Kisah “Loper Koran Jadi Jenderal” Dibedah Dalam Rakernas SMSI, Danjen Kopasus: Jenderal Dudung Bisa Menginspirasi Generasi Muda

Bedah Buku Loper Koran Jadi Jenderal di Rakernas SMSI. (Foto: Ist)
menitindonesia, JAKARTA – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), melakukan sesi bedah buku: “Loper Koran Jadi Jenderal – Seni Memimpin Jenderal Dudung”, di Markas Besar Angkatan Darat, Jalan Ir Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (21/7/2022), kemarin.
Buku yang mengisahkan pengalaman Dudung kecil semasa menjadi loper koran hingga memimpin Angkatan Darat itu, ditulis oleh Imelda Bachtiar.
Sosok Dudung Abdurachman menjadi fenomenal tatkala dia menjabat Panglima Kodam Jaya. Baru empat bulan menjalankan tugas, Dudung sudah mengepalkan tangannya dan berkata, “Siapa saja yang coba-coba ganggu persatuan dan kesatuan di wilayah Jakarta, akan saya hajar!”
Kalimat Dudung ini menggetarkan seantero Jakarta. Tak lama kemudian, dia mengirim tank dan pasukannya, menghajar seluruh baliho Habib Rizieq Shihab (HRS), yang baru saja pulang dari Arab Saudi setelah sekian lama buron.
Dudung tak gentar. Ia bersama pasukannya tak mau menyerah di hadapan gambar Habib Rizieq Shihab. Semua atribut yang berbau FPI, ormas pimpinan HRS, disobeknya.
Sikap tak ragu-ragu Dudung ini, kemudian menginspirasi pemerintah untuk membubarkan FPI. Ini juga menandai langkah awal menertibkan organisasi yang dipimpin HRS.
Nama Jenderal Dudung pun melejit. Ia disebut sebagai sosok jenderal yang berani dan tegas. Ketika persatuan dan NKRI merasa terancam, Dudung mengajak anak buahnya mengokang senjata, tampil paling depan menjaga NKRI.
 Komandan Jenderal Korps Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) Mayjen TNI Iwan Setiawan, yang menjadi penanggap dalam bedah buku tersebut, mengatakan keberanian yang ditunjukkan Jenderal Dudung saat menumbangkan Baliho FPI, perlu ditiru oleh para kawula muda Indonesia.
“Keberanian jenderal Dudung dilandasi untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia. Sikap kesatria ini perlu ditiru generasi bangsa ini,” kata Mayjen TNI Iwan Setiawan.
Lebih lanjut, Mayjen TNI Iwan Setiawan juga menerangkan terkait rekam jejak Jenderal Dudung bisa sampai sukses menjadi orang nomor satu di TNI Angkatan Darat.
“Jenderal Dudung adalah yatim sejak umur 12 Tahun. Dia juga anak ke 6 dari 8 bersaudara. Kami sama-sama anak PNS yang hidupnya dalam keterbatasan. Yang membuat saya lebih terharu adalah soal kerja kerasnya dalam mengejar cita-cita,” ungkapnya.
Komandan Pasukan Khusus ini, menuturkan, di masa kecilnya, Jenderal Dudung menghabiskan waktu 2 jam sehari untuk menjual koran. “Duit hasil loper koran, dia kumpulkan untuk bantu-bantu adiknya,” ucap Iwan Setiawan.
Dia pun berharap, agar sosok Jenderal Dudung yang berjuang dari nol itu, dapat menginspirasi dan menjadi motivasi bagi generasi bangsa ini.
“Jenderal Dudung berjuang dari nol. Dia pernah menjadi loper koran untuk cari uang agar bisa membantu saudara-saudaranya. Semangat hidup ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda,” ucapnya.
Bedah buku diikuti oleh seluruh peserta Rapimnas SMSI yang terdiri dari para pimpinan SMSI dari berbagai provinsi dan menghadirkan Emelda Bachtiar, penulis buku Loper Koran Jadi Jenderal – Seni Memimpin Jenderal TNI Dudung Abdurachman dengan pembahas Dr. (HC) Herwin Suparjo,S.Sos, SH, Mayjen TNI Iwan Setiawan (Danjen Kopassus), Ketua Dewan Pertimbangan SMSI Budiman Sudjatmiko dan Medrial Alamsyah. Dimoderatori oleh Mayor Jenderal TNI (Purn.) Wuryanto, S.Sos., M.Si
Usai Bedah Buku,  Ketua Dewan Pertimbangan SMSI, Budiman Sudjatmiko, menutup keseluruhan acara, Rapimnas SMSI.

Selain para pimpinan SMSI dari berbagai provinsi, hadir pula antara lain Ketua Umum SMSI Firdaus, Dewan Penasehat SMSI Ervik Ary Susanto,  Sekretaris Dewan Pakar SMSI Hersubeno Arief, Ketua Umum Forum Pemred Media Siber Indonesia Bernadus Wilson Lumi, Sekretaris Jenderal SMSI Mohammad Nasir, Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan SMSI Pusat Dr Retno Intani ZA, MSc, dan beberapa CEO perusahaan media antara lain CEO Bangun Media Grup Lesman Bangun. (andi esse)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini