Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menyampaikan sambutan dalam acara Future Beauty Talk 2026 di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (30/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, Taruna menegaskan bahwa industri kosmetik Indonesia kini berkembang ke arah berbasis sains, kesehatan (wellness), dan keberlanjutan, serta memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global.
BPOM menilai industri kosmetik nasional sedang bergerak ke arah berbasis sains, kesehatan, dan keberlanjutan. Pertumbuhan tinggi dalam lima tahun terakhir harus diimbangi dengan penguatan standar keamanan, mutu, dan inovasi agar mampu bersaing di pasar global.
menitindonesia, JAKARTA — Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa industri kosmetik Indonesia tengah mengalami perubahan besar. Produk kecantikan kini tidak lagi hanya berfokus pada penampilan, tetapi berkembang menjadi sektor berbasis sains, kesehatan, dan keberlanjutan.
Hal itu disampaikan Taruna Ikrar dalam acara Future Beauty Talk 2026 yang digelar oleh Martha Tilaar Group melalui PT Cedefindo di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (30/4/2026).
“Industri kecantikan kini berkembang memadukan ilmu pengetahuan, kesehatan menyeluruh, dan tanggung jawab lingkungan,” ujar Taruna.
Acara ini turut dihadiri CEO Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar, serta Direktur Utama PT Cedefindo, Eti Setiawati, bersama pelaku industri dan akademisi.
BPOM mencatat pertumbuhan industri kosmetik nasional mencapai 64 persen dalam periode 2021–2025. Sementara itu, sektor UMKM kosmetik tumbuh sebesar 49 persen.
Taruna menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap produk kosmetik. Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan ini harus diikuti dengan pemenuhan standar keamanan, mutu, dan manfaat produk.
Regulasi dan Inovasi Harus Sejalan
Taruna Ikrar menegaskan, BPOM tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga mendorong inovasi di industri kosmetik.
Menurut dia, BPOM menerapkan regulasi yang adaptif dan berbasis risiko agar tetap menjaga perlindungan masyarakat sekaligus memberi ruang bagi pelaku usaha untuk berkembang.
Selain itu, BPOM juga mempercepat layanan perizinan dan melakukan pembinaan terhadap pelaku UMKM agar mampu memenuhi standar yang ditetapkan.
Di sisi lain, Kilala Tilaar menyampaikan bahwa forum seperti Future Beauty Talk penting untuk memperkuat kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan akademisi.
Sementara itu, Eti Setiawati menekankan pentingnya mendorong hasil riset agar dapat diimplementasikan menjadi produk yang siap dipasarkan.
Taruna juga menyebut Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain global di industri kosmetik dan wellness. Hal ini didukung oleh kekayaan biodiversitas dan pengetahuan tradisional yang dapat dikembangkan menjadi bahan baku bernilai tinggi.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting untuk mempercepat pengembangan industri kosmetik nasional.
“Dengan kerja sama yang kuat, industri kosmetik Indonesia bisa meningkatkan daya saing di tingkat global,” kata Taruna.