Linda Salengke, Sosok Di Balik Suksesnya Musda Demokrat Sulsel

Ketua Panitia Musda IV Partai Demokrat Sulsel, Linda Salengke. (Foto: Ist)
menitindonesia, MAKASSAR РMusyawarah Daerah (Musda) ke IV Partai Demokrat Provinsi Sulawesi Selatan selesai digelar. Tak ada riak, apalagi gesekan. 24 Ketua DPC dari kabupaten dan kota, semua hadir, juga para petinggi partai yang ditugaskan DPP Partai Demokrat, tiba dan berangkat tanpa rintangan.  Petugas di Hotel Four Point By Sheraton, Makassar, pun lega. Jangankan keributan, sampah pun tak ada yang berserakan.
Musda ke IV Partai Demokrat Sulsel ini menjadi Musda paling cepat. Dibuka oleh Sekjen Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsyah secara durring, jam 11.00, dan ditutup oleh Ketua BPOKK, Herman Khaeron, Jam 14.00, di Four Point Hotel, Rabu (22/12/2021), kemarin.
Hanya tiga jam seluruh rangkaian Musda selesai. Mulai pertanggungjawaban pengurus — yang sempat diperdebatkan peserta — hingga penetapan dua calon ketua hasil pilihan peserta. 16 Suara mendorong Ilham Arif Sirajuddin (IAS) jadi calon, 9 suara mendorong Ni’matullah Rahim Bone. Syarat menjadi calon, minimal memiliki 20 persen dukungan pemilik suara.
“Keduanya melebihi angka 20 persen. Sehingga dua-duanya ditetapkan menjadi Calon Ketua DPD Partai Demokrat masa bakti 2021-2026. Kedua nama calon ini lalu diserahkan ke DPP untuk selanjutnya dilakukan fit and proper test sebelum dipilih satu orang menjadi ketua oleh Tim 3, yang terdiri dari Ketum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, Sekjen, Teuku Riefky Harsyah dan Ketua BPOKK, Herman Khaeron,” kata Ketua Panitia, Linda Salengke.
Linda adalah sosok di balik kesuksesan Musda Demokrat, yang tak hanya membuat DPP tersenyum lega. Petugas kebersihan dan keamanan hotel pun turut merasa lega. Tak ada keributan dan tak ada kotoran yang disisa pasca Musda digelar, meski tak kurang dari ratusan kader demokrat berjubel ingin mengetahui prosesi Musda secara langsung.
Tak salah mengangkat Linda Salengke sebagai Ketua Panitia. Dia memanaje jalannya Musda dengan kecerdasan emosional yang tinggi: terbuka dan selalu ramah. Ia aktif memberi informasi perkembangan Musda kepada pers.
“Sebagai Ketua Panitia, saya harus bicara, tegak lurus dengan aturan yang akan diterapkan. Komunikasi ke publik harus jelas arahnya. Pedomannya pada aturan partai, agar publik mengerti,” ucap Linda Salengke.
Meski kemampuannya memanaje konflik kepentingan dalam Musda sempat diragukan, Linda tetap yakin, semua konflik akan selesai sepanjang peserta masih bisa tersenyum. “Selama senyum peserta masih simetris, berarti emosinya masih bisa dikontrol,” ucapnya.
Istri dari Firdaus Deppu ini sangat  memahami, ada dua kubu yang sedang berseteru di dalam Musda: kubu Ulla dan kubu IAS. Peserta sudah terbelah ke dalam dua kubu itu.
“Panitia bersikap adil pada dua kubu ini. Melayani keduanya dengan tulus tanpa membawa agenda pribadi. Menyiapkan akomodasi, kamar hotel, konsumsi dan kebutuhan dalam sidang. Kami juga memberi pemahaman mengenai pedoman organisasi yang menjadi acuan pelaksanaan Musda. Dan semua tahapan dilakukan sesuai PO yang sah,” ucap Linda.
Sebagai Ketua Panitia, lanjut Linda, terlebih dahulu ia harus menyamakan persepsi dengan peserta, anggota panitia, pengarah supaya sama-sama memegang PO partai sebagai acuan Musda.
Selanjutnya panitia bertugas memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan dalam Musda, termasuk akomodasi dan logistik serta sarana dan prasarana Musda.
Selain hal tersebut, Linda juga aktif melakukan komunikasi publik melalui media massa agar informasi di luar tidak simpang siur.
“Adanya komunikasi yang lancar, akhirnya publik juga ikut paham aturan main dalam Musda. Jadi mulai peserta hingga masyarakat awam memahami alur Musda Demokrat. Jadi tak ada yang berdebat karena beda persepsi soal aturan, baik di ranah publik maupun di dalam arena Musda,” jelas Linda.
Selin itu, Alumni Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin ini, juga mengaku sangat memahami psikologi forum. Ia meyakini peserta yang terbelah dalam dua kubu itu, meskipun ada gesekan kepentingan, hubungan mereka tetap cair dan bersahabat.
“Buktinya, setelah berdebat mereka ngobrol santai di luar forum dan saling bercanda. Begitu juga dua calon, Pak Ulla dan Pak IAS, keduanya sudah seperti adik kakak. Jadi hubungan mereka dilandasi persahabatan yang tidak ingin saling mencederai. Tugas panitia merawat hubungan ini agar semua kader tetap kompak,” pungkas Linda. (roma)