Musda Golkar Sulsel, Senyum Politik Tanpa Kening Berkerut

Andi Besse Nabila Saskia

Oleh Andi Besse Nabila Saskia
(Chief Editor menitindonesia.com)

Hiruk-pikuk pelaksanaan Musyawarah Daerah ke X Partai Golkar Sulawesi Selatan, banyak menyedot perhatian publik. Perebutan kursi ketua – pengganti H.A.M. Nurdin Halid – ramai dibicarakan publik Sulsel. Panitia Musda telah menjaring empat nama kandidat yang mengembalikan formulir dan surat dukungan.

Sesuai catatan redaksi menitindonesia.com, terdapat dua faksi yang sedang bertarung di Musda Golkar ini, yakni faksi status quo dan faksi pembaharuan. Masing-masing faksi memiliki tokoh yang diunggulkan. Misalnya, faksi status quo, mendorong Anggota DPR RI Komisi V, Hamka B Kady sebagai andalan, sedangkan Faksi Pembaharuan, menjagokan Anggota DPR RI Komisi III, Supriansa.

Sedangkan dua orang Kepala Daerah, yakni H.Taufan Pawe (Walikota Parepare) dan Syamsuddin Hamid (Bupati Pangkep), berharap bola muntah dari pertarungan sengit antara Supriansa vs Hamka B Kady.

Yang menarik dari Musda Golkar kali ini, hadirnya figur muda Supriansa sebagai pemegang surat diskresi dari Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto. Supri – begitu biasa sebutan namanya – belum seumur jagung menjadi kader, namun diberi “karpet merah”  nyalon ketua Golkar Sulsel. Tajamnya konflik internal di Golkar Sulsel, membuat figur Supri dilirik.

Tak hanya oleh DPP Partai Golkar yang telah merekomendasikan namanya menjadi Calon Ketua,  Supri juga menyedot perhatian publik dan para netizen, sehingga nama Supriansa ramai dibicarakan publik, baik di sosial media maupun di ruang-ruang diskusi politik.

Supriansa adalah fenomena politik yang baru di Sulsel. Mantan demonstran mahasiswa era 98 itu, menunjukkan model politik yang santun dan rendah hati. Memegang diskresi ketua umum partai tak membuatnya jumawa. Ia tetap merendahkan diri dan menempuh cara-cara yang etik: sowan ke sesepuh Golkar dan mengajak para pemilik suara bersilaturahim.

Respon publik terhadap rival Supri di Musda, pun terkesan biasa-biasa saja. Hamka B. Kady, tak mendapat respon seheboh Supri, yang dianggap sebagai antitesa dari model politik klan atau dinasti. Supri tak memiliki titisan nama besar di belakang namanya.

Ketika diteropong agenda politiknya ke depan, Supriansa justru mempertegas, bahwa niatnya memimpin Golkar Sulsel bukan untuk menjadi calon Gubernur Sulsel 2024 nanti. Ia hanya membawa misi, merekatkan Golkar, mengakhiri konflik antar faksi dan mengembalikan kejayaan yang pernah dimiliki Golkar. Taglinenya pun menjadi viral: Golkar, politik tanpa mahar.

Meme Supriansa yang diunggah para netisen. Akun IG @peach.lia

Meme Supriansa tiba-tiba ramai-ramai diunggah warga net. Misalnya, akun IG @peach.lia, mengunggah foto meme Supri dengan menuliskan, “Ini baru pemimpin partai, Politik  tanpa mahar”.

Jika dicermati respon publik terhadap figur lain -yang boleh dikata- biasa-biasa saja, bisa jadi karena mereka adalah pemain lama di Golkar yang sudah mencapai klimaks. Memasuki akhir dari kisah.

Hamka B Kady adalah Anggota DPR RI Fraksi Golkar dua periode. Selama berkiprah di Senayan, tak nampak ketokohannya seperti yang diharapkan. Hamka, hanya mendompleng pada nama besar Nurdin Halid yang kesohor di pentas politik nasional.

Begitupun dalam proses politik di Musda Golkar ini, Hamka B Kady terkesan hanya membuat posisi Nurdin Halid terjepit. Di satu sisi, Nurdin Halid memahami, bahwa diskresi DPP yang diberikan ke Supriansa, mengandung pesan politik tersirat. Di sisi lain, dia sebagai Plt Ketua dan tokoh Golkar, harus bersikap terbuka, adil dan tidak membuat “blunder politik” yang memperkeruh situasi internal.

Soal Taufan Pawe dan Syamsuddin Hamid, di mata publik, dinilai sarat dengan kepentingan politik yang tidak menarik perhatian publik dan warga Sosmed. Kedua tokoh lokal ini, sudah dua periode menjabat kepala daerah dan sekaligus Ketua Golkar di daerahnya.

Taufan dianggap memiliki agenda politik di 2024. Ambisinya untuk merebut Ketua DPD I Golkar Sulsel, untuk menguatkan posisi bargaining di Pilkada Gubernur nanti. Ada yang membaca Taufan mempersiapkan diri sebagai calon gubernur, ada juga yang menganggap dia hanya mengincar posisi wakil gubernur saja.

Nama Taufan Pawe di kalangan anak muda, hanya dikenal di Pare-Pare saja. Itupun pengaruhnya semakin redup. Terbukti pada Pileg 2019, lalu. Istri Taufan, Erna Rasyid Taufan, yang juga turut nyaleg di Partai Golkar Dapil Sulsel 2, perolehan suaranya sangat minim. Di Pilkada Kota Pare-Pare lalu, Taufan pun nyaris kalah dari rivalnya, karena selisih tipis dari Faisal Sapada.

Tapi Taufan Pawe, juga adalah politisi handal. Ia tak mau putus asa. Adagium bahwa politisi itu tak ada matinya, sepertinya dipahami oleh Taufan. Ia menggunakan “jurus kuda hitam”. Artinya, jika Hamka B Kady berkompromi dengan dia, maka dukungan Hamka akan disedotnya jika di Musda nanti dilakukan voting suara.

Tidak mudah bagi Taufan membalik telapak tangannya untuk menjalankan skenario “bola muntah” Hamka B Kady. Yang jadi soal bagi dia, untuk meraih dukungan Hamka B Kady, Taufan harus berkompromi dulu dengan Nurdin Halid (NH).

Di sisi lain, Taufan termasuk faksi yang pernah sangat tidak menyukai Nurdin Halid. Di lain sisi, NH juga tidak mempercayai Taufan Pawe. Apalagi terbukti, saat Pilgub lalu, Taufan masa bodoh di Pilgub sehingga NH kalah telak dari Nurdin Abdullah di Kota Pare-Pare.

Beda kisah Taufan dengan Bupati Pangkep Dua Periode, Syamsuddin Hamid. Pasca Pileg 2019, hubungan Syamsuddin dengan NH dikabarkan pecah kongsi. Istri Syamsuddin, Rismayani Hamid yang juga nyaleg DPR RI di Partai Golkar Dapil Sulsel 2, kandas setelah perolehan suaranya kalah oleh Supriansa, mantan Wakil Bupati Soppeng.

Syamsuddin Hamid meminta bantuan NH agar memfasilitasi istrinya menelikung Supri. Tapi NH tidak sanggup melakukannya, sehingga konon Syamsuddin kecewa dan memilih berseberangan dengan NH. Syamsuddin pernah mengatakan akan berseberangan dengan NH dalam ajang politik. Dengan lantang, Syamsuddin menantang NH di Musda Golkar. Ia memilih menjadi air jika NH adalah minyak.

Inilah dampak jika ibu-ibu rumah tangga ikut nyaleg karena suami sedang on fire jadi kepala daerah. Istri Taufan Pawe dan Istri Syamsuddin, sama-sama kalah di Pileg oleh Supri di Golkar. Sejak itu, simpati publik tertuju kepada Supri yang berusaha diganjal oleh dua kepala daerah itu demi meloloskan istrinya ke Senayan.

Harus diketahui para politisi. Publik itu memiliki pendapat yang diam. Dalam komunikasi politik, ini disebut sebagai spiral of silence theory atau teori spiral keheningan. Dalam ilmu komunikasi, teori keheningan adalah salah satu dari teori komunikasi massa, di mana seseorang memiliki opini dari berbagai issu, namun terdapat keraguan dan ketakutan untuk memberikan opininya karena merasa terisolasi, sehingga opini tidak bersifat terbuka alias tertutup.

Dengan adanya isolasi akan opini individu yang massif itu, maka terjadi opini publik  bergulir mencari dukungan yang memihak pada opininya tersebut. Ini yang terjadi pada sosok Supriansa. Ia hadir di panggung politik bukan sebagai siapa-siapa, tanpa membawa nama besar orang tuanya. Ia mendapat simpati karena opini publik memihaknya.

Publik meyakini talenta yang diraih Supri di pentas politik secara otodidak. Supri pernah dikenal publik sebagai demonstran. Jika ditelisik ke masa lalu, jejak digital Supriansa juga pernah berhadapan dengan Nurdin Halid ketika kasus SWKP dipersoalkan. Supri membela petani cengkeh dan menggelar aksi unjuk rasa menentang kebijakan Nurdin Halid selaku Direktur Puskud Hasanuddin yang dianggap merugikan petani cengkeh.

Nurdin Halid pun sempat terseret ke pengadilan. Ia dijadikan tersangka kasus korupsi dana cengkeh. Namun, akhir cerita dari kisah SWKP Nurdin Halid dituntut bebas oleh jaksa di pengadilan negeri Makassar.

Politik bisa memisahkan orang tapi juga bisa menyatukan. Supri dan NH tidak melanjutkan gesekan yang pernah terjadi saat era reformasi dimulai. Pun NH menunjukkan kapasitasnya sebagai tokoh: berangkulan, tanpa memercikkan dendam. Malah keduanya menjadi sahabat.

Kini, Nurdin Halid dan Supriansa telah hadir sebagai tokoh dan pemimpin yang lahir dari bawah. Andi Nurdin Halid anak seorang bangsawan di Bone. Ayahnya, Andi Halid adalah seorang guru. Supri adalah putra H. Mannahawu, seorang petani di Leworeng, Soppeng, yang tidak tahu baca tulis.

Kisah dari empat kandidat bakal calon ketua Golkar Sulsel, hanya Hamka B Kady yang tidak pernah bergesekan dengan NH. Namun, Hamka tidak memiliki track record yang mengesankan. Di lingkaran NH pun, sosok Hamka B Kady banyak yang resisten. Tapi dari dulu hingga kini, Hamka adalah loyalis NH – tanpa NH – Hamka bukan siapa-siapa di pentas politik. Konon, wibawa Andi Kadir Halid di Golkar, jauh lebih dihormati dari Hamka.

Begitulah. Akhirnya, kisah di balik Musda ke X Partai Golkar Sulsel, menjadi menarik. Ketokohan Haji Andi Muhammad Nurdin Halid sedang diuji. Salah mengambil keputusan politik, NH akan terbenam seperti matahari yang sunset.

Pakar Hukum Universitas Hasanuddin Prof Dr. Aminuddin Ilmar, SH, MH, yang turut mengamati proses politik Musda Golkar kali ini, bilang NH adalah politisi yang memiliki ketokohan berskala nasional. Ia tak akan merendahkan dirinya hanya mengurusi loyalisnya dengan menciptakan lawan politik jangka panjang. “Dinamika di Golkar akan ditutup dengan kompromi antara figur yang bertarung,” ujar Profesor Ilmar.

Wahai para politisi, tersenyumlah. Berpolitiklah tanpa kening berkerut. kami berempati kepada politisi yang menginspirasi para generasi bangsa ini.



TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini