Langkah Global Taruna Ikrar: BPOM Perkuat Posisi di Harvard dan Industri Nutrisi Dunia

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyampaikan materi dalam forum ilmiah di Harvard Medical School, Boston, membahas tantangan vaksin modern dan penguatan peran Indonesia dalam kesehatan global.
  • Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., memperluas peran Indonesia di panggung kesehatan global melalui forum ilmiah di Harvard Medical School dan pertemuan strategis dengan Mead Johnson Nutrition di Boston.
menitindonesia, BOSTON — Di kota yang menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia, langkah Prof. Taruna Ikrar tidak berhenti pada forum akademik. Ia bergerak lebih jauh—menyambungkan sains, industri, dan kepentingan negara dalam satu garis kebijakan.
Undangan sebagai pembicara di Harvard menjadi pintu masuk. Dalam forum tersebut, Taruna mengangkat isu strategis tentang penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS) dan tantangan pengembangan vaksin modern—mulai dari teknologi mRNA hingga distribusi global yang adil.
BACA JUGA:
TNI Gugur dalam Misi PBB, Kemenlu RI Desak Investigasi Serangan di Lebanon
Namun, bagi BPOM, forum ilmiah bukan hanya ruang presentasi. Ia adalah arena untuk menegaskan posisi: bahwa regulator harus mampu menyeimbangkan inovasi dan keamanan dalam waktu yang bersamaan.
“Regulator tidak lagi hanya menjadi penjaga gerbang, tetapi harus mampu menyeimbangkan inovasi, keamanan, dan kepercayaan publik,” ujar Taruna, saat di Boston (30/3/2026).
Langkah itu berlanjut ke pertemuan strategis dengan Alessio Fasano dari Mead Johnson Nutrition.
Di ruang pertemuan itu, pembahasan bergeser ke isu yang lebih konkret: inovasi produk susu dan pangan olahan berbasis sains, serta peluang kerja sama untuk meningkatkan kualitas nutrisi anak di Indonesia.
BPOM menegaskan satu prinsip yang tidak berubah—bahwa setiap inovasi harus melewati proses evaluasi ilmiah yang ketat, mulai dari manfaat, keamanan, hingga kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Picsart 26 03 31 07 58 22 062 11zon e1774919204101

Menjaga Batas antara Inovasi dan Kepentingan Publik

Kerja sama yang dibahas tidak berdiri dari nol. Sebelumnya, BPOM telah menjalankan program International Short Course in Food Safety (ISCFS) bersama Michigan State University dengan dukungan Mead Johnson.
Program ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat kapasitas pengawasan pangan nasional, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan sebagai pusat pelatihan regional di kawasan Asia Tenggara.
BACA JUGA:
Dokter Muda Tewas Usai Tangani Campak, Kemenkes Ungkap Kronologi Lengkap
Meski demikian, BPOM tetap menjaga batas yang tegas. Kolaborasi dilakukan dalam kerangka Academia-Business-Government, dengan memastikan independensi regulator tetap terjaga melalui pelibatan institusi akademik.
Di titik inilah arah baru mulai terlihat.
Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar bagi produk global. Dengan populasi besar dan tantangan kesehatan yang kompleks, Indonesia mulai menempatkan diri sebagai aktor yang ikut menentukan standar—baik dalam regulasi, riset, maupun inovasi.
Dari Harvard hingga pertemuan industri di Boston, langkah Taruna Ikrar membawa satu pesan yang sama: masa depan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh keberanian negara dalam menjaga keseimbangan antara inovasi dan keselamatan publik. (AE)