menitindonesia, MAKASSAR — Jumlah pengangguran di Sulawesi Selatan (Sulsel) sepanjang 2025 kembali meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat, hingga November 2025 jumlah pengangguran bertambah 9,84 ribu orang sehingga mencapai 0,22 juta orang atau sekitar 220 ribu orang.
Kepala BPS Sulsel Aryanto mengatakan, kenaikan pengangguran terjadi seiring menurunnya jumlah penduduk yang bekerja. Dari total 4,92 juta orang angkatan kerja di Sulsel, sebanyak 4,70 juta orang tercatat bekerja atau turun 56,73 ribu orang dibandingkan periode sebelumnya.
“Dari angkatan kerja 4,92 juta orang, yang bekerja sebanyak 4,70 juta orang mengalami penurunan 56,73 ribu orang. Sementara pengangguran mencapai 0,22 juta orang dan bertambah 9,84 ribu orang,” kata Aryanto dalam paparan resminya.
Meski demikian, BPS mencatat terjadi pergeseran pada status pekerjaan. Jumlah pekerja penuh justru mengalami peningkatan. Pada November 2025, pekerja penuh mencapai 2,99 juta orang atau naik 9,91 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, jumlah pekerja paruh waktu turun 14,42 ribu orang menjadi 1,39 juta orang. Adapun setengah pengangguran mengalami penurunan cukup signifikan, yakni berkurang 52,22 ribu orang dengan total 0,33 juta orang.
Aryanto menjelaskan, pekerja penuh merupakan penduduk yang bekerja lebih dari 35 jam per minggu. Pekerja paruh waktu bekerja kurang dari 35 jam per minggu dan tidak mencari pekerjaan lain, sedangkan setengah pengangguran bekerja kurang dari 35 jam per minggu namun masih mencari pekerjaan tambahan.
Dari sisi struktur ketenagakerjaan, jumlah penduduk usia kerja di Sulsel atau penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 7,37 juta orang pada November 2025. Dari jumlah tersebut, angkatan kerja tercatat sebanyak 4,92 juta orang, sementara bukan angkatan kerja mencapai 2,45 juta orang.
Secara tahunan, jumlah angkatan kerja tercatat turun 46,90 ribu orang. Sebaliknya, penduduk yang bukan angkatan kerja justru meningkat 70,69 ribu orang.
Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja Sulsel masih menghadapi tantangan. Kenaikan pengangguran dan penurunan jumlah penduduk bekerja menjadi sinyal penting bagi perumusan kebijakan ketenagakerjaan ke depan, meski terdapat perbaikan pada peningkatan jumlah pekerja penuh.