi penerus. “Ini bukti kasih sayang Bapak Presiden Prabowo kepada seluruh anak Indonesia, agar tumbuh sehat, kuat, dan cerdas,” katanya.
Dalam pemantauan tersebut, Taruna Ikrar juga menemukan satu detail kecil yang mencerminkan pendekatan humanis program ini. Seorang siswa diketahui memiliki fobia terhadap nasi. Menu anak itu pun langsung disesuaikan—nasi diganti kentang sebagai sumber karbohidrat. “Setiap anak berbeda. Yang penting gizinya tercukupi,” ujarnya.
Pada hari yang sama, BPOM juga menurunkan mobil laboratorium keliling milik Balai Besar BPOM Jakarta. Mobil ini akan berkeliling ke sejumlah SPPG, untuk memeriksa kandungan gizi serta mendeteksi kemungkinan adanya cemaran pada makanan yang disajikan kepada penerima manfaat.
Langkah ini menegaskan bahwa pengawasan BPOM tidak berhenti pada administrasi, tetapi berbasis pengujian ilmiah langsung di lapangan.
Berdasarkan Peraturan Presiden, kata Taruna, BPOM memang ditugaskan khusus untuk mengawal Program Makan Bergizi Gratis dari sisi keamanan dan mutu pangan—mulai dari dapur produksi, distribusi, hingga makanan benar-benar dikonsumsi anak-anak di ruang kelas.
Dari dapur besar Polri hingga bangku-bangku kayu di ruang kelas SD, kunjungan hari itu menegaskan satu hal: Program Makan Bergizi Gratis dijalankan dengan disiplin negara untuk membangun masa depan—satu piring demi satu piring. (AE)