Rp40 M Untuk Museum Soekarno di Blitar dan 90 M Bangun Aula Megawati di Klaten, Dinilai Juga Menyileti Hati Rakyat

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Jawa Timur, Sri Subvianti. (Foto: Ist)
Sakiti rakyat – Renovasi Museum Soekarno di Blitar Rp40 miliar dan pembangunan Aula Megawati di Klaten yang menelan biaya Rp50 miliar dari total biaya 90 miliar tak pernah disoal legislator PDI Perjuangan Deni Wicaksono. Dia hanya menyoal pembangunan museum SBY-Ani di Pacitan dengan biaya Rp9 miliar. “Ini sudah menyakiti rakyat,” kata Deni Wicaksono
menitindonesia, SURABAYA – Renovasi museum Soekarno di Blitar melalui dana hibah dari APBD Jatim, dan Pembangunan Aula Megawati di Jalan Solo-Yogyakarta, Kabupaten Klaten, dengan total biaya Rp90 miliar, luput dari sorotan Anggota DPRD Jatim, Deni Wicaksono.
Bupati Klaten terpilih, Sri Mulyani, mengatakan pembangunan aula Megawati dengan biaya Rp90 miliar tersebut, hingga saat ini sudah menghabiskan dana sebesar Rp50 miliar.
Ribut-ribut pembangunan museum mantan presiden ini, mencuat dari mulut Deni Wicaksono, legislator PDIP Jawa Timur. Dia menilai pembangunan museum dengan biaya APBD sebagai bentuk pemborosan dan tidak tepat dilakukan di masa pandemi dan sangat menyakiti hati rakyat.
Deni Wicaksono menenyoal dana hibah Pemprov Jawa Timur melalui APBD Pacitan sebesar Rp9 miliar itu, untuk membangun museum mantan presiden ke 6 RI, Soesilo Bambang Yudhoyono.
Pernyataan Legislator PDIP itu, sangat disayangkan oleh Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Jatim, Sri Subianti. Dia menilai pernyataan Deni Wicaksonoitu, ibarat kata pepatah: “Menepuk air di dulang terpercik muka sendiri”.
“Kami tidak mempersoalkan adanya museum mantan presiden karena kita menghargai kebijakan daerah tempat presiden dilahirkan,” kata Sri Subianti, di Surabaya, Kamis (18/2/2021)
Justru Sri merasa heran atas sorotan PDIP terhadap pembangunan Museum SBY-Ani yang dianggarkan Rp9 miliar, sementara untuk museum Soekarno dan Aula Megawati yang menelan biaya puluhan miliar, tidak disebut-sebutnya.
“Kalau Demokrat mendirikan museum SBY-Ani di Pacitan, tentunya wajar karena di sana Pak SBY dilahirkan, sama dengan Soekarno, dibuatkan museum di Blitar karena di sana Pak Soekarno dilahirkan,” ujarnya.
Ditambahkan Sri Subianti, dalam museum SBY-Ani tersebut nantinya akan berisikan sejarah perjalanan hidup SBY sebagai Presiden RI ke-6. Di sana akan diisi diorama dan koleksi perjalanan hidup SBY mulai karir awal hingga memimpin RI selama dua periode (10 tahun).
“Semua harus mengakui kalau Pak SBY dua periode berhasil memimpin Indonesia. Sama dengan museum Pak Soekarno yang nantinya mengingatkan perjuangannya untuk negara ini bagi generasi penerus. Begitu juga dengan museum SBY-Ani juga akan menceritakan keberhasilan Pak SBY memimpin negara ini bagi generasi penerus,” ujar Sri.
Soal pembangunan Aula Megawati dengan biaya Rp90 miliar, tidak disoal oleh Fraksi Partai Demokrat, karena kata dia, Aula Megawati tersebut bisa digunakan untuk masyarakat dan juga mungkin bisa mengenang saat Megawati jadi Presiden RI ke 5, selama tiga tahun memimpin RI.
Sebelumnya, Anggota DPRD Jatim dari Fraksi PDIP, Deni Wicaksono, mengingatkan bahwa APBD adalah instrumen fiskal yang mestinya digunakan berdasarkan skala prioritas mengingat keterbatasan anggaran.
“Saat ini, yang urgen adalah membantu rakyat miskin, apalagi masih banyak kemiskinan di Jatim,” kata Deni kepada wartawan. (andi ade zakaria)


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini