Taruna Ikrar Bicara di Markas PBB, BPOM Indonesia Tancap Gas Rebut Panggung Regulasi Obat Dunia

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar tampil secara daring saat menyampaikan pidato kunci pada Global Health and Medicine Forum di Ruang UNCA, Markas Besar PBB, New York, Rabu (8/4/2026). Dalam forum internasional itu, Indonesia menegaskan komitmen memperkuat ekosistem regulasi obat global.
  • Dari Jakarta ke New York, Indonesia menunjukkan diri bukan hanya pasar kesehatan global, tetapi pemain yang mulai menentukan arah kebijakan dunia.
menitindonesia, JAKARTA — Indonesia mulai menegaskan posisi baru dalam percaturan kesehatan global. Melalui Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., pemerintah menyampaikan komitmen memperkuat ekosistem regulasi obat dunia dalam Global Health and Medicine Forum yang berlangsung di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, Rabu (8/4/2026), lalu.
BACA JUGA:
Harga Pangan Naik, Mendagri Tekankan Peran Daerah Kendalikan Inflasi
Forum internasional yang diselenggarakan UNITAR itu mempertemukan regulator, pembuat kebijakan, akademisi, dan pelaku industri kesehatan dari berbagai negara. Agenda utamanya membahas ketahanan rantai pasok, percepatan inovasi, serta kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan global.
Dalam pidato kunci bertajuk Strengthening the Global Medicines Regulatory Ecosystem: Indonesia’s Contribution to Global Health, Taruna menegaskan pentingnya sistem regulasi yang kuat, adaptif, dan kolaboratif.
“Indonesia berkomitmen membangun sistem regulasi yang kredibel dan berstandar internasional, sekaligus memastikan akses masyarakat terhadap produk medis yang aman, berkhasiat, dan bermutu,” ujar Taruna.
Momentum itu menandai meningkatnya peran Indonesia dalam tata kelola kesehatan internasional, terutama setelah keberhasilan meraih status WHO-Listed Authority untuk vaksin pada Desember 2025. Pengakuan tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara berkembang pertama yang memperoleh status itu.

file 00000000e77c72069cd2fc6df06635bd 11zon e1776748783361

Status tersebut memperkuat kepercayaan dunia terhadap sistem pengawasan Indonesia, membuka peluang kerja sama regulatory reliance, sekaligus memperbesar kesempatan industri farmasi nasional masuk ke rantai pasok global.
Selain itu, BPOM RI terus menjalankan transformasi melalui pendekatan berbasis risiko, digitalisasi layanan perizinan, serta dukungan terhadap inovasi industri farmasi dalam negeri. Langkah ini dipandang penting di tengah dinamika geopolitik dan persaingan perdagangan internasional.
BACA JUGA:
Taruna Ikrar Beberkan Kinerja BPOM di DPR: Registrasi Produk Lampaui Target, Komisi IX Dorong Anggaran Diperkuat
Forum itu juga menghadirkan pembahasan strategis mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan dalam layanan kesehatan, penguatan rumah sakit, kesehatan mental, hingga pencegahan penyakit. Para peserta menilai tantangan kesehatan masa depan hanya dapat dijawab melalui kolaborasi lintas negara.

Indonesia Makin Diperhitungkan

Ke depan, BPOM RI akan terus mendorong sinergi Academia–Business–Government (ABG) guna mempercepat inovasi kesehatan yang bertanggung jawab dan inklusif.
Kehadiran Indonesia di forum bergengsi tersebut menegaskan perubahan peran nasional: bukan lagi sekadar mengikuti arus kebijakan global, tetapi ikut membentuk arah masa depan sistem kesehatan dunia.