Baliho pendukung IAS di Musda terpajang di area Musda. (Foto: Ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Aroma pertarungan Musda IV Partai Demokrat Provinsi Sulawesi Selatan semakin meruncing antara dua bakal calon Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel Periode 2021-2026, yakni Ilham Arif Sirajuddin (IAS) dan Ni’matullah Rahim Bone (Ulla). Musda akan dibuka oleh Sekjen Partai Demokrat, Teuku Rifky Harsya, Rabu 22 Desember 2021, besok.
Ilham Arief Sirajuddin yang mendapatkan surat dukungan dari pemilik suara sah, 16 DPC Partai Demokrat, telah mengesahkan surat dukungan itu ke notaris, Andi Sengeng Pulaweng Salahuddin, SH, MK.n, Selasa tanggal 21 Desember 2021.
Ke-16 DPC yang menotariskan dukungannya itu adalah Maros, Pangkep, Barru, Pare-pare, Pinrang, Wajo, Soppeng, Luwu, Luwu Utara, Palopo, Toraja Utara, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai.
Selain mendaftarkan dukungan mereka ke notaris, para Ketua DPC pendukung IAS tersebut mengizinkan gambarnya dibuatkan baliho yang dipasang di arena Musda IV Hotel Four Point, Jalan Andi Djemma, Makasssar, dengan tagline For IAS.
Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Wajo, Rahman Rahim, mengatakan ia bersama rekan-rekannya sebanyak 16 Ketua DPC semakin solid mendukung IAS di Musda IV.
Mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Wajo yang gagal lolos kembali ke DPRD Wajo di Pileg 2019 itu, juga berharap agar ikhtiar awalnya ini berujung pada kejayaan Demokrat.
“Kami harap ikhtiar ini berujung pada kejayaan Demokrat nanti,” kata Ketua DPC Wajo dua periode itu.
Sementara itu, Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel, Ni’matullah Rahim Bone. juga mendapatkan surat dukungan dari 6 DPC, yakni Makassar, Tana Toraja, Selayar, Enrekang, Luwu Timur, dan Bone ditambah dukungan dari DPD dan DPP Partai Demokrat.
Menurut Awaluddin Lasena, salah seorang pengurus DPD, mengatakan dukungan DPC sudah mengalir kepada dua calon, yakni IAS dan Ulla.
Sebahagian Ketua DPC yang mendukung IAS, kata dia, sudah dua periode menjabat Ketua DPC dan ada yang menginginkan kembali menjadi Ketua DPC untuk periode ketiga jika IAS kembali menjadi Ketua nanti. Misalnya yang sudah dua periode yakni Wajo, Maros, dan Parepare.
Sebagai catatan, untuk Maros, kata dia, ketuanya sudah dua periode, sejak itu demokrat kehilangan kursi dua kali Pemilu, dari empat kursi menjadi tiga kursi, lalu tersisa 1 kursi.
Sedangkan Ulla, bertahan dengan 6 DPC dan suara DPD serta DPP. Mereka adalah kader yang babak belur dihajar saat terjadi KLB di Sibolangi, karena mereka pasang badan menentang KLB tersebut.
Meski demikian, Awal Lasena juga mengaku tetap bersikap netral di Musda IV ini, karena ia menilai kedua kader yang berebut ketua DPD ini sama-sama memiliki potensi, baik IAS maupun Ulla.
“Siapapun yang dipilih Tim 3 DPP nanti, itulah yang terbaik, sebab Pak IAS maupun Pak Ulla sama-sama memiliki potensi. Pak IAS pernah menjadi ketua DPD setengah periode, dan Pak Ulla yang menggantikannya. Di saat partai terpuruk secara nasional karena diterjang isu korupsi, Ulla bisa meneruskan kepemimpinan IAS dan mempertahankan 10 kursi di Pemilu 2019 lalu,” ucap Awal Lasena.
Selain itu, Awal menambahkan, kalau sikap sejumlah Ketua DPC yang frustrasi pada Pileg 2019 karena tidak lolos, bisa dipahami kalau mereka menginginkan kembali mengelola partai ini pasca Musda, untuk mendapatkan kesempatan pada Pileg 2024.
“Dinamika pada Musda IV ini biasa saja. Apalagi penentuan Ketua DPD nanti dipilih oleh Tim 3 di DPP. Kalau dipaksakan voting, berarti AD/ART hasil Kongres ke V dilanggar. Kader Demokrat itu paham aturan partai dan meski ribut di arena, tapi di ujungnya nanti kembali menyatu,” pungkasnya. (roma)