Diskrimun Polda Metro Tangkap Penipu, Modus Kejahatan Investasi Bodong

Konfrensi Pers Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus. Foto: Ist)
Penipu ditangkap – Maraknya kejahatan melalui modus pinjaman online dan investasi bodong, menjadi perhatian Polda Metro. Kasus investasi bodong dengan modus penipuan dengan menawarkan kemudahan dan keuntungan. “Maraknya laporan penipuan menjadi perhatian Polda Metro,” kata Kombes Pol Yusri Yunus. 
menitindonesia, JAKARTA – Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus, menyampaikan keterangan, Polda Metro berhasil menemukan pelaku kejahatan investasi bodong dengan modus tawaran investasi proyek tambang batu bara yang ternyata fiktif.
“Salah seorang pengusaha, ARN menjadi korban dan mengalami kerugian hingga Rp39,9 miliar,” ujar Yusri kepada awak media, di Mapolda Metro. Rabu (27/1/2021).
Aksi penipuan ini, kata Yusri, diotaki oleh pasangan suami istri DK alias DW dan KA. Tersangka DK mengaku mantan menantu salah satu petinggi Polri, agar korbannya percaya.
“Dengan begitu diharapkan korban percaya hingga mau menginvestasikan dananya,” kata Yusri.
Dari tujuh tersangka yang diamankan pekan ini, dua pelaku DK dan KA yang merupakan otak kasus ini dilakukan penahanan, sementara lima lainnya belum ditahan.
Sementara lima tersangka lainnya yang tidak dilakukan penahanan masing-masing FCT, BH, FS, DWI, dan CN, karena dianggap kooperatif.
“Kepada tersangka yang merupakan Pasutri dilakukan penahanan karena berperan aktif dalam melakukan penipuan, penggelapan dan menampung uang hasil kejahatan tersebut,” tuturnya.
Yusri menjelaskan penipuan yang dilakukan para tersangka pada korban dilakukan mulai Januari 2019 hingga akhir 2020. “Ada 6 proyek fiktif yang ditawarkan kepada korban untuk berinvestasi sepanjang 2019,” kata Yusri.
Proyek fiktif yang ditawarkan mulai dari beberapa proyek tambang batu bara hingga proyek pengurusan perparkiran di mall dan hotel.
Kasubdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Dwiasi Wiyatputera menyampaikan, karena perbuatannya para tersangka dijerat Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan atau pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan atau pasal 263 ayat (2) KUHP Jo Pasal 3,4,5 UU RI Nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
Untuk itu, Dwiasi mengimbau warga masyarakat agar berhati-hati dengan penipuan investasi, termasuk hati-hati meladeni penawaran melalui aplikasi online yang tidak terverifikasi.
“Masyarakat agar berhati-hati dengan janji manis investasi bodong (termasuk pinjaman melalui online) yang menawarkan kemudahan dan keuntungan,” tambah Dwiasi didampingi Kanit 2 Subdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Kemas Arifin.
Sebelum berinvestasi, sambung Dwiasi, agar warga mencari tahu investasi yang ditawarkan, jangan percaya begitu saja dengan janji untung besar dan selalu cari tahu tentang kapasitas yang menawarkan investasi ke OJK.
Sementara itu pengacara korban ARN, Albert Yulius dari kantor Yudha Dewi Setiawan Sihombing Law Firm menambahkan, kejadian di awal Januari, tersangka memperkenalkan diri sebagai mantan menantu petinggi Polri.
“Pengakuan itu membuat korban tertarik menanamkan uangnya untuk 6 proyek yang ditawarkan itu, hingga korban mengeluarkan dana sebesar Rp 39,5 Miliar,” sambung Albert.
“Pelaku mengaku memiliki banyak pengalaman di bidang bisnis perminyakan dan memiliki banyak proyek yang menjanjikan banyak keuntungan,” kata Albert.
Dijelaskan Albert, tersangka menawarkan kerjasama proyek tersebut kepada korban dengan menunjukkan worksheet proyek yang isinya penjabaran modal yang dibutuhkan dan keuntungan yang akan diraih.
Namun katanya korban mulai curiga pada akhir 2020, setelah keuntungan yang dijanjikan tidak ada dan tersangka sulit dihubungi, akhirnya diketahui semua proyek yang ditawarkan adalah fiktif. (a. ainun dwiyanti)

Sumber: RadarBuana.Com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini