Pasangan Pemenang Pilpres Amerika Serikat 2020, Joe Biden-Kemala Haris. (Foto: Istimewa)
Calon penghuni rumah sakit jiwa – Kemenangan Joe Biden-Kemala Haris dalam pemilihan presiden telah dikukuhkan oleh Electoral College Amerika Serikat. Rivalnya, Donald Trump, masih sibuk memarahi timnya agar jangan ada yang mengucapkan selamat kepada pemenang. Donald mau menempuh jalur hukum. “Mungkin jiwanya bermasalah,” kata Barrack Obama.
menitindonesia, MAKASSAR – Pilpres Amerika Serikat sudah selesai. Hitungan cepat maupun Elektoral College Amerika Serikat (semacam KPU), mengumumkan hasilnya: pemilih Joe Biden-Kemala Haris paling banyak. Melebihi angka pemilih rivalnya, Donald Trump.
Pengukuhan tersebut merupakan satu dari rangkaian langkah terakhir yang harus dilakukan Biden untuk mengambil jabatan kepresidenan pada 20 Januari 2021, mendatang.
Hasil proses pemungutan suara dikirim ke Washington DC dan secara formal dihitung dalam sidang gabungan Kongres pada 6 Januari yang dipimpin oleh Wakil Presiden Mike Pence.Penghitungan itu akan membuka jalan bagi Joe Biden untuk dilantik sebagai presiden pada 20 Januari.
Namun, Kandidat Pilpres Donald Trump, masih mengklaim bahwa dialah yang menang.
BURLINGTON, IA – OCTOBER 21: Republican presidential candidate Donald Trump speaks to guests at a campaign rally at Burlington Memorial Auditorium on October 21, 2015 in Burlington, Iowa. Trump leads most polls in the race for the Republican presidential nomination. Scott Olson/Getty Images/AFP)
“Belum, belum selesai, tunggu tim kami sedang mengidentifikasi bukti-bukti kecurangan sebelum pencoblosan, kami akan membawanya ke ranah hukum, ada dugaan kecurangan,” kata Trump kepada media. Sementara, puluhan tuduhan pelanggaran dan kecurangan yang diklaim oleh Donald dan disebar di akun medsosnya, ditolak pengadilan.
“Kami akan terus berusaha. Masih ada banyak kasus kecurangan. Di beberapa TPS kami dicurangi. Kami masih merasa menang, selisihnya tipis, suara kami masih berkejar-kejaran,” kata Donald Trump pada akun medsosnya. Dia juga sibuk menelepon dan melarang tim suksesnya memberi selamat atas kemenangan Joe Biden.
Masih adakah peluang untuk Donald? Analisis Anthony Zurcher, reporter BBC News di Amerika Utara, menilai Donald Trump frustrasi. Ambisinya memenangkan Pilpres 2020 kandas. Meski Donald dianggap orang kaya di Amrik, kata Anthoni, rakyat US menganggap dia tidak cakap memimpin Amerika Serikat ke depan.
Justru pendapat Anthoni beda dengan timses Donald Trump. Mereka menganggap, justru Donald memiliki bakat sebagai pemimpin, meskipun dalam menyampaikan visi misinya, Donald terlihat blepotan.
Timses terus mendorong agar Donald Trump menjalankan strategi bumi hangus: menantang hasil Pilpres 2020.
Menurut Anthony, Donald kini dikelilingi timses yang frustrasi karena merasa tidak memiliki lagi pekerjaan setelah Pilpres usai. “Mereka mencoba mencari perhatian dengan cara menolak hasil Pilpres, mengancam proses hukum sambil berharap negosiasi dengan pasangan calon pemenang, Joe-Kemala,” ungkap Anthony Zurcher.
Mantan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, juga menilai strategi bumi hangus Donald Trump itu, sebagai model politik tradisional alias kampungan: kalah tapi meminta bonus kepada pemenang sebelum mengakui kekalahannya. “Dia sedang mengalami kelainan jiwa, sehingg saya meminta Joe dan Kemala tidak memperdulikannya,” kata Barrack Obama.
Sementara, sebahagian jurnalis menilai, Donald terlalu ambisi menjadi kepala negara. Bahkan, mereka beranggapan bahwa Donald Trump tidak cocok menjadi politisi, hanya cocoknya tetap kembali menjadi pengusaha properti yang sukses.
Anthony Zurcher dalam analisisnya, pun menilai bahwa Donald Trump dan sebahagian kecil timsesnya yang tersisah, tak akan menyerah sebelum diajak oleh paslon pemenang Joe-Kemala berunding dan berdamai, jika tidak, kata Anthony, mereka ancam menempuh jalur hukum.
“Sayangnya, rencana Donald dan kelompok timsesnya yang turut frustrasi itu, dibaca oleh Joe-Kemala,” ujarnya.
Anthony menjelaskan, mereka berencana mengadukan proses electoral college tandingan dengan serangkaian hitungan suara alternatif sesuai versinya, yang menyatakan Donald Trump sebagai pemenang, namun kekalahan Donald di Pilpres disebabkan adanya pelanggaran dan kecurangan secara terstruktur, sistimatif dan massif (TSM).
“Jadi mereka ancam melanjutkan gugatan hukum seakan-akan gugatannya itu nanti, bisa mendiskualifikasi pemenang Pilpres. Rencana mereka itu sia-sia,” jelas Anthony Zurcher.
Dia juga mengungkap, bahwa strategi bumi hangus Donald Trump menjadi menarik, karena mempertontonkan praktik politik manusia yang tidak berwatak. Sebab, kata Anthony, meskipun mereka melontarkan tuduhan kecurangan dan tidak memiliki bukti kuat, tujuannya hanya menarik perhatian kandidat pemenang Pilpres.
“Meskipun Donald dan timsesnya berkoar-koar, mereka tak akan berhasil membalikkan hasil pemungutan dan perhitungan suara sesuai pencatatan resmi surat suara electoral college di seluruh AS. Pilpres ini akan berakhir, dan tidak akan menanggapi ulah bekas kandidat yang sedang frustrasi,” ujar Anthoni Zurcher.
Dia juga menambahkan, bahwa Pilpres 2020 di Amerika Serikat ini, menghasilkan pemenang yang akan memimpin Amerika Serikat dan juga sekaligus menghasilkan bekas kandidat yang frustrasi.
“Kita akan mengenangnya sebagai mantan peserta di Pilpres 2020 yang berakhir gila dan berpotensi dikarantina di rumah sakit jiwa,” ucap Anthony Zurcher. #timAE