Kepala BPOM RI, Prof. Taruna Ikrar, berbincang dengan delegasi United States Food and Drug Administration (US FDA) yang dipimpin Maria Knirk dalam courtesy meeting di Kantor BPOM, Jakarta, Senin (4/5/2026). Pertemuan ini menjadi bagian dari proses verifikasi sistem sertifikasi ekspor rempah Indonesia.
Verifikasi US FDA di Indonesia menjadi penentu keberlanjutan ekspor rempah dan penguatan kepercayaan global terhadap sistem pengawasan BPOM.
menitindonesia, JAKARTA — Kunjungan delegasi United States Food and Drug Administration (US FDA) ke Jakarta, Senin (4/5/2026), menjadi momen penting bagi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., menegaskan bahwa agenda ini berkaitan langsung dengan kepercayaan pasar global terhadap produk pangan Indonesia, khususnya rempah.
Dalam pertemuan yang berlangsung di kantor BPOM, delegasi US FDA dipimpin oleh Maria Knirk, Office Director Office of Enforcement Human Foods Program, bersama Darlene Krieger, International Policy Analyst. Taruna Ikrar menyampaikan bahwa BPOM menyambut kunjungan tersebut dan memastikan kesiapan penuh dalam proses verifikasi yang akan berlangsung selama beberapa hari ke depan.
Menurut Taruna, kunjungan ini bertujuan memastikan sistem pengawasan dan sertifikasi yang dijalankan BPOM berjalan efektif serta sesuai dengan standar internasional. Hal ini menjadi penting setelah ditemukannya kontaminasi radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada produk ekspor Indonesia pada 2025 yang mendorong US FDA menerapkan kebijakan import alert dan kewajiban sertifikasi tambahan bagi produk tertentu.
Sejak 31 Oktober 2025, produk rempah dan udang dari wilayah Jawa dan Lampung diwajibkan memiliki sertifikat khusus sebelum memasuki pasar Amerika Serikat. Dalam skema tersebut, BPOM ditunjuk sebagai Certifying Entity yang bertanggung jawab memastikan keamanan produk melalui penerbitan Shipment-Specific Certificate (SSC).
Taruna menjelaskan bahwa sistem SSC dijalankan secara terintegrasi melalui serangkaian tahapan yang mencakup pemindaian radiasi, pengambilan sampel, pengujian laboratorium, hingga verifikasi administratif sebelum sertifikat diterbitkan. Pendekatan ini dirancang berbasis risiko agar setiap produk yang diekspor dapat dipastikan memenuhi standar keamanan pangan internasional.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejak implementasi SSC hingga April 2026, BPOM telah menerbitkan ratusan sertifikat dengan nilai ekonomi mencapai sekitar USD 2,8 hingga 3 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa sistem yang dijalankan tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengawasan, tetapi juga berperan dalam menjaga keberlanjutan ekspor nasional.
Verifikasi Sistem dan Akses Pasar
Selama periode 4–8 Mei 2026, tim US FDA dijadwalkan melakukan verifikasi di sejumlah titik, termasuk kantor pusat BPOM, laboratorium Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta beberapa fasilitas pengolahan rempah di Jawa Barat dan Jawa Timur. Proses ini mencakup peninjauan langsung terhadap metode pemindaian, pengambilan sampel, pengujian kandungan Cs-137, hingga mekanisme penerbitan sertifikat oleh BPOM.
Selain aspek teknis, pertemuan ini juga menjadi bagian dari penguatan kerja sama antara BPOM dan US FDA. Kedua pihak telah menyelesaikan Confidentiality Commitment (CC) yang memungkinkan pertukaran informasi non-publik secara aman untuk mendukung pengawasan bersama. BPOM juga membuka peluang kerja sama lanjutan dalam bentuk pengembangan kapasitas teknis dan peningkatan infrastruktur pengawasan.
Taruna menegaskan bahwa BPOM berkomitmen menjaga standar regulasi yang selaras dengan praktik internasional. Saat ini, BPOM juga telah diakui sebagai WHO Listed Authority (WLA), yang menunjukkan bahwa sistem pengawasan yang dijalankan telah memenuhi standar global.
“Kami ingin memastikan akses pasar tetap terjaga dengan sistem yang transparan dan kredibel,” ujar Taruna.
Dengan nilai ekspor yang besar dan keterlibatan banyak pelaku usaha, hasil verifikasi ini menjadi faktor penting dalam menjaga posisi produk rempah Indonesia di pasar internasional sekaligus memperkuat kepercayaan mitra dagang global.