Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menghadiri penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) dengan 15 pemerintah kabupaten/kota di Jakarta. (ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memastikan ketersediaan bahan pangan di daerah tetap aman meski terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengatakan situasi geopolitik global belum berdampak langsung terhadap perdagangan maupun inflasi di Sulsel. Daerah ini masih memiliki cadangan stok pangan untuk beberapa bulan ke depan.
“Dalam waktu dekat tidak terlalu berdampak. Kita masih ada buffer stock untuk beberapa bulan ke depan, terutama pangan. Kita ini penghasil pangan, ayam, ikan, telur, termasuk daerah lumbung,” ujarnya, dikutip Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, kekuatan produksi lokal menjadi penopang utama stabilitas harga di Sulsel. Status sebagai salah satu lumbung pangan nasional dinilai mampu meredam potensi tekanan akibat dinamika global.
Sebagai langkah antisipasi jika terjadi kenaikan harga, Pemprov Sulsel menyiapkan skema intervensi melalui pasar murah yang dapat digelar serentak di 24 kabupaten/kota.
“Kita ada pasar murah, nanti akan serentak 24 kabupaten/kota. Tapi kita lihat dulu kecenderungan inflasinya,” katanya.
Namun, pasar murah tidak akan digelar jika kondisi harga masih normal agar tidak mengganggu mekanisme distribusi yang sudah berjalan baik.
“Kalau normal, jangan juga pasar murah. Nanti mengganggu sistem yang sudah terbangun. Kalau ada gejolak, baru kita lihat itemnya apa,” jelasnya.
Terkait potensi gangguan pasokan bahan bakar minyak (BBM), Andi Sudirman menegaskan hal tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat.
“Kalau untuk bahan bakar, itu ranah Kementerian ESDM. Kita menunggu arahan dari pusat. Tapi stok di Sulsel selama ini alhamdulillah cukup baik,” pungkasnya.