Chaidir Syam Catat Rekor Sebagai Bupati Sulsel Pertama Sandang Dua Gelar Doktor

Bupati Maros, Chaidir Syam saat dinyatakan lulus dalam ujian doktoral ilmu politik di Unhas. (ist)
menitindonesia, MAROS — Bupati Maros, Chaidir Syam, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Politik setelah menjalani sidang terbuka promosi doktor pada Program Studi Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Rabu (12/2/2026).
Gelar tersebut menjadikan Chaidir sebagai satu-satunya kepala daerah di Sulawesi Selatan yang berhasil meraih dua gelar doktor dari dua bidang ilmu berbeda.
Sebelumnya, pada 2024 lalu, Chaidir meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
Sidang promosi doktor tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto yang bertindak sebagai penguji eksternal.
Dalam disertasinya yang berjudul “Partai Politik dalam Perspektif Demokrasi: Studi Fenomena Calon Tunggal pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Maros Tahun 2024”, Chaidir mengkaji fenomena calon tunggal dalam Pilkada Maros 2024.

BACA JUGA:
Wamendagri Bima Arya Jadi Penguji Promosi Doktor Bupati Maros

Pada kontestasi tersebut, Chaidir maju berpasangan dengan Muetazim Mansyur sebagai satu-satunya kandidat, setelah rencana duet dengan Suhartina Bohari batal karena tidak lolos tes kesehatan.
Chaidir menjelaskan, penelitian tersebut tidak hanya mengulas teori politik, tetapi juga dinamika yang ia alami langsung, termasuk fenomena kolom kosong dan pergantian calon wakil bupati di tengah tahapan pilkada.

BACA JUGA:
Didikan Disiplin Ayah hingga Menyandang Gelar Doktor, Marjan Massere Ukir Sejarah di DPRD Maros

“Saya ingin menuangkan pengalaman itu secara akademik sebagai bahan evaluasi bagi penyelenggara pemilu, seperti KPU dan Bawaslu. Ada aturan-aturan yang menurut saya perlu dikaji ulang,” ujarnya usai sidang promosi di Aula Prof Amiruddin, Unhas.
Ia mencontohkan aturan batas waktu tiga hari bagi partai untuk kembali memberikan dukungan sebagai salah satu temuan yang layak dievaluasi.
Chaidir mengaku mulai menggarap disertasinya pada Desember 2024, usai pelaksanaan Pilkada. Di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah, ia membagi waktu antara tugas pemerintahan dan kegiatan akademik, baik secara luring maupun daring.
“Alhamdulillah bisa selesai. Wakil bupati juga ikut membantu mengatur waktu kegiatan pemerintahan agar saya tetap bisa menyelesaikan studi,” katanya.
Dalam proses penyusunan disertasi, mantan Ketua DPRD Maros itu menggabungkan tiga metodologi penelitian untuk menjaga objektivitas. Ia juga melibatkan sejumlah responden guna meminimalisir bias, mengingat sebagian fenomena yang diteliti merupakan pengalaman pribadinya.
Pada momen penyampaian sambutan, Chaidir tampak haru saat mengenang almarhum ayahnya, Andi Syamsuddin.
“Semoga Allah menempatkan beliau bersama orang-orang beriman,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada ibundanya, Hj Andi Nadjemiah, serta sang istri, Ulfiah Nur Yusuf, yang disebutnya menjadi penyemangat utama dalam menyelesaikan studi doktoralnya.
“Istri saya yang terus mendorong saya. Saya hampir menyerah, tetapi beliau terus memberi semangat,” tuturnya.
Chaidir menyebut motivasinya melanjutkan studi doktoral Ilmu Politik dilandasi latar belakang pendidikan dan pengalaman politiknya selama 13 tahun sebagai anggota legislatif sebelum menjabat Bupati Maros.
“Dasar keilmuan saya ilmu politik dan pemerintahan. Ketika program S3 Ilmu Politik terbuka, saya ingin kembali memperdalam secara linier,” jelasnya.
Ia berharap kajian tentang fenomena calon tunggal dan kolom kosong dapat menjadi kontribusi akademik sekaligus mendorong perbaikan kualitas demokrasi di Indonesia.