Taruna Ikrar Gandeng Farmasi UI, BPOM Siapkan Indonesia Jadi Kekuatan Baru Obat Inovatif ASEAN

Kepala BPOM Taruna Ikrar menerima audiensi Dekan Fakultas Farmasi UI Silvia Surini untuk membahas pengembangan obat inovatif, uji klinik, dan penguatan ekosistem riset farmasi nasional di Kantor BPOM, Jakarta.
  • Kolaborasi strategis BPOM dan Fakultas Farmasi UI diarahkan untuk memperkuat riset, uji klinik, serta mempercepat lahirnya obat-obat inovatif karya anak bangsa yang mampu bersaing di tingkat global.
menitindonesia, JAKARTA — Di tengah persaingan global pengembangan obat dan teknologi kesehatan yang semakin ketat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat kolaborasi dengan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FF UI). Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar menyiapkan Indonesia menjadi pusat riset, uji klinik, dan pengembangan obat inovatif di kawasan Asia Tenggara.
Audiensi yang berlangsung di Ruang Tamu Kepala BPOM, Selasa (2/6/2026), dipimpin langsung Kepala BPOM Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. dan dihadiri jajaran pimpinan Fakultas Farmasi UI yang dipimpin Dekan Prof. apt. Silvia Surini, M.Pharm.Sc., Ph.D. Turut hadir Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan Dr. apt. Santi Purna Sari, M.Si., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura dan Administrasi Umum apt. Nadia Farhanah Syafhan, M.Si., Ph.D., Manajer Sumber Daya dan Administrasi Umum Dr. apt. Heri Setiawan, M.Sc., CertDA, serta Koordinator Fasilitas, Pengadaan dan Administrasi Umum Dr. apt. Eme Stepani Sitepu, M.Sc.
BACA JUGA:
Taruna Ikrar Dorong Jamu Naik Kelas Dunia, BPOM Luncurkan PUSAKA dan BRIDGE
Pertemuan tersebut menandai babak baru sinergi antara regulator dan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem farmasi nasional yang lebih maju dan berdaya saing global. Fokus pembahasan mencakup pengembangan riset kefarmasian, obat inovatif, penguatan uji klinik nasional, hingga upaya menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat studi bioekivalensi dan pengembangan obat di kawasan ASEAN.
Taruna Ikrar menegaskan bahwa perguruan tinggi merupakan mitra strategis BPOM dalam memperluas jangkauan sekaligus meningkatkan efektivitas pengawasan obat dan makanan berbasis ilmu pengetahuan.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar produk farmasi global. Sebaliknya, Indonesia harus tampil sebagai pemain utama yang melahirkan inovasi kesehatan melalui riset dan pengembangan yang kuat.
“Di era inovasi kesehatan yang bergerak sangat cepat, pengambilan keputusan regulatori harus semakin berbasis bukti ilmiah. Karena itu, kolaborasi dengan kampus-kampus unggulan seperti Fakultas Farmasi UI menjadi sangat penting untuk mendukung lahirnya obat-obat inovatif karya anak bangsa,” ujar Taruna Ikrar.
Saat ini BPOM telah mengembangkan berbagai pendekatan regulatori modern, termasuk mekanisme regulatory reliance yang memungkinkan percepatan evaluasi obat inovatif melalui pemanfaatan hasil penilaian regulator terpercaya dunia. Dalam pelaksanaannya, BPOM membutuhkan dukungan akademisi untuk memperkuat pengambilan keputusan berbasis bukti ilmiah melalui penyediaan data, kajian ilmiah, analisis manfaat-risiko hingga pengembangan metodologi evaluasi yang relevan dengan kebutuhan nasional.

Picsart 26 06 02 15 42 06 856 11zon

Dari Laboratorium Kampus Menuju Obat Karya Indonesia

Taruna Ikrar menjelaskan, tantangan terbesar dunia akademik saat ini adalah memastikan hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu diterjemahkan menjadi produk kesehatan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Karena itu BPOM terus mendorong pemanfaatan mekanisme Investigational New Drug (IND) sebagai instrumen penting yang menghubungkan hasil penelitian laboratorium dengan tahapan pengembangan klinik dan produk kesehatan yang siap dimanfaatkan masyarakat.
BACA JUGA:
Momen Prabowo dan Megawati Bergandengan Tangan di Harlah Pancasila
“Riset yang baik harus sampai kepada masyarakat. Kita ingin hasil penelitian para akademisi Indonesia berkembang menjadi obat baru yang aman, bermutu, berkhasiat, dan mampu bersaing di tingkat global,” kata Taruna.
Dalam pertemuan tersebut, BPOM juga mendorong penguatan kapasitas uji klinik nasional melalui kolaborasi yang lebih erat dengan Fakultas Farmasi UI dan Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun sentra uji klinik berstandar internasional yang mampu mempercepat lahirnya inovasi kesehatan nasional. Bahkan BPOM tengah menginisiasi pilot project rekognisi sentra uji klinik yang diharapkan dapat melibatkan RSUI sebagai salah satu kandidat utama.
Selain pengembangan uji klinik, kerja sama BPOM dan Fakultas Farmasi UI juga diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam implementasi ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA) untuk studi bioekivalensi. Targetnya, hasil uji bioekivalensi yang dilakukan di Indonesia dapat diakui negara-negara ASEAN tanpa perlu pengujian ulang di negara tujuan ekspor.
Jika target tersebut tercapai, Indonesia berpeluang menjadi pusat layanan studi bioekivalensi regional. Dampaknya tidak hanya meningkatkan daya saing industri farmasi nasional, tetapi juga mempercepat ekspor produk farmasi Indonesia ke pasar internasional.
Taruna Ikrar menilai masa depan industri farmasi Indonesia hanya dapat dibangun melalui pendekatan kolaboratif yang mempertemukan unsur akademisi, dunia usaha, dan pemerintah atau model Academia-Business-Government (ABG).
Melalui pendekatan tersebut, riset dasar di kampus dapat terhubung dengan kebutuhan industri dan mendapat dukungan regulasi yang tepat sehingga menghasilkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Indonesia memiliki talenta, ilmuwan, dan sumber daya yang luar biasa. Yang kita perlukan adalah kolaborasi yang semakin kuat agar hasil-hasil riset nasional dapat berkembang menjadi produk inovatif yang berdaya saing global dan memberi manfaat bagi masyarakat luas,” pungkas Taruna Ikrar.