Di hadapan ribuan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang, Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar mengajak generasi muda menaklukkan era AI melalui ilmu pengetahuan, karakter, dan kepemimpinan regulasi.
menitindonesia, JAKARTA — Tepuk tangan panjang menggema di Hall DOME Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (9/7/2026). Ribuan wisudawan, orang tua, sivitas akademika, dan tamu undangan berdiri menyambut Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., yang sesaat sebelumnya dipasangkan jas almamater UMM oleh Rektor Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si.
Prosesi sederhana itu menjadi simbol penghormatan sebelum Taruna melangkah ke podium utama menyampaikan Orasi Ilmiah pada Wisuda ke-122 Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana UMM. Mengenakan jas almamater merah kebanggaan kampus, ia tidak hanya datang sebagai Kepala BPOM, tetapi juga sebagai ilmuwan yang mengajak generasi muda melihat masa depan Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas: ilmu pengetahuan, inovasi, dan kepemimpinan.
Selama hampir 20 menit, Hall DOME nyaris tanpa jeda. Ribuan pasang mata mengikuti setiap uraian Taruna mengenai neurosains, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), bioteknologi, hingga masa depan industri farmasi dunia. Beberapa kali tepuk tangan bergemuruh ketika ia menegaskan bahwa persaingan global tidak lagi hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, melainkan oleh kualitas otak manusia yang mampu melahirkan inovasi.
“Masa depan bangsa tidak dibangun oleh mereka yang takut pada perubahan, tetapi oleh mereka yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan menggunakannya untuk kemaslahatan masyarakat,” kata Taruna Ikrar.
Itulah benang merah yang terasa sepanjang orasi ilmiah bertajuk “Synergizing Breakthrough of Neuroscience and Pharmaceutical Innovation with Regulatory Leadership.”
Bagi Taruna Ikrar, manusia memperoleh anugerah terbesar berupa otak yang menjadi pusat akal, kreativitas, dan pengambilan keputusan. Karena itu, kemajuan neurosains bukan hanya melahirkan teknologi kesehatan yang semakin canggih, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya pemimpin-pemimpin yang mampu berpikir jernih, adaptif, dan berintegritas.
Ia menjelaskan, neurosains bahkan menunjukkan bahwa aktivitas spiritual seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, salat, dan berpuasa mampu memperkuat koneksi antarsaraf (neuroplasticity), meningkatkan fokus, pengendalian diri, ketenangan emosi, serta kemampuan menghadapi tekanan. Ilmu pengetahuan dan nilai spiritual, menurutnya, bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan fondasi yang saling menguatkan dalam membangun peradaban.
Regulasi Bukan Penghambat, tetapi Penggerak Inovasi
Taruna Ikrar kemudian membawa para wisudawan melihat bagaimana dunia kesehatan sedang memasuki babak baru. Artificial Intelligence kini mampu memprediksi efektivitas obat, membaca potensi efek samping lebih cepat, hingga membantu menentukan terapi yang paling tepat bagi setiap pasien. Bersamaan dengan itu, terapi gen, terapi sel, dan berbagai produk biologis membuka harapan baru bagi pengobatan penyakit yang selama puluhan tahun sulit ditangani.
Namun, menurut Taruna, lompatan teknologi tidak akan memberi manfaat tanpa sistem regulasi yang mampu mengimbanginya.
Karena itu, BPOM terus memperkuat Good Regulatory Practice, mempercepat transformasi digital, memperluas kolaborasi internasional, serta mendorong pengakuan Indonesia sebagai WHO Listed Authority, sehingga inovasi kesehatan nasional mampu bersaing di tingkat global.
Ia juga menyoroti lahirnya Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pedoman Penilaian Produk Terapi Advanced sebagai fondasi penting bagi pengembangan terapi gen dan terapi sel di Indonesia. Regulasi, katanya, harus hadir bukan sebagai tembok yang menghambat inovasi, melainkan jembatan yang memastikan setiap produk memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat sekaligus mempercepat hilirisasi hasil riset nasional.
Dalam kesempatan itu, Taruna mengungkapkan BPOM telah menjalin kerja sama dengan sedikitnya 186 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Kolaborasi tersebut diperkuat dengan pengawalan terhadap lebih dari 45 ribu industri serta sekitar 4,2 juta UMKM di sektor obat dan makanan untuk mempercepat lahirnya inovasi yang berdampak bagi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing nasional.
Menutup orasinya, Taruna tidak hanya menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan. Ia menitipkan sebuah pesan yang mengundang tepuk tangan panjang dari seluruh ruangan: jangan pernah berhenti bermimpi besar.
Menurutnya, kecerdasan akan menemukan maknanya ketika dipadukan dengan karakter, integritas, ketekunan, dan keberanian menghadapi perubahan. Sebab, pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi oleh siapa yang mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk menghadirkan manfaat sebesar-besarnya bagi kemanusiaan.