Harga Avtur Melonjak Akibat Perang, Tiket Pesawat Dipatok Naik Maksimal 13 Persen

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat memberikan keterangan pers terkait kenaikan harga energi dunia. (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Pemerintah memastikan harga tiket pesawat tetap terkendali meski harga avtur melonjak akibat konflik yang meluas di Timur Tengah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan avtur merupakan bahan bakar non-subsidi yang harganya mengikuti mekanisme pasar global.
“Kalau kita tidak menyesuaikan, maskapai lain bisa memanfaatkan perbedaan harga tersebut,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, Senin (6/4/2026).
Meski demikian, pemerintah menegaskan tidak akan membiarkan harga tiket pesawat melonjak liar. Sejumlah langkah mitigasi disiapkan untuk menjaga daya beli masyarakat, sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto.
Airlangga mengungkapkan, avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional penerbangan, sehingga kenaikan harganya berpotensi langsung berdampak pada tarif tiket.

BACA JUGA:
Pajak Tembus Rp394,8 Triliun, Ekonomi RI Disebut Makin Bergairah

“Yang kita jaga adalah harga tiket tetap terjangkau,” tegasnya.
Salah satu langkah yang diambil adalah pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) melalui skema Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp1,3 triliun per bulan.
Program ini akan berjalan selama dua bulan dengan total anggaran mencapai Rp2,6 triliun.
Selain itu, pemerintah menetapkan fuel surcharge sebesar 38 persen untuk seluruh jenis pesawat, sehingga maskapai memiliki ruang penyesuaian tarif.
Dengan kombinasi kebijakan tersebut, pemerintah membatasi kenaikan harga tiket pesawat domestik kelas ekonomi di kisaran 9 hingga 13 persen.
“Tujuannya agar tetap terjangkau bagi masyarakat,” jelasnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan insentif pembebasan bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0 persen guna menekan biaya operasional maskapai.
Di tengah tekanan global, harga avtur di Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan negara lain di kawasan.
Per 1 April 2026, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta tercatat Rp23.551 per liter. Angka ini lebih rendah dibandingkan Thailand yang mencapai Rp29.518 per liter dan Filipina Rp25.326 per liter.
Kenaikan harga avtur sendiri dipicu situasi geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara AS-Israel dan Iran yang berdampak pada terganggunya pasokan energi global, termasuk penutupan Selat Hormuz.
Meski begitu, pemerintah memastikan kondisi energi nasional, termasuk stok bahan bakar minyak (BBM), masih dalam kondisi aman.
“Stok kita masih di atas level aman, jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” pungkas Airlangga.