Taruna Ikrar Dorong Indonesia Kuasai Teknologi Kesehatan

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makana, Prof. Taruna Ikrar.
  • Melalui opini di media internasional, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengirim pesan bahwa Indonesia harus berani keluar dari posisi pasar teknologi kesehatan dan mulai menjadi pemain global di era bioteknologi modern.
menitindonesia, JAKARTA — Di tengah perlombaan global menguasai teknologi kesehatan masa depan, Indonesia mulai mengirim sinyal bahwa negeri ini tidak ingin selamanya menjadi pasar. Di ruang yang selama ini didominasi negara maju—Amerika Serikat, Eropa, Jepang, hingga Korea Selatan—Indonesia perlahan mencoba masuk sebagai pemain.
Pesan itu muncul kuat dalam artikel opini Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., yang dimuat media berbahasa Inggris Independent Observer edisi 15–21 Mei 2026 berjudul Embracing an Era of Advanced Therapy: Indonesia’s Momentum to Escape the Middle-Income Trap.
BACA JUGA:
Sejarah di 15 Mei, Johannes Kepler Rumuskan Hukum Ketiga Gerak Planet
Tulisan tersebut bukan opini birokrasi biasa. Di balik bahasa akademik dan terminologi bioteknologi yang kompleks, Taruna Ikrar sebenarnya sedang menyampaikan narasi besar: Indonesia harus berani melompat dari negara pengguna teknologi menjadi produsen inovasi kesehatan.
Ia berbicara tentang terapi gen, terapi sel, hingga teknologi berbasis RNA—jenis pengobatan yang kini menjadi arah baru industri kesehatan dunia. Jika dulu pengobatan hanya fokus mengurangi gejala penyakit, kini dunia bergerak menuju terapi yang mampu memperbaiki jaringan tubuh, bahkan menarget akar penyakit secara presisi.
Dalam tulisannya, Taruna menegaskan bahwa perkembangan advanced therapy medicinal products (ATMP) bukan lagi wacana futuristik, melainkan kebutuhan strategis Indonesia.

IMG 20260516 WA0000 11zon

BPOM dan Jalan Keluar dari Middle-Income Trap

Yang menarik, Taruna Ikrar mencoba memosisikan BPOM bukan hanya sebagai lembaga pengawas obat dan makanan. Ia menulis bahwa regulator modern harus hadir sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan, industri, dan strategi ekonomi nasional.
Di titik ini, tulisan Taruna terasa berbeda dari narasi birokrasi kesehatan pada umumnya.
BACA JUGA:
AS Rilis Berkas UFO Bertahun-tahun Disembunyikan
Ia mencoba membawa BPOM keluar dari citra administratif menjadi institusi strategis negara. Bahkan, dalam artikelnya, ia menyebut dirinya berada di persimpangan tiga fungsi penting: regulator, akademisi, dan bagian dari strategi pembangunan ekonomi kesehatan nasional.
Narasi tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana sektor kesehatan kini bukan lagi urusan pelayanan publik, melainkan juga arena pertarungan ekonomi global.
Industri bioteknologi dunia bernilai ratusan miliar dolar AS. Negara yang mampu menguasai teknologi terapi gen dan terapi sel akan memiliki pengaruh ekonomi, industri, dan politik yang besar pada masa depan.
Karena itu, Taruna menulis satu pertanyaan mendasar: apakah Indonesia akan menjadi pemain global atau hanya tetap menjadi pasar?
Di sinilah inti paling strategis dari tulisan tersebut.
Taruna menghubungkan inovasi kesehatan dengan upaya Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap). Selama bertahun-tahun, Indonesia dinilai sulit naik kelas karena pertumbuhan ekonomi masih bertumpu pada komoditas dan konsumsi domestik.
Melalui artikelnya, Taruna seperti ingin mengatakan bahwa masa depan ekonomi Indonesia harus berbasis pengetahuan dan teknologi.
Karena itu, ia mendorong pembangunan ekosistem inovasi kesehatan nasional: kampus menghasilkan riset, industri mengembangkan produk, sementara pemerintah menyiapkan regulasi dan percepatan perizinan. Ia menyebut model ini sebagai kolaborasi Academic–Business–Government (ABG).
Bagi Taruna, tanpa kolaborasi semacam itu, inovasi hanya akan berhenti di laboratorium dan tidak pernah sampai kepada pasien.
Tulisan itu juga memuat pesan diplomatik yang penting.
Taruna menyoroti keberhasilan BPOM memperoleh status WHO-Listed Authority (WLA), pengakuan Organisasi Kesehatan Dunia terhadap otoritas regulasi obat Indonesia. Dalam artikelnya, status itu disejajarkan dengan regulator besar dunia seperti FDA Amerika Serikat, EMA Eropa, PMDA Jepang, hingga MFDS Korea Selatan.
Bagi dunia investasi kesehatan, status tersebut bukan simbol administratif belaka. Itu adalah sinyal bahwa Indonesia mulai dianggap memiliki sistem regulasi yang kredibel untuk industri farmasi dan bioteknologi global.
Karena itu, tulisan Taruna juga dapat dibaca sebagai upaya membangun kepercayaan internasional terhadap Indonesia sebagai tujuan investasi kesehatan dan farmasi.
Meski penuh optimisme, Taruna juga mengakui tantangan Indonesia masih besar.
Produk terapi modern berbasis sel dan gen membutuhkan fasilitas produksi canggih, standar keamanan tinggi, biaya riset mahal, serta sumber daya manusia yang sangat spesifik. Indonesia, menurutnya, masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan tenaga ahli di bidang terapi sel dan gen.
Namun, ia menilai regulasi tidak boleh menjadi penghambat inovasi. Regulasi, kata dia, harus mampu memberi perlindungan sekaligus membuka ruang percepatan teknologi kesehatan.
Di bagian akhir artikelnya, Taruna menulis bahwa setiap tanda tangan regulasi yang ia keluarkan di BPOM harus menjadi langkah nyata untuk melindungi kehidupan manusia sekaligus membangun masa depan bangsa.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan pesan besar: pertaruhan Indonesia di masa depan mungkin tidak lagi hanya berada di tambang, sawit, atau hilirisasi mineral, melainkan juga di laboratorium, riset bioteknologi, dan teknologi kesehatan modern.