Kisah Gemilang Ketua DPRD Maros, Gagal Masuk Kampus Negeri Tapi Sukses Sandang Doktor di Usia 28 Tahun

Ketua DPRD Maros, Gemilang Pagessa saat menjalani ujian promosi doktor ilmu politik di Universitas Hasanuddin (Bkr)
menitindonesia, MAKASSAR – Tidak semua perjalanan dimulai dengan keberhasilan. Bagi Muh. Gemilang Pagessa, jalan menuju gelar doktor justru berangkat dari kegagalan.
Kamis (12/2/2026), pukul 12.25 Wita, namanya resmi diumumkan lulus dalam sidang terbuka promosi doktor Program Studi Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.
Tepuk tangan memenuhi Gedung IPTEKS. Di usia 28 tahun, Ketua DPRD Kabupaten Maros itu menyandang gelar Doktor Ilmu Politik.
Namun 11 tahun sebelumnya, cerita hidupnya berbeda. Pada 2015, ia gagal masuk Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Upayanya melanjutkan pendidikan di Universitas Padjadjaran dan Universitas Hasanuddin juga tidak berhasil.
“Pada 2015 saya gagal bangku kuliah. STPDN saya gagal, Universitas Padjadjaran dan Unhas saya gagal juga,” tuturnya mengenang.
Ia tak pernah merancang menjadi doktor di usia muda. Bahkan, menurutnya, hal itu tidak pernah masuk dalam rencana hidupnya.

BACA JUGA:
DPRD Maros Turun ke Musrenbang Kecamatan, Pastikan Aspirasi Warga Masuk RKPD

“Tidak pernah ada rencana dalam hidup saya menjadi doktor di usia 28 tahun,” katanya.
Waktu kemudian membawanya masuk ke dunia politik. Ia dipercaya menjadi Ketua DPRD Maros di usia yang relatif muda. Dari ruang-ruang rapat dan pembahasan kebijakan, ia semakin akrab dengan persoalan pembangunan dan partisipasi publik. Di sanalah gagasan akademiknya tumbuh.
Disertasi setebal 282 halaman yang ia pertahankan berjudul “Politik Progresif Generasi Milenial (Studi pada Komunitas Generasi Milenial Kabupaten Maros pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tahun 2024)”.
Topik itu dekat dengan realitas yang ia jalani. Ia melihat perubahan komposisi politik di daerahnya. Dari 35 kursi DPRD Maros, 16 di antaranya diisi generasi milenial.
“Anak muda itu senang jika dilibatkan,” ujarnya.
Ia mendorong agar Pemerintah Kabupaten Maros membuka ruang lebih luas bagi partisipasi pemuda, termasuk melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) khusus pemuda. Baginya, keterlibatan generasi muda bukan sekadar simbol, tetapi kebutuhan pembangunan jangka panjang.
Perhatiannya juga meluas ke sektor industri. Ia berharap kawasan industri di Maros memberi prioritas bagi tenaga kerja lokal.
“Gudang-gudang industri harus benar-benar mengakomodir anak Maros dan tenaga kerja lokal,” tegasnya.
Di balik capaian akademik itu, ada dukungan keluarga yang ia sebut sebagai fondasi utama. Ibundanya, Ulfiah Nur Yusuf, disebutnya sebagai sosok yang selalu menguatkan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Bupati Maros, Chaidir Syam, atas motivasi yang diberikan.
Namun satu sosok yang paling ia kenang adalah almarhum ayahnya, Ilham Pagessa.
“Tentu beliau sangat bangga ketika masih ada di sini,” ucapnya pelan.
Gelar doktor itu menjadi penanda capaian baru dalam hidupnya. Tetapi lebih dari itu, ia adalah jawaban atas kegagalan yang pernah datang lebih dulu.
Di usia 28 tahun, Gemilang tidak hanya membawa titel akademik tertinggi, tetapi juga sebuah cerita: bahwa jalan yang sempat tertutup, bukan berarti perjalanan telah berakhir.