Golkar Sulsel Bergejolak Soal Kepengurusan, Leadhership Taufan Pawe Diragukan

Taufan Pawe bersama calon ketua Golkar usai dia dimufakti 4 orang ketua Golkar saat Musda, di Jakarta. (foto: ahmad mabbarani)

Pasca Musda Golkar Sulsel di The Sultan Hotel Jakarta Konflik internal Partai Golkar Sulsel tak kunjung usai, malah semakin bergejolak. Taufan Pawe yang dimufakati para kandidat calon ketua di Musda untuk memimpin Golkar Sulsel, dinilai tak mampu mengurus tiga orang anggota formaturnya saat menyusun susunan pengurus Golkar Sulsel periode 2020-2025. 

menitindonesia.com, MAKASSAR – Ketua Panitia Musda ke X Partai Golkar Sulsel, Muhammad Risman Pasigai, lantang menyerukan agar Ketua DPD Partai Golkar terpilih Taufan Pawe mengundurkan diri. Risman bilang alasannya, Taufan tidak beres memimpin Golkar, Kamis (27/8), kemarin.

Menurutnya, dia sudah diamanahkan melalui forum Musda untuk segera membentuk kepengurusan DPD Golkar Sulsel paling telat sepekan. Amanah itu tak bisa diselesaikan oleh Taufan Pawe. Padahal, Musda sudah menetapkan walikota Parepare itu sebagai ketua terpilih dan sekaligus sebagai koordinator formatur, yang beranggotakan dari berbagai unsur, yakni Muhiddin (DPP Golkar), Faoruk M Beta, Abdillah Natsir dan Imran Tenri Tatta.

Malah, justru ketiga formatur lainnya berontak dan menggelar unjuk rasa yang berujung  penyegelan kantor DPD Golkar Sulsel. Taufan didemo karena menyusun sendiri komposisi pengurusnya dan mengabaikan masukan tiga orang anggota formatur lainnya.

Menurut Risman, persoalan susunan pengurus itu soal sepele. Kalau ada perbedaan pendapat dengan Anggota Formatur lainnya, sebagai koordinator formatur, Taufan mestinya memberi pemahaman, bukan justru memutus komunikasi.

Penggiat Demokrasi dan Ham yang aktif mengamati dinamika politik internal Golkar saat berlangsungnya Musda lalu, Hasbi Lodang, bilang proses terpilihanya Taufan Pawe di Musda itu unik, karena tidak dimufakati oleh voters, melainkan hanya disepakati oleh kandidat.

“Kasarnya, dia hanya ditunjuk oleh 4 orang calon ketua saja, bukan oleh peserta Musda, jadi ini unik,” ujar mantan komisaris BUMN Pertanian itu.

Hasbi Lodang mengaku dia tidak lagi tertarik mengamati proses demokrasi yang berlangsung di internal Golkar. Dia hanya menyarankan, Taufan mestinya peka dan mengatasi konflik internalnya. “Tidak justru membangun faksi baru dan menunjukkan kelemahannya sebagai pemimpin partai. Dia tidak boleh terkesan gagap dalam memimpin,” ujar Alumni Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin itu.

Sementara itu, Fraksi Partai Golkar (FPG) DPRD Sulsel mengecam tindakan kader Golkar yang melakukan aksi unjuk rasa dan penyegelan terhadap kantor DPD Golkar Sulsel.

Ketua FPG Andi Hatta Marakarma, menyesalkan aksi unjuk rasa kader Golkar yang menolak susunan pengurus yang dibuat oleh ketua terpilih. Dia berharap, seluruh kader Golkar Sulsel menyudahi konflik internal itu dan kembali merapatkan barisan mengembalikan kejayaan Golkar di Sulsel.

“Golkar Sulsel sudah Musda dan memilih secara mufakat Taufan Pawe sebagai ketua, sebaiknya jika ada perbedaan pendapat diselesaikan secara bijak,” kata mantan bupati Luwu Timur dua periode itu.

Hal yang sama juga disampaikan sekretaris FPG DPRD Sulsel, Ince Langke. Dia meminta semua kader Golkar fokus menghadapi Pilkada serentak 2020 dan Pemilu 2024. “Apa yang sudah diputuskan ketua terpilih, mesti didukung karena sudah mempertimbangkan semua aspek demi kebaikan Partai Golkar,” ujar Ince. (andibesse)