Andi Pasamangi Wawo: Konfrenprov PWI Sulsel Selesai, Ocehan Dahlan Yang Benar Terima, Yang Salah Abaikan

Andi Pasamangi Wawao (kiri), Agus Salim Alwi Hamu, Altas S (kanan) - Agus Salaim Alwi terpilih secara aklamasi kembali memimpin PWI Sulsel dua periode.
Agus ‘oppo’ – Agus Salim Alwi Hamu, didapuk Konferensi Provinsi PWI Sulsel kembali menjadi ketua untuk kedua kalinya. Dinamika PWI Sulsel makin berkelas dan demokratis. “Perhatian publik terhadap PWI sangat besar, itu karena publik juga merasa memiliki PWI,” kata Andi Pasamangi Wawo.
menitindonesia, MAKASSAR – PWI Sulsel hari ini, dinilai mengalami banyak perubahan. Jauh beda dengan masa Departemen Penerangan tempo dulu. Sekarang PWI mendidik dan membina wartawan Indonesia menjadi insan pers yang profesional.
Pada saat Kongres PWI Sulsel digelar di Gammara Hotel, Sabtu-Minggu (30-31 Januari 2021), menghasilkan keputusan aklamasi: mendapuk Agus Salim Alwi Hamu kembali mengibarkan petaka PWI Sulsel Periode 2021-2026.
Hal tersebut, diungkapkan wartawan senior yang juga Ketua Dewan Penasehat PWI Sulsel Periode 2021-2026, Andi Pasamangi Wawo, pada saat usai hajatan Konferprov, di Makassar, Senin (1/2/2021).
“Pak Agus, telah berjuang keras menjadikan wartawan terutama Anggota PWI memiliki kompetensi, cerdas dan berintegritas,” kata Andi Pasamangi Wawo.
Andi Pasamangi mengaku, bahwa sebagai wartawan yang sudah lama berkiprah di PWI, ia merasa bangga melihat dinamika yang ada di PWI Sulsel saat ini. Menurutnya, PWI Sulsel telah bertransformasi menjadi wadah bagi wartawan, mendidik wartawan melalui uji kompetensi, dan membina sumber daya kewartawanan agar semakin profesional dalam menyajikan informasi publik yang benar dan terpercaya.
Sebab, kata Pasamangi, jika wartawan tidak memiliki kompetensi dan sumber daya manusia yang bagus, masyarakat bisa tersesat karena salah menerima informasi jurnalistik.
Dia juga menerangkan, bahwa transformasi PWI selama lima tahun terakhir di masa kepemimpinan Agus Salim Alwi, fokus menggenjot sumber daya wartawan melalui pengembangan SDM dan uji kompetensi. Setiap wartawan anggota PWI diwajibkan mengikuti uji kompetensi kewartawanan. Selain itu, Pasamangi juga menilai, Agus Salim berhasil menata organisasi PWI sebagai wadah yang menaungi seluruh wartawan.
“Karena dia punya prestasi, jadi wajar jika akhirnya wartawan dan publik melalui konfrensi provinsi kembali meminta Agus menjadi ketua, itu karena prestasinya, suka atau tidak suka harus diakui dan diterima,” ucapnya.
Sentilan Dahlan Abu Bakar
Terkait sentilan wartawan senior Dahlan Abu Bakar yang menyoal adanya kesalahan selama proses konferensi kemarin, Pasamangi menganggap itu hanya kritikan dari perspektif lain. Sebagai wartawan, kata dia, harus memiliki naluri rasa ingin tahu, melakukan investigasi untuk menemukan fakta-fakta, menguji kebenaran dari suatu fakta, mengolah dan menjadikan temuan sebagai informasi publik.
“Wartawan itu tidak boleh membuat informasi yang menyesatkan karena malas mencari tahu yang benar. Persepsi tanpa fakta beda-beda tipis dengan fitnah kalau persepsi dijadikan informasi publik. Ini yang menyesatkan,” katanya.
Sebelumnya, wartawan senior Dahlan Abu Bakar dalam unggahan artikelnya, meragukan hasil Konferprov berjalan secara demokratis. “Saya tidak tahu apakah SC harus memimpin sidang dan tidak ada lagi orang lain yang mampu melakukan pekerjaan ini? Saya tidak tahu, tetapi daripada repot-repot, rambu-rambu dan kelaziman berorganisasi dan bersidang sah-sah saja diabaikan dan dilanggar,” tulis Dahlan.
Pernyataan Dahlan itu, menurut Pasamangi Wawo, bertentangan dengan pernyataan Ketua PWI Pusat, Atal S Depari, yang menilai proses Konferprov PWI Sulsel ini sudah di real yang benar, berjalan secara demokratis dan lancar. Namun, dia memahami jika Dahlan Abu Bakar bersikap seperti itu karena sudah lama tidak mengikuti perkembangan dan dinamika PWI.
“Dimaklumi saja, masukannya yang benar diterima, yang tidak benar diabaikan saja,” pungkas Pasamangi. (andi ade zakaria)


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini