BMKG Warning! Maros Hadapi Kemarau Panjang hingga November

Pemandangan kekeringan di areal persawahan musim kemarau di Kecamatan Bontoa, Maros. (Dok MenitIndonesia)
menitindonesia, MAROS – Kabupaten Maros mulai memasuki musim kemarau sejak awal Juni 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung hingga November dengan kondisi yang lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya akibat pengaruh fenomena El Nino.
Kondisi tersebut membuat risiko kekeringan dan kebakaran lahan meningkat, terutama saat puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sulawesi Selatan, Syamsul Bahri, mengatakan pengaruh El Nino menyebabkan curah hujan berkurang sehingga musim kemarau cenderung lebih panjang dan suhu udara menjadi lebih panas.
“Musim kemarau tahun ini lebih kering dibandingkan biasanya karena adanya pengaruh El Nino,” kata Syamsul, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, saat ini suhu udara di Maros berada di kisaran 27,5 derajat Celsius dengan suhu maksimum mencapai 33 derajat Celsius. Namun saat puncak kemarau nanti, suhu berpotensi meningkat lebih tinggi.

BACA JUGA: Lewati Seleksi Ketat, 72 Pelajar Terpilih Jadi Paskibraka Maros 2026

Berkurangnya tutupan awan menjadi salah satu penyebab suhu udara terasa lebih panas pada siang hari. Sementara pada malam hari, suhu turun hingga sekitar 23,4 derajat Celsius.
“Perbedaan suhu siang dan malam yang cukup signifikan menjadi salah satu ciri musim kemarau,” ujarnya.
BMKG memprediksi wilayah pesisir seperti Kecamatan Bontoa dan Marusu menjadi daerah yang paling terdampak selama musim kemarau berlangsung.
Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
“Bijak menggunakan air dan tidak memicu adanya api yang dapat menyebabkan kebakaran,” imbaunya.
Sementara itu, Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait potensi dampak musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan prediksi BMKG, suhu udara saat puncak kemarau berpotensi mencapai 38 derajat Celsius. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan maupun permukiman jika masyarakat tidak berhati-hati.
“Jangan membakar sampah atau lahan sembarangan,” tegas Towadeng.
Ia juga mengingatkan warga untuk memastikan kondisi rumah dalam keadaan aman sebelum ditinggalkan, terutama dengan mematikan peralatan dapur dan instalasi listrik yang tidak digunakan.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Maros telah menyiapkan program distribusi air bersih bagi wilayah yang berpotensi mengalami krisis air selama musim kemarau.
Sejumlah kecamatan yang diprediksi terdampak cukup parah antara lain Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru. Dampaknya juga berpotensi meluas ke wilayah Turikale, Tanralili, Simbang, hingga sebagian Kecamatan Bantimurung.
Menurut Towadeng, Kecamatan Bontoa menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terdampak kekeringan karena keterbatasan akses terhadap sumber air bersih, baik dari jaringan PDAM maupun air tanah.
“Tahun lalu penyaluran air bersih mencapai lebih dari 500 tangki. Tahun ini jumlahnya bisa bertambah tergantung kondisi di lapangan,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Maros mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau berlangsung, terutama dalam penggunaan air dan pencegahan kebakaran yang berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan.